Angga adalah salah satu gitaris yang cukup ikonik. Bukan hanya piawai dalam membuat riff keren, tampil prima pada saat perform live, dan merekam part-part gitar ajaibnya dengan sound yang berkarakter, Angga juga mampu bermain dan aktif di beberapa band secara sekaligus. Band-band tersebut juga aktif manggung, touring. Memiliki songlist yang banyak dan memiliki variasi genre yang cukup berbeda diantara satu sama lainnya. Mari berbincang dengan Angga mengenai gitar pertamanya, efek favoritnya dan tips bagaimana dia bisa menghafal part-part gitar sebanyak itu…

“Culture anak-anak band di Jepang rata rata kita harus dateng dari awal dan nonton sampai beres acara.”

Halo Angga! Apa kabar? Sedang sibuk menjalankan rutinitas apa saja nih diluar band? Untuk pembaca yang belum tau, bisa ceritain sedikit ga sekarang lo lagi aktif di band-band apa saja?
Haloo.. Alhamdulillah baik, gimana kabar nya team Jeurnals baik juga yah? Hehe..
Kalo diluar band saya kerja di Maternal Disaster sama jadi family man aja. Kalau band sekarang ada 5 hahaha, lumayan banyak.. Yang aktif sekarang ada: Asiaminor, Billfold, Suissac, Ssslothhh & Collapse.

Bagaimana awalnya Angga jatuh cinta dengan instrumen gitar? Apa gitar pertama Angga dan lagu apa yang membuat lo ingin menjadi gitaris untuk selamanya?
Awal nya karena di cekokin sama kakak sepupu, dari dengerin musik Nirvana, Soundgarden, sama Tool dan rata rata 90’s musik lainnya, dari situ mulai belajar ulik-ulik gitar, karena gitar instrumen yang paling umum juga kali yah, jadi nya belajar nya gitar. Gitar pertama dulu sempet custom bentuk nya Fender Jim Root, karena belum punya uang jadi nya dulu custom gitar nya hahaha. Awal dengerin lagunya Soundgarden yang Blackhole Sun langsung amazed sama riff-riff nya dari situ mulai deh pengen jadi gitaris.

Jika membicarakan Billfold, bisa ceritain ga bagaimana pengalaman tour ke Jepang kemarin? Ada experience unik disana? Bagaimana cerita prosesnya bisa diundang dan berangkat kesana?
Pengalaman nya seru banget, walaupun kita main nya memang di tempat-tempat kecil tapi dari segi alat nya semua nya proper banget. Kalau experiencenya jadi tau juga culture anak-anak band disana yang rata-rata kita harus datang dari awal dan nonton sampai beres acara, setelah beres acara ada kebiasaan minum bareng “Kanpai”. Untuk proses kita berangkat ke Jepang kita lihat ada band MUTE dari Kanada maen di Jepang, dan kita kontak teman-teman di Jepang untuk bisa jadi opening nya band MUTE, karena kita dapat 2 titik untuk jadi openingnya kita nambah dan cari 2 titik lagi. Sekalian liburan juga hehe.

Lo juga memperkuat Ssslothhh yang tadinya adalah formasi trio menjadi kuartet seperti sekarang. Bagaimana awalnya lo gabung sama Ssslothhh?
Awalnya karena memang saya suka sama musik SSSLOTHHH, dan memang saya ngga pernah maenin genre seperti itu, jadi tantangan dan experience baru buat saya. terus kebetulan karena memang semua kenal di ajak lah saya sama Dinar dan teman teman yang lain untuk mengisi part-part yang tadi nya ngga ada di musik Ssslothhh biar kerasa penuh dan tight.

Apa yang membuat lo mengiyakan ajakan Dika saat dia mengajak lo untuk bermain dan menjadi personil Collapse? Apa yang lo sukai dari musik Collapse sebelum dan sesudah lo bergabung?
Ya masa iya menolak ajakan nya Andika Surya, yang menurut saya dia jenius dalam hal apapun, apalagi di musik ya, terus memang saya sudah ngefans banget sama Collapse jadi langsung jawaban nya GOW ketika diajakin jadi personil nya Collapse. yang saya suka dari Collapse musik nya beragam aja, semua ada disitu, dari RnB, pop sama Metal juga ada yang diramu jadi musik nya Collapse.

Band baru lo, Suissac terdengar heavy, sedikit eksperimental dan catchy di saat yang sama. Bisa ceritakan sedikit proses pembuatan lagu sampai recording dari EP Magnanimous? Bagaimana awalnya lo dan Ekky mendapat ide untuk membuat sebuah band baru?
Proses nya lumayan cepat dalam pembuatan EP magnanimous, yang biasa nya saya punya Riff gitar langsung di kasih ke mas Ekky dan langsung digambar sama anak-anak yang lain, dan Alhamdulillah nya di bantu sama Aldead dari HEALS dan FUZZY I, yang dimana saya ngefans juga sama Aldead nya. Dan dia mau jadi produser di album EP Magnanimous ini, yang ngebuat musik nya jadi makin-makin hehe.. Kalau awalnya memang dari obrolan biasa pas ketemu nongkrong sama mas Ekky, yang sama-sama pengen buat band rock.

EP terbaru dari Asiaminor yang berjudul “Constellation” dirilis tahun 2023 kemarin. Part-part gitar lo di EP itu terdengar heavy dan teknikal di saat yang sama. Sound seperti apa yang lo cari untuk Asiaminor? Bagaimana lo mendapatkan sound heavy tersebut?
Pengennya Sound yang modern-modern heavy gitu sih, dapetin sound nya lumayan agak pusing juga, karena nyoba beberapa ampli sampe dapet yang kita mau. Dan akhir nya sesuai dengan apa yang kita mau untuk karakter sound nya.

Lo tergabung di beberapa band dengan genre nya cukup variatif. Apakah lo mengalami kesulitan untuk menghafal setlist dan songlist dari setiap band yang lo jalankan? Bagaimana cara lo untuk bisa transisi antar genre dan playstyle yang berbeda?
Kalau kesulitan alhamdulillah nya ngga ada sih, mungkin karena sering di mainin, kalau lupa-lupa ada hahaha.. Paling untuk transisi nya harus rubah settingan efek-efek gitar aja karena setiap band beda-beda settingan nya.

Membicarakan gear, bagaimana rig rundown lo saat ini? Apa efek dan gitar favorit lo saat ini? Apakah lo mempunyai notes setting efek untuk setiap band lo?
Kalau gitar beda-beda setiap band nya, karena tuning nya rata-rata berbeda. Kalau untuk efek, saya pake yang ada yang biasa saya pake, memaksimal kan yang ada untuk efek nya hehe. ada Tuner, Ibanez Ts9 DX, Bloody Pedal dari Maternal disaster, ada reverb Skylar, sama Delay nya Dl4 Line 6. Kalo Notes pasti ada karena tadi setiap band beda-beda settingan nya hehe..

5 album favorit Angga yang sangat mempengaruhi permainan gitar lo apa aja?
– Soungarden – Superunknown
– Tool – Lateralus
– Silverchair – Diorama
– Poison the Well – Tear From the Red
– Queens of the Stone Age – Songs for the Deaf

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photo by @darkofmoist & @jehan_alimathin

Luby Sparks adalah sebuah unit alternative-rock / dream pop yang didirikan di Tokyo pada tahun 2016. Setelah Erika Murphy bergabung dengan band ini pada tahun 2019, Luby Sparks semakin memperkuat estetika ‘90s nya dengan musiknya yang banyak mengambil influence dari ‘90s alt-rock acts dan juga tentunya tampilan visual dan karakter vokal Erika yang khas. Kami berkesempatan untuk mengobrol sedikit dengan Erika di showcase Luby Sparks yang diselenggarakan oleh Lisdia Records di Bandung. Let’s talk to Erika about MBV, NIN and The Crow…

Based on your profile pic, what do you like most about Brandon Lee’s The Crow film?
I love the world and the soundtrack so much.

You told me that you went to see My Bloody Valentine and Nine Inch Nails at Sonic Mania Chiba. What was your experience in that concert?
I went that day with the band member Natsuki (Kato, Luby Sparks bass player), Indonesian photographer Adi and Max from YUCK. Sonic Mania has live shows at night, so I was happy to see them at late night. I was shocked by both, but NIN’s live show was the highlight.

So Luby Sparks is a very interesting name. Do all of you really liked the movie Ruby Sparks?
I think I’m the only person who saw that film. I felt lots of male ego but I loved the story and Ruby’s personality.

Luby Sparks have a distinct 90s sound. What are your fav 5 bands from the 90s that really influenced you?
Mazzy star
Bikini kill
Alanis Morissette
Veruca Salt
Hole

What is the best things about the ‘90s era?
The fashion! And also lot of great female artists..

How about your experience playing a show at Acid Reflux Bandung? What Indonesian bands do you like?
It was awesome!!!!! I didn’t expect a lot of people to come! Already miss my Indonesian fans! Near-crush! I loved the alternative / shoegaze vibes.

What foods have you tried in Indonesia? Are there any favorites?
Nasi goreng! I tried a lot but I forgot the name sorry..

3 best places to shop thrift in Tokyo?
Laboratory R
MUD
Berberjin

Your top 3 favorite places to eat in Tokyo?
Awashima
Bowery kitchen
Rivera steak

Where do you get inspirations for your fashion style? What style do you try to emulate with your fashion sense?
Instagram? My icon is Alice Glass! I emulate like 90’s grunge style.. And Y2K sometime and also goth style.

 

Words & interview by Aldy Kusumah

Rambutnya berminyak dan kulitnya penuh dengan tato klasik. Saat melakukan backside boardslide atau drop-in impossible tailgrab, Dylan lebih memilih untuk memakai kaos putih polos, atau kemeja hitam. Saat difoto sebagai model fashion dia sering mengenakan jaket kulit dan membawa gitar Takamine akustik. Ya Dylan Rieder lebih terlihat seperti bintang film dan rockstar ketimbang skateboarder yang umumnya memakai streetwear dan graphic T-shirt ketimbang pakaian polos. Rambut pria ini juga selalu terlihat fresh karena ayahnya adalah seorang barber terkenal dan Dylan tidak pernah dicukur oleh orang lain selain ayahnya. Dylan Rieder secara fisik terlihat seperti gabungan antara Johnny Depp muda dan Kit Harrington dari Game of Thrones. Tentu saja, semua ini tidak akan mungkin terjadi jika Dylan Rieder tidak sangat berbakat, dan itu adalah hal yang paling dia pedulikan. Penampilan-nya di video Supreme tahun 2014, “Cherry”, adalah salah satu skate-parts terbaik berdurasi empat menit yang pernah kamu lihat, apalagi part dia dihiasi oleh lagu “Never Tear Us Apart” dari INXS.

Tentu saja dia juga sangat tampan, dan itu membuat peralihan dari skater ke model fashion menjadi sangat mudah bagi Dylan. Namun sebelum Dylan banyak tampil di iklan dan fashion spread majalah fashion besar, Rieder dipuja karena gaya pribadinya, yang terlihat secara sempurna melengkapi style skating-nya yang effortless dan keren. Meskipun banyak yang masih menganggap fashion skate sebagai jeans longgar, T-shirt oversized, dan rantai dompet, Rieder lebih sering terlihat dengan kaus yang dimasukkan ke dalam celana denim hitam slim-fit. Dia adalah seseorang yang menolak untuk mematuhi definisi yang tepat tentang bagaimana seharusnya menjadi seorang skater. Saat dia mendesain sepatu untuk Huf, hasilnya adalah sesuatu yang terlihat seperti sepatu kawinan ketimbang skate shoe atau sneakers. Tentunya, selain karir skateboardnya, Dylan Rieder juga mempunyai prestasi di dunia fashion dan modeling. Dylan banyak berkolaborasi dengan brand fashion ternama.

Pria yang lahir pada tanggal 26 Mei 1988, di Westminster, California ini mendapat pengakuan atas skill skating-nya yang luar biasa, ollie-nya yang tinggi dan style uniknya baik di dalam maupun di luar dunia skateboard. Karier skateboarding Dylan Rieder dimulai saat Dylan masih muda, dan dengan cepat dia dikenal karena gayanya yang smooth dan inovatif. Dia menjadi rider untuk berbagai brand skateboard, seperti Supreme, Alien Workshop, Osiris Shoes, Birdhouse, Fucking Awesome dan Quiksilver. Permainan skatingnya berada tepat diantara kombinasi trick technical, speed yang cepat dan estetika khas yang membedakannya dari banyak skateboarder lainnya. Tragisnya, Dylan Rieder meninggal dunia pada 12 Oktober 2016 di usia 28 tahun akibat komplikasi leukemia. Kematiannya yang terlalu dini merupakan kerugian besar bagi komunitas dan dunia skateboard. Dylan Rieder dikenang atas kontribusinya pada skateboarding dan fashion. Pengaruh Rieder melampaui kehebatan teknisnya dalam bermain skateboard; gaya dan pengaruhnya meninggalkan warisan abadi. Bahkan dia disebut sebagai skateboarder paling stylish oleh beberapa media. Siapa yang akan melupakan skate-part Dylan di Alien Workshop “Mindfield” dengan soundtrack Elliott Smith? Rest in power, Dylan.

Ini adalah beberapa video Terbaik Dylan Rieder favorit kami:

Supreme – Cherry

Alien Workshop – Mind Field

Gravis – Dylan

;

Dylan Rieder: True Blue

Street League best of 2013: Dylan Rieder

Cakra, yang mengadopsi moniker Sarcofagore dalam setiap karya-karya ilustrasinya adalah seorang ilustrator asal Bandung. Karya-karya ilustrasi Sarcofagore dapat kamu lihat menghiasi design beberapa brand dan band yang sudah berkolaborasi dengannya. Cakra juga ter-influence dan mengagumi ilustrator-ilustrator seperti Kim Jung Gi (RIP),
Paolo Girardi & Vberkvlt (Justin Bartlett, RIP). Selain mengerjakan ilustrasi, Cakra juga menjadi gitaris dari Haul. Mari berbincang dengan Sarcofagore mengenai Linkin Park,dan memakai Fender Stratocaster untuk memainkan musik metal.

“Haul itu anak haramnya Autopsy dan Hawkwind yang lahir di era 70an.”

Halo Cakra. Sudah berapa lama menggunakan moniker Sarcofagore? Ide awal lo menggunakan moniker itu dari mana? Bisa ceritakan sedikit tentang ketertarikan lo sama dunia ilustrasi?
Sekitar 2016-2017 , pengen punya arsip / dokumentasi digital buat gambar gambar gue, Ide awal karena saat itu gue lagi terobsesi sama band extreme metal asal Brazil, Sarcofago. Gue selalu senang menggambar sejak anak anak, ketertarikan sama dunia Ilustrasi, tampaknya mulai saat remaja gue pernah menggambar ulang cover art Sepultura: Chaos AD dan Linkin Park: Reanimation sampai beres.

Lo juga menjual merch dengan handle “Sulphur Entity”. Produk-produk apa saja yang sudah lo rilis dan sedang lo develop?
So Far ada Pin Enamel, Tshirt, dan Poster Sablon! gue berencana collab sama salah satu kawan illustrator dalam waktu dekat, belakangan ini gue lagi ngulik sculpture juga sih, we’ll see karena Sulphur Entity ini nggak punya perencanaan yang matang haha!

Berbicara mengenai Haul, bagaimana awalnya lo bergabung dengan Haul? Perubahan signifikan Haul apa saja semenjak lo bergabung?
Awalnya Kenny ngajak gue buat gabung sekitar tahun 2018-an, Tadinya gue prefer bikin band baru saja karena gue gak pengen terlalu “kompromi” sama banyak “ide” kalau bergabung dalam satu band, haha! Tapi setelah itu, kami sepakat. Haul berangkat sebagai band Hardcore Punk yang Hybrid, jadi gue gak ngerasa terbatas buat numpahin ide. Paling Obvious tampaknya Riffs gitar (karena Haul emang band yang gitar based dan mengalami pergantian gitaris).

“Saat remaja gue pernah menggambar ulang cover art Sepultura: Chaos AD dan Linkin Park: Reanimation sampai beres.”

5 album yang paling berpengaruh buat lo apa saja dan kenapa?
Pertanyaan sulit.
Motorhead – Rock ‘N’ Roll (1987) –
Deep Purple – Burn (1974)
Autopsy – Mental Funeral
Slayer – Reign In Blood
Discharge – Why

Berpengaruhnya menurut gue, 5 album ini bisa jadi yang ngebentuk Mindset, Mental, Personality, dan Selera Artistik (secara Visual dan Musik tentunya).

 

5 ilustrator favorit lo siapa saja dan kenapa?
Kim Jung Gi (RIP) karena Imajinasi dan Skill beliau sangat sinkron dia bisa jadi sangat imajinatif tanpa mengabaikan pentingnya skill teknis.

Paolo Girardi Cover karyanya selalu tepat sasaran dan sinkron sama musikalitas band band yang digarapnya, selain itu gue suka dengan mentalitas warriornya, Heavy Metal! haha!

Ian Miller punya karakter yang sangat kuat, garis, dan detail yang impresif, gue bisa diem ngeliatin karyanya dia berlama lama

Vberkvlt ( Justin Bartlett, RIP) gue suka banget sama ide dan eksekusinya yang nggak pernah main aman, selain itu dia sangat supportive ke illustrator yang lebih muda.

ROK : Selain karya karyanya yang Luar biasa, gue appreciate karena dia seorang maniak yang kelihatannya nggak pernah Kompromi sama keadaan! Skena Metal saat ini butuh lebih banyak sosok kayak dia menurut gue

Bagaimana proses pembuatan EP Adamar dari pembuatan lagu sampai mixing? Apakah menyenangkan prosesnya?
Sebelum merekam, kami melakukan beberapa kali studio jamming dan workshop di beberapa studio dan tempat.

Ketika terjadi pandemi, Kenny berinisiatif untuk mengajak Alyuadi sebagai produser. Rencana awalnya adalah merilis full album. Namun akhirnya kami putuskan untuk menulis tiga lagu baru dan merilisnya sebagai EP Adamar. Prosesnya sangat impulsif, Basically setiap minggu kami merekam riffs dan merekam Guide bersama di Cidamar (Home Recording milik Alyuadi), sebelum merekam merekam tiga lagu tersebut di Funhouse Studio. Pastinya ada rintangan teknis karena alat kami tidak proper untuk rekaman (kecuali drum milik dawan) . Sewaktu terjadi pandemi, buat sekedar nongkrong aja terasa aneh kan, Buat gue pribadi, gue jadi bisa lebih menghormati waktu sehingga proses menulis dan merekam EP ini menjadi escapism yang sangat menyenangkan. Panjang gini haha!

Gear yang lo pake buat live dan recording apa saja? Dan kenapa memilih gitar/efek/ampli tersebut?
buat live pakai Fender Aerodyne II HSS stratocaster, pedal: Bogner Uberschall, Maxon OD-9, Digital Delay, Noise Supressor dan Tuner pakai Boss. Selain visual dan karakter sound, gue suka playabilitynya Fender yang versatile.

Waktu rekaman gue pakai Fender Jazzmater dan ampli JCM 800 kerry king. Beberapa part ada yang pakai Gibson Les Paul Deluxe 70’s buat eksplorasi.

Basically gue seneng sound gitar yang crunchy, ciri khas band band heavy rock / proto heavy metal 70-80an kayak Black Sabbath, Early Iron Maiden, tapi tetep Metal tanpa harus terlalu Tajem dan Tight kayak band band modern metal.

Imajinasinya , Haul itu anak haramnya Autopsy dan Hawkwind yang lahir di era 70an

Pertanyaan terakhir: beberapa portfolio ilustrasi favorit lo pas mengerjakan brand/band apa saja? Ada wishlist ingin kolaborasi dengan siapa aja yang belum terealisasikan?
Pertanyaan sulit,

Beberapa karya fav gue based on prosesnya karena pengalaman mengerjakan yang beda. Kolaborasi bersama illustrator lokal Mfaxii untuk Masakre, Kolaborasi bareng Justin Bartlett untuk proyek tribute to Vberkvlt, cover album untuk EVIL (Black/Thrash asal Jepang ) karena ini ngerjainnya sangat cepat haha!, dan beberapa kolaborasi bersama Carbon Pvnk studio.

wishlist yang belum terealisasikan justru lebih banyak buat ngelanjutin karya karya yang sifatnya personal, kalau kolaborasi mungkin ngerjain cover album atau merchandise untuk band yang sangat besar dan populer misalnya Metallica! Walau gue nggak terlalu ngejar dan mikirin juga sih haha!

Words & interview by Aldy Kusumah

Unit Modern Hardcore asal Bandung, DEVDAN, merilis single terbaru mereka yang berjudul “Tales Of Sin” pada tanggal 14 April 2024. Single ini telah tersedia untuk didengarkan melalui berbagai platform streaming digital. Dalam karya terbarunya ini, DEVĐAN berkolaborasi dengan Mustika Kamal, seorang vokalis perempuan yang juga dikenal sebagai vocalis di band-band seperti Billfold dan CVNDY.

“Perilisan single terbaru ini adalah salah satu langkah bagi DEVDAN untuk tetap produktif serta menjadikan mereka bagian dari berbagai kegiatan yang direncanakan pada tahun 2024, termasuk tur, perilisan video musik, dan album baru,” ujar Yuwan, bassist dari DEVDAN.

Dengan durasi 3 menit 12 detik, lagu ini masih mempertahankan nuansa Modern Hardcore khas DEVDAN dengan liriknya yang menggambarkan konflik internal setiap individu antara rasa bersalah dan hasrat yang sulit dipendam, menyoroti sisi gelap yang selalu mengintai di balik kehidupan manusia.

Karya monumental Sofia Coppola yang di shoot dalam waktu singkat
Siapa sangka sebuah film “indie” yang di shoot dalam waktu 27 hari secara gerilya (tanpa izin) di Tokyo dengan kru yang dan peralatan yang minimal dan seadanya bisa menjadi sebuah film yang mencapai status cult bahkan memenangkan berbagai penghargaan? Lupakanlah “The Virgin Suicides”, “Marie Antoinette” The Bling Ring” atau “On the Rocks”, karena “Lost in Translation” adalah puncak karir Sofia Coppola (menurut saya). “Lost in Translation” adalah film tahun 2003 yang disutradarai oleh Sofia Coppola (Anak dari sutradara legendaris Francis Ford Coppola, pembuat film Godfather). Film ini dibintangi oleh Bill Murray (Ghostbusters), Scarlett Johansson (The Avengers), Giovanni Ribisi dan Anna Faris dan berkisah tentang kisah persahabatan platonik tak terduga yang berkembang antara aktor Amerika paruh baya, Bob Harris (diperankan dengan pas oleh Bill Murray), dan seorang wanita muda, Charlotte (diperankan oleh Johansson), di Tokyo. Film ini mengeksplorasi tema kesepian, alienasi, koneksi, dan dislokasi budaya saat kedua karakter tersebut menavigasi lanskap Tokyo yang asing dan terkadang membuat mereka terisolasi secara kultural dan bahasa. Ceritanya diceritakan dengan nada yang tenang dan introspektif, memungkinkan para karakter untuk mengekspresikan rasa keterasingan meski dikelilingi oleh kota yang ramai dan semarak. “Lost in Translation” menerima pujian kritis atas penyampaian cerita yang low-key, sinematografi atmosferik, soundtrack keren dan penampilan para aktor utamanya. Bill Murray secara khusus dipuji atas perannya, memberinya beberapa nominasi penghargaan dan Penghargaan Golden Globe untuk Aktor Terbaik. Uniknya, beberapa scene disini di shoot dengan gaya improvisasi dan minim skrip dialog. Dan ini memberi ruang bagi Bill Murray dan Scarlett Johansson untuk bersinar.

Memenangkan piala Oscar
Sofia Coppola sendiri memenangkan Academy Award untuk Skenario Asli Terbaik untuk film tersebut, menjadikannya wanita ketiga yang pernah memenangkan penghargaan ini. Filmnya sendiri juga masuk nominasi beberapa Academy Awards lainnya, antara lain Film Terbaik, Sutradara Terbaik untuk Coppola, dan Aktor Terbaik untuk Bill Murray. Meskipun tidak menang dalam kategori-kategori ini, “Lost in Translation” tetap menjadi film yang diakui secara luas dan berpengaruh di sinema kontemporer. “Lost in Translation” telah dipuji secara luas oleh para kritikus dan penonton karena perpaduan unik antara humor, melankolis, dan introspeksi. Uniknya, film ini lebih menekankan pada mood yang dibangun oleh sinematografi-nya ketimbang menitikberatkan bobot film di ceritanya. Menonton film ini seperti sedang mengkonsumsi sebuah album MBV tanpa jeda, dan memang ada sebuah lagu MBV dan beberapa lagu yang disumbangkan oleh Kevin Shields disini.

Direksi unik Sofia Coppola dan improvisasi Bill Murray
Direksi dan skenario Sofia Coppola sering dipuji karena tema-temanya yang unik. Film ini tidak mengandalkan dialog yang berat atau skenario yang eksplisit. Sebaliknya, ia menangkap esensi emosi karakter dan suasana sekitarnya melalui momen-momen yang bernuansa dan adegan-adegan yang meditatif. Film ini juga tergolong slow-burn dengan alurnya yang lambat dan moody. Karena itu juga chemistry antara kedua aktor utamnya sangat penting di film ini. Bill Murray dan Scarlett Johansson memberikan penampilan yang luar biasa. Murray, khususnya, terkenal karena perannya sebagai Bob Harris, yang menghadirkan perpaduan sempurna antara humor dan kerentanan pada karakter tersebut. Johansson, dalam salah satu peran awalnya yang terkenal, melengkapi penampilan Murray dengan penggambaran Charlotte yang bersahaja dan menarik. Sinematografi dari DOP Lance Acord sering dipuji karena menangkap keindahan Tokyo dan menciptakan suasana yang dreamlike dengan warna-warna neon, kekosongan hotel Prak Hyatt Tokyo, kuil-kuil Kyoto yang dingin dan menangkap rasa sepi dan ramai disaat yang sama. Visualnya membantu menyampaikan perasaan dislokasi karakter dan perbedaan budaya antara negara asal mereka dengan Tokyo. Film ini juga memberikan eksplorasi unik tentang perbedaan budaya dan keterasingan yang mungkin timbul karena berada di tempat asing. Ini kontras dengan lingkungan Tokyo yang serba cepat, modern, dan terkadang membuat pribadi para karakter di film ini dekat dengan perasaan terisolasi.


Musik yang membangun mood dan narasi
Soundtrack film, yang menampilkan musik oleh Kevin Shields dan berbagai artis seperti Death in Vegas, Phoenix, Squarepusher, Sébastien Tellier, dan Happy End. The Jesus and Mary Chain menyumbangkan lagu yang pas untuk ending film bittersweet ini dengan “Just Like Honey” dan “Sometimes” dari My Bloody Valentine tampil sangat ikonik dengan latar visual Scarlett Johansson yang sedang mabuk melihat gedung-gedung neon dari jendela taxi. Soundtrack Lost in Translation ini terkenal karena kualitas atmosfer dan pemilihan lagu yang sangat sesuai dengan mood film. Musik-musik ini melengkapi narasi dan berkontribusi terhadap dampak emosional film. Jangan lupakan juga scene dimana Bil Murray karaoke menyanyikan lagu Elvis Costello yang ikonik: “(What’s So Funny ‘Bout) Peace, Love, and Understanding” dan tentunya “More Than This” milik Roxy Music yang menampilkan sebuah scene yang cukup sentimental. Scarlett Johansson juga menyanyikan lagu Pretenders yang terkenal: “Brass in Pocket”. Scene karaoke tersebut diakhiri oleh sebuah adegan awkward dengan lagu Happy End di latar. Sofia pun meningkatkan intensitas dengan memasangkan lagu “Too Young” milik Phoenix dengan sebuah scene dimana Bob Harris dan Charlotte berdansa di sebuah house party yang dipenuhi para penggiat fashion Tokyo. Oh iya, jika kamu memperhatikan dengan seksama, ada sebuah lagu Peaches (yang tidak masuk soundtrack) yang dimainkan di sebuah scene sebuah sex club yang dihadiri Bob Harris.

Lost in Translation: Sebuah karya monumental
Overall, tema Isolasi dan koneksi adalah menu utama yang ingin disampaikan Sofia di “Lost in Translation”. Sofia menyelidiki tema universal tentang kesepian dan pencarian koneksi, yang menurut kabar idenya diambil dari hubungan Sofia dengan mantan kekasihnya Spike Jonze (sutradara video musik terkenal) pada saat mereka sedang di Tokyo. Perjalanan emosional para karakter dan ikatan yang terbentuk di antara mereka bergema di hati penonton, dan karena relate dengan banyak penonton di seluruh dunia, film ini pun mendapat status yang cukup cult. Meskipun “Lost in Translation” mendapat banyak pujian, beberapa kritikus mencatat bahwa narasinya yang lambat dan halus mungkin tidak disukai oleh mereka yang lebih menyukai penceritaan yang lebih tradisional dan bertempo cepat. Namun, dampaknya terhadap dunia sinema dan kemampuannya membangkitkan emosi yang tulus telah memperkuat posisinya sebagai film klasik modern. Walaupun banyak film independen bergenre tragicomedy di era 2000an memiliki style yang hampir sama, menurut saya pribadi, film ini cukup unik dan untuk mendapatkan experience menonton yang spesifik seperti ini, hanya di film “Lost in Translation” saja saya dapat memuaskan dahaga yang spesifik ini.

Words by Aldy Kusumah

 

Miracle Mates adalah sebuah brand yang menginkorporasikan kultur hip hop dan street fashion dengan semangat gerilya next-gen. Fadli Maulana mendirikan brand ini dengan darah, keringat dan (mungkin) air mata. Dia merintis Miracle Mates sejak duduk di bangku SMA dengan modal seadanya, dan mengerjakan semuanya sendiri: dari packing, foto produk sampai COD dengan pembeli. Simak interview JEURNALS dengan Fadli Maulana dibawah ini..

“Membangun Miracle dari titik terendah banget, dari modal 500 ribu, terus uangnya diputar terus sampai saat ini. Dulu semua dikerjain sendiri kecuali design.”

Halo Fadli, Bisa ceritain sedikit ga ke pembaca awal histori Miracle Mates dari awal sampai sekarang?

Awalnya dibuat pada tahun 2014, waktu itu saya masih kelas 1 SMA. Kenapa bikin Miracle karena memang suka fashion dan suka belanja brand-brand lokal, kepikiran aja kenapa ga bikin sendiri daripada beli brand orang lain terus. Dan salah satu yang menjadi trigger saya untuk buat brand itu Maternal Disaster, waktu itu mereka lagi naik-naiknya dan keren aja pas aku lihat mereka tuh. Dari 2014 alhamdulillah Miracle bisa bertahan sampai sekarang..

Pada awalnya Lo juga sempat mengerjakan semua aspeknya sendiri ya? Dari design, foto, admin sampai delivery?

Segala macem aku emang sendiri pas awal, dari packing, foto sendiri, upload foto ke IG, dulu tuh jualan masih di IG belum ada Shopee. Aku COD-an pake motor kesana-kemari sendirian, jadi aku yang samperin customer. Ngebangun Miracle dari titik terendah banget, dari modal 500 ribu, terus uangnya diputar terus sampai saat ini. Dulu semua ngerjain sendiri kecuali design, ada temen yang bikin..

Di koleksi “Mess in Balance” Miracle brekolaborasi dengan Hecate. Kenapa memilih Hecate sebagai kolaborator? Dan bagaimana ceritanya membuat runway fashion secara independen tanpa sponsor?

Kenapa memilih Hecate karena itu yang market inginkan, banyak yang request Miracle collab sama Hecate. Karena aku kenal sama ownernya akhirnya kita ngobrol dan berkolaborasi. Awalanya kita bikin runway itu adalah ide gila 2 anak muda. Pada saat itu saya juga masih 22 tatau 23 ahun, kita dulu ga mikir budget nya berapa dan untung-ruginya, yang penting ambisi kita terpenuhi pada saat itu tuh untuk bikin runway. Persiapan sekitar 2 bulan terus jadi tanpa planning yang matang, serba ngedadak nyari tempat, model dan bikin koreo juga sendiri sampe musiknya. Benar-benar melelahkan dan budgetnya lumayan ternyata, tapi allhamdullilahnya produk laku keras dan banyak yang suka sama runwaynya. Modal balik dan cuan juga hahaha..

Inspirasi fashion terbesar Lo dari mana saja?

Stussy dan Corteiz. Kalau Stussy suka udah lama karena dia kan streetwear tertua, dan movement nya bagus, support komunitas-komunitas dan sampe sekarang masih ada, kan itu ga gampang. Kalau Corteiz tuh aku sukanya karena dia konsepnya jalanan banget, geng-geng gitu, design nya simple-simple tapi oke. Aku juga lagi mulai mengarahkan Miracle kesana secara konsep, branding, dan suka juga personal branding ownernya.

Top 5 fashion items wajib versi lo apa aja?

Kalau yang wajib punya: topi itu barang wajib kalau rambut lagi jelek. Sepatu yang menurut aku wajib punya tuh Converse, walaupun banyak yang mahal dan keren-keren tapi Converse itu wajib untuk penampilan santai. Harga terjangkau tapi masih keren. Jam, aku suka banget pakai jam jadi kemana-mana waji pakai jam. Hoodie juga wajib banget, dalam seminggu pasti 3-4 kali pakai hoodie. Yang terakhir apa ya.. Kacamata karena mata aku minus jadi kacamata sangat penting buat aku. Aku suka Effector Eye Wear.

Bagaimana pendapat Lo mengenai trend harga coret? Apakah value sebuah brand akan menurun jika melakukan nya? Dan apakah trend ini secara jangka panjang akan merusak ekosistem industri fashion lokal?

Sebenarnya saya sangat kecewa dengan trend harga coret di Indonesia ini, karena brand berlomba-lomba menjual barang dengan harga murah. Aku tuh pengen brand kaya dulu, tanpa harga coret kita bisa jualan. Karena banyak brand-brand lain menggunakan harga coret mau ga mau untuk mempertahankan Miracle aku juga harus pake cara itu, walaupun gak semua produk harga coret, cuma ada beberapa produk yang kita tumbalin jadi harga coret agar bisa bersaing dengan brand lain. Sebenarnya dalam hati aku gamau ada trend ini, aku pengen brand kaya dulu lagi, branding nya lebih ke bikin acara, aktivasi lebih sering, daripada bakar iklan dan jual produk murah. Aku sebenernya ga setuju sama itu sih. Sepertinya trend ini bakal jangka panjang soalnya udah banyak pemain besar yang ikutan. Paling buruknya orang-orang cuma beli produk kita karena diskon, pas ga ada diskon ga dibeli.

Tentunya tidak ada yang 100% original di era kontemporer ini, beberapa brand meleburkan berbagai referensi, influence dengan style mereka sendiri sehingga menciptakan karya atau entitas baru. Tetapi ada beberapa brand yang sedang ramai karena meniru “plek-plekan” dan meng-glorifikasi kultur bootleg. Bagaimana opini atau pendapat pribadi Lo soal ini?

Menurut aku meniru atau menjadikan sesuatu dari inspirasi adalah hal yang wajar. Tapi yang salah tuh yang sama sekali ga dimodifikasi. Jangan ditiru plek-plekan sih. Karena memang udah ga ada yang original di dunia ini. Jaman sekarang udah ga mungkin ada yang otentik dan original, pasti semua terinspirasi oleh sesuatu, kecuali mungkin Nike dan Adidas pas jaman dulu. Bagaimana kita pinter-pinter memodifikasinya aja..

Music of Miracle sempat membuat event “Sounds for Palestine” bulan Desember tahun 2023, dengan hasil tiket yang di donasikan ke Palestina. Bagaimana konflik Palestina ini menurut opini pribadi Lo? Apa yang bisa dilakukan para individu / brand / musisi lakukan untuk membantu sesuai porsinya? Dan kenapa memilih line-up pengisi acara yang lumayan eclectic?

Aku sangat kasihan melihat orang-orang di Palestina sama-sama manusia tapi tidak mendapatkan kelayakan hidup seperti kita yang tinggal di Indonesia. Mau makan, minum dan sekolah aja susah. Mereka juga kayak hidup bahagia. Salah satu triggernya ya itu jadi bikin acara donasi itu. Kalau ingin membantu lakukan aja dengan apa yang kita bisa. Karena aku punya brand ya cara donasi nya seperti itu membuat event donasi. Yang kerja di rumah juga bisa donasi seikhlasnya kemanapun. Kita membantu tapi jangan memaksakan dan harus ikhlas juga. Kalau soal lineup eklektik karena menurut aku semua genre musik itu gak ada yang bagus dan jelek, aku menyamaratakan semua genre musik mau punk, hardcore, jazz atau hiphop ya aku suka dan semua juga bisa berdonasi. Bukan berarti genre pop gak keren atau apa. Semua orang-orang hebat yang mau berkarya, dan Miracle itu sangat support musisi-musisi baru yang baru merintis dan berkarya.

Di koleksi terbarunya “Against the World” Miracle Mates berkolaborasi bersama 10 kolaborator untuk merayakan 10 tahun Miracle berdiri. Salah satunya bersama SNS-B dan mencoba mengangkat kultur hiphop. Apa korelasai “Against the World” dengan kultur hiphop? Dan bagaimana lo mengaplikasikan itu pada design-design artikelnya?

Kaitan Against the World dengan kultur hiphop itu karena kultur hiphop kental dengan perlawanan, kata-kata dan design juga kita bikin bold biar simple dan nyampe pesan nya. Konsep foto pun dibuat serius, dari model dan pemilihan musik kita pake anak hiphop dan musik hiphop. Aku juga gak akan berhenti untuk membuat acara dengan tema hiphop di kota Bandung karena ingin mengangkat scene hiphop juga. Aku ingin me-represent hip hop.

Pertanyaan terakhir: video sketch Lo mengendarai skateboard berbentuk sajadah itu cukup epik. Dari mana awal idenya membuat skateboard berbentuk sajadah? Ada cerita lucu dibalik shooting dan konsepnya mungkin?

Video yang sempet viral itu video Alladin ya haha.. Aku lihat ada Youtuber luar bikin video kaya gitu pas era covid. Aku kebetulan punya longboard electric, kepikiran pengen bikin rangka sajadah ditempel longboard aku dan bikin di Cimahi. Iseng posting di IG taunya banyak di repost akun-akun besar di sosmed, dan sampe diundang ke acara TV, jadi mungkin orang-orang pada penasaran gimana caranya dan mungkin itu sesuatu yang unik aja hehe.. Padahal aku awalnya iseng aja pas era covid..

Words & interview by Aldy Kusumah