Dari film-film kelas Oscar, art-house, film horror independen, animasi, sampai action film action, menghiasi deretan film-film favorit JEURNALS untuk tahun 2023 ini yang sangat bervariasi. Ini adalah beberapa film yang sangat stand-out di tahun ini.

The Killer (Dir. David Fincher)
Michael Fassbender berperan sebagai pembunuh bayaran yang akhirnya menjadi target setelah pekerjaannya gagal. Sebuah thriller prosedural dari David Fincher (Seven, Fight Club, Gone Girl) yang presisi selalu menarik untuk ditonton. Fassbender dengan piawai memainkan seorang pembunuh bayaran yang dingin dan penuh kalkulasi. Melihat Fassbender melakukan gerakan yoga sambil mendengarkan The Smiths di film ini sangat menghibur dan meresahkan di saat yang sama.

Barbie (Dir. Greta Gerwig)
Anda tidak akan menemukan kritik terhadap pabrik mainan Mattel dalam Barbie karya Greta Gerwig, namun ada pesan-pesan self-empowerment, kritik terhadap budaya patriarki dan sedikit feminisme yang penting untuk diamini para penonton wanita dan para ayah yang mempunyai anak perempuan. Beberapa lelucon Greta lucu (Stephen Malkmus dan Pavement di-mention Ryan Gosling di sebuah dialog dan cuma saya sendiri yang tertawa di bioskop) dan ada beberapa yang cringe, tetapi tempo film yang cepat dan keberhasilannya untuk menampilkan hal-hal spektakuler membuat film ini fun untuk ditonton. Akting penuh komitmen Robbie dan Gosling membuat film ini tetap bertahan sampai end-credits akhir. Berdasarkan hukum karma box-office, setiap daftar film-film terbaik 2023 yang menyertakan “Oppenheimer” karya Christopher Nolan juga harus menyertakan Barbie karya Greta Gerwig, dan sebaliknya. Bagi siapa pun yang hidup hingga tahun 2023, keduanya akan selamanya bersatu dalam sebutan “Barbenheimer”. Barbie bahkan bukan film Greta Gerwig favorit saya (Little Women!!) — Tetapi apa pun yang dilakukan Gerwig selanjutnya, akan saya tonton dan tentunya akan saya tunggu.

Suzume (Dir. Makoto Shinkai)
Angin puyuh monster bertentakel, portal antar dimensi, dan kursi berbicara membentuk dunia fantasi supernatural yang menakjubkan dari sutradara Your Name & Weathering With You ini. Lupakanlah era emo Makoto Shinkai dalam “5 Centimeters per Second” dan “Garden of Words”, disini imajinasi Shinkai akan menyajikan visual yang sangat indah dan superficial. Tetapi momen-momennya yang lebih membumi tetap sama indahnya.

Talk to Me (Dir. Danny & Michael Philippou)
Horor remaja era media sosial ini menarik perhatian dengan bantuan tangan keramik jahat yang memungkinkan makhluk hidup dirasuki oleh roh tanpa tubuh. Sebuah ide yang segar dan eksekusi yang sangat efisien, “Talk to Me” berhasil meng-elevate ide-ide cerita dimana karakter-karakter bermain dengan jelangkung atau papan Ouija. Luapakanlah jump-scare murahan dari James Wan dan sambutlah duo sutradara horror pendatang baru ini.

Anatomy Of A Fall (Dir. Justine Triet)
Drama psikologis pemenang Palme d’Or yang sangat cerdas ini mengadili seorang istri yang dicurigai bertanggung-jawab atas kematian suaminya yang kejam. Sang istri Sandra mempertahankan kepolosannya, namun ia adalah seorang wanita yang cerdas sehingga ‘polos’ bukanlah label yang cocok untuknya. Dalam setiap reaksi simpatik, ada sedikit manipulas dalam diri Sandrai; dalam setiap flashback penuh amarah, sekilas terlihat sesuatu yang dingin… Di antara dua kutub absolut antara ‘bersalah’ dan ‘tidak bersalah’ terdapat spektrum kesalahan dan keterlibatan yang beragam. Anatomy of a Fall menavigasi kekeliruan moral ini dan mengungkap absurditas dalam mencoba mengambil keputusan biner yang sederhana darinya. Film ini adalah contoh bagaimana sebuah film bisa berhasil dalam beberapa genre sekaligus: Sebagai film thriller menegangkan yang membuat penonton terus bertanya siapa-, bagaimana-, dan mengapa hingga frame terakhir dan seterusnya, sebagai drama ruang sidang yang menegangkan, dan sebagai potret pernikahan yang retak dilihat dari serangkaian perspektif yang sedikit berubah. Sutradara Justine Triet berhasil membuat durasi dua setengah jam dari misteri pembunuhan art-house ini terasa lebih pendek daripada satu jam episode serial TV.

Oppenheimer (Dir. Christopher Nolan)
Epik sci-fi Christopher Nolan yang (sangat) serius tentang ‘bapak bom atom’ J. Robert Oppenheimer ini berfokus pada konfrontasi ruang sidang yang bertele-tele, tetapi sentuhan visual yang indah – dan penampilan introspektif Cillian Murphy yang layak dapat piala Oscar – menempatkan “Oppenheimer” jadi salah satu karya terbaik Christopher Nolan. Oppenheimer dengan cermat mewujudkan dunianya, mulai dari ruang kelas Berkeley hingga uji coba bom Trinity. Scoring Ludwig Göransson terus berlanjut; string-stringnya yang melengking dan crescendo yang obsesif membawa film ini ke level yang lebih indah. Sebuah pencapaian yang berhasil dari sisi narasi, teknis, visual dan suara. Siapa yang tidak merinding pada saat Oppenheimer berhasil meledakan bom atomnya dan membayangkan korban-korban dari pencapaian ilmiahnya?

Past Lives (Dir. Celine Song)
Chemistry instan bukanlah segalanya dan tolak ukur dalam urusan cinta. Film pertama Celine Song ini secara diam-diam berhasil menumbangkan konvensi romantic-comedy dengan cemerlang. Yang lebih luar biasa lagi adalah perlakuan seimbang dari kedua karakter pria di film ini, kegagahan mereka memungkinkan mereka diperlihatkan sebagai 2 pria yang menginginkan wanita yang sama, namun siap melepaskan wanita tersebut jika wanita itu menginginkannya. Sebuah drama yang sangat grounded dan di shot dengan indah, dimana penonton akan terbawa di momen-momen intim ketiga karakter tersebut dan turut merasakan keresahan, kesedihan dan closure yang diberikan film ini.

The Boy And The Heron (Dir. Hayao Miyazaki)
Film baru Hayao Miyazaki yang mistis – yang tidak lagi menjadi ‘yang terakhir’ – adalah pengalaman yang mendebarkan dan menyajikan hingar-bingar yang secara bertahap membuka diri terhadap sesuatu yang besar, bahkan apokaliptik. The Boy and the Heron adalah kisah tentang perlunya seseorang mengakui dan menerima tanggung jawab – Saya melihat ini adalah tentang dunia Studio Ghibli yang lahir dari imajinasi liar Miyazaki, dan bisa hancur seketika tanpa ada penerusnya. Sebuah dialog antara Miyazaki dengan inner childnya, dan sebuah metafora fantastis tentang menerima kematian. Semua ini divisualisasikan melalui serangkaian lanskap surealis dan berskala epik, tentunya dengan scoring Joe Hisaishi. Memang bukan karya terbaik Miyazaki, tetapi animasi mana yang bisa menandingi The Boy and the Heron di tahun 2023 ini?

Killers Of The Flower Moon (Dir. Martin Scorsese)
Epik berdurasi tiga jam ini bukanlah potret gangster stylish ala “Goodfellas”, neo-noir ala “Taxi Driver” ataupun horror psikologis seperti “Shutter Island”— mungkin bagi seorang pembuat film ulung berusia 81 tahun yang masih selalu mencari cerita baru untuk diceritakan, ini adalah sebuah mahakarya epik. Mahakarya Scorsese yang terakhir ini adalah kisah epik yang diceritakan secara mendalam tentang “perampokan” dan pembunuhan sistematis terhadap suku Indian Osage di Oklahoma, Amerika Serikat pada tahun 1920-an. Ini adalah kisah nyata tentang suku Osage yang terpaksa menyaksikan pemberantasan mereka sendiri dan tidak berdaya untuk menghentikannya. Dan pusat moralnya adalah Mollie Burkhart yang diperankan dengan sangat baik oleh Lily Gladstone: seorang wanita yang terpecah antara keluarga tempat dia dilahirkan dan keluarga yang dia buat (karena dia menikahi pria kulit putih). Sebuah pertanyaan: Seberapa bagus film yang ingin kamu tonton? Pilihan Scorsese untuk membingkai pembunuhan berantai beberapa lusin orang Osage di Oklahoma tahun 1920-an dari sudut pandang pemukim kulit putih yang mengorganisir pembunuhan tersebut bagi saya bukan hanya pilihan yang dapat dipertahankan, tetapi juga pilihan yang berani. Yang terpenting, ini adalah film tentang kulit putih, ini hanya sepenggal kisah kebrutalan sejarah kulit putih Amerika, dan tentunya secara tidak langsung Scorsese menceritakan kepada penonton bagaimana sejarah Amerika yang dibangun dengan darah.

The Zone Of Interest (Dir. Jonathan Glazer)
Potret seorang komandan Jerman dan keluarganya di Auschwitz dari seorang Jonathan Glazer tentunya akan sangat menarik. Mungkin kalian mengenal Glazer dari direksi uniknya di video klip Radiohead, Blue, Massive Attack dan Jamiroquai, Jonathan Glazer juga sudah mendirect 3 film yang cukup “nyeleneh” sebelum mendirect film ini (“Birth”, “Sexy Beast”, “Under The Skin”). The Zone of Interest pada dasarnya adalah drama rumah tangga seorang perwira Nazi dan keluarganya, dimana mereka tinggal di sebuah rumah yang terisolasi dari kekejaman Auschwitz (mereka tetap mendengar suara-suara mengerikan dari Auschwitz tetapi secara “visual” mereka tidak melihat kekejaman Auschwitz secara langsung). Film ini adalah adaptasi dari novel karya mendiang Martin Amis yang menempatkan pemirsa di dalam pernikahan pasangan kehidupan nyata, komandan Auschwitz Rudolf Höss (Christian Friedel) dan istrinya Hedwig (Sandra Hüller. Keluarga Höss tinggal di dekat tembok batu tinggi yang memisahkan kompleks mereka dengan lokasi kamp konsentrasi Nazi. Meskipun bukti mengerikan mengenai pembunuhan massal yang terjadi di sebelahnya ada di mana-mana, Glazer tidak pernah mengizinkan kita melihat sekilas apa yang ada di baliknya. Yang membuat film ini mengerikan adalah bagaimana kejahatan murni itu bisa ada di orang-orang “biasa”.

Monster (Dir. Hirokazu Koreeda)
Siapa monsternya? Apakah kamu? Dia? Atau Saya? Ketika pertanyaan-pertanyaan ini mengganggu pikiran kita, tentunya ini adalah film yang harus ditonton lebih dari satu kali. “Monster” adalah sebuah karya Hirokazu Koreeda yang berhasil (lagi) setelah sutradara Jepang ini mendapatkan kesuksesan mainstream dari “Shoplifters (2018)” dan “Broker (2022)”. Monster adalah sebuah cerita yang melingkupi pertanyaan-pertanyaan ini, mengundang kita untuk bertanya mengapa/apa yang disakiti/disembunyikan oleh protagonis bernama Minato, saat dia berjuang untuk tumbuh sebagai anak tunggal dari seorang ibu tunggal, merindukan ayahnya yang sudah meninggal, mengalami intimidasi di sekolah dan hal-hal lainnya yang tentu akan menjadi spoiler bila saya sebutkan di resensi ini. Begitu banyak kemungkinan yang terungkap melalui struktur narasi multiperspektif ala Reservoir Dogs-Tarantino atau Rashomon milik Akira Kurosawa. Keluarga biasanya merupakan tempat berlindung yang aman, tetapi Minato malah menemukan tempat perlindungan dalam persahabatannya dengan sesama ‘monster’ bernama Yori. Dunia indah di mana hutan dan danau bergaya Miyazaki menjadi tempat bermain bagi anak-anak lelaki yang melarikan diri dari sakit hati karena dikucilkan. Di sana, mereka menemukan kenyamanan, dan akhirnya keselamatan, ‘dilahirkan kembali’ dengan harapan akan awal yang baru. Saya berharap saya dapat menonton ulang film untuk pertama kalinya lagi. Satu kata kunci: filmnya tentang “kesalahpahaman”, Bagaimana dua anak, seorang ibu, seorang guru, dan seorang sutradara dapat membuat alur cerita sebuah film menjadi begitu unik?

Honorable Mentions:
The Holdovers (Dir. Alexander Payne)
Infinity Pool (Dir. Brandon Cronenberg)
TÁR (Dir. Todd Field)
Poor Things (Dir. Yorgos Lanthimos)
Asteroid City (Dir. Wes Anderson)
Beau is Afraid (Dir. Ari Aster)
Showing Up (Dir. Kelly Reichardt)
Night of the 12th (Dir. Dominik Moll)
Sisu (Dir. Jalmari Helander)
Cocaine Bear (Dir. Elizabeth Banks)
Godzilla: Minus One (Dir. Takashi Yamazaki)
Godland (Dir. Hlynur Pálmason)

Words by Aldy Kusumah

Tahun 2023 adalah tahun yang menarik untuk musik. Dengan banyaknya album bagus yang dirilis. Tanpa berbasa-basi, ini adalah beberapa album yang selalu kami putar di playlist kami dengan volume kencang, dan tentunya album-album inilah yang mencuri perhatian kami. Jika kalian mempunyai beberapa rekomendasi, tell us in the comments! Tanpa disajikan secara berurutan, ini adalah beberapa rilisan favorit kami di 2023…

Parannoul – After the Magic
Di album ini, Parannoul menyuguhkan lagu-lagu anthemic yang cocok dibawakan di arena atau stadium. Padahal, lagu-lagu tersebut dibuat di sebuah ruangan kecil, suara 20 orang di studio rekaman yang berasal dari satu komputer, sebuah karya megah nan epik yang dibuat sebagian besar oleh satu orang. Pemilihan detail-detail soung di setiap lagu juga sangat presisi: Indahnya efek tremolo gitar di ‘We Shine At Night’, sound piano dan strings epik ala scoring Japan-RPG yang melebur dengan gitar akustik di ‘Parade’ , atau ritme musik yang menghanyutkan di penultimate track ‘Blossom’. Sangat euphoric. Sound gitar fuzz dan walking bass di ‘Arrival’ membuat saya membayangkan bagaimana Billy Corgan akan membuat simfoni gitar dengan style Siamese Dream pada tahun 2023— dengan menumpuknya layer-layer overdub kecil yang tak terhitung jumlahnya. Sebelum Parannoul, saya tidak membayangkan sound bedroom pop bisa semegah ini. Parannoul bisa meng-elevate bedroom pop menjadi sesuatu yang layak dipertontonkan di venue besar. Output album ini bisa dibilang jauh dari input satu orang yang merekam musiknya didepan sebuah laptop. Bagi saya, ini adalah AOTY material indeed.

Tomb Mold – The Enduring Spirit
Setelah merilis tiga album death metal klasik, Tomb Mold mengambil pengaruh dari luar angkasa (mungkin mengikuti jejak Blood Incantation?). Meskipun The Enduring Spirit penuh dengan part-part gitar yang clean dan aransmen instrumental yang rapih, lagu “Servants of Possibility” dan “Angelic Fabrications” menampilkannya Tomb Mold dalam versi yang lebih heavy, sedikit mengingatkan kita kepada pendahulu mereka di Atheist. Dengan elem-elemen dari jazz fusion, prog ‘70an dan dream pop ala 4AD records, “The Enduring Spirit” adalah album death metal yang cukup unik. Coba saja pasang “Will of Whispers” dengan volume yang kencang. Biarkan Tomb Mold mengguncang dunia kamu.

Yo La Tengo – This Stupid World
Jika kamu merindukan suara gitar Ira Kaplan yang terdengar seperti suara Stratocaster vintage-nya yang tercekik, maka album Yo La Tengo No. 17 ini; “This Stupid World,” adalah performa mereka yang paling keras dan paling epic selama bertahun-tahun bermusik. Dibuka dengan “Sinatra Drive Breakdown” yang berdurasi tujuh menit lebih. Diikuti oleh “Fallout,” yang memiliki riff gitar yang terdengar seperti sesuatu yang direkam pada tahun 1992 di puncak era alt-noisepop, dan kemudian “Tonight’s Episode,” yang dipenuhi feedback, dan sedikit mengingatkan influence terbesar Yo La Tengo: Velvet Underground. “Aselestine”, adalah sebuah track laidback yang dinyanyikan oleh drummer Georgia Hubley. Overall, hampir 40 tahun dalam karir mereka sebagai sebuah band, dengan “This Stupid World,” Yo La Tengo telah mencapai puncak teratas musikalitas mereka. This is indierock at it’s finest peak.

boygenius – the record
Album debut dari boygenius adalah ramuan terbaik dari para ratu indie-rcok: Julien Baker, Phoebe Bridgers, dan Lucy Dacus. Di album ini mereka menunjukkannya kepiawaian songwriting mereka dengan kekuatan penuh. Album ini mempertahankan kekuatan dan karakter dari masing-masing: Julien Baker dengan vokal antemik dan lick-lick gitarnya, folk spektral ala Phoebe Bridgers, dan puisi Lucy Dacus yang dibuat dengan tepat. BUkan masalah jika sebelumnya kamu tidak mendengarkan karya solo dari trio ini, “the record” tetap akan menjadi album bagus yang bisa kamu nikmati. Setalah mendengar album ini, saya yakin kalian akan mengecek kembali katalog dan digging rilisan lama dari trio ini.

Noname – Sundial
Bagaimana bisa album hip hop yang politically-charged seperti ini bisa didengarkan dengan mudah dan terdengar catchy? “Sundial” adalah album Noname yang dipenuhi lirik-lirik dengan tema ketidakadilan sosial, yang diilhami oleh teori anti-kapitalis. Rapper asal Chicago ini menunjukkan kecerdasan sosio politiknya terhadap segala hal mulai dari standar kecantikan bagi perempuan kulit hitam sampai teori-teori anti-konsumerisme dan sedikit bumbu marxisme. “She’s a shadow walker, moon stalker, Black author/Librarian, contrarian” dia lantunkan di lagu pembuka album, “black mirror,” sebuah lirik yang powerful yang diselipkan di tengah instrumental yang santai dan vokal latar yang dreamy. “Sundial” adalah karya Fatimah Warner dengan segala kehebatan nya untuk membuat sebuah album jazz hop / neo-soul yang bisa menyaingi “The Low End Theory” milik A Tribe Called Quest.

Caroline Polachek – Desire, I Want to Turn Into You
Jika pada album “Pang” Caroline masih dibanding-bandingkan dengan Kate Bush, di album ini Caroline benar-benar keluar dari ekspektasi tersebut. Lebih eksperimental tidak seperti “Pang” yang lebih dream pop, “Desire, I Want to Turn Into You” adalah Caroline Polachek yang berkarya sebebas-bebasnya. “Bunny Is a Rider” memiliki verse yang tidak catchy, yang justru semakin memperkuat chorusnya yang akan membawamu ke surga electro pop. S”ementara Billions” adalah sebuah lagu cinta yang secara tak terduga menawarkan sesuatu bagi para penggemar Elizabeth Fraser dari Cocteau Twins. Grimes dan Dido bertamu di ”Fly to You”, dan entah bagaimana, perpaduan itu terdengar epic. Meskipun drum’n’bass semakin banyak memasuki irama artis-artis mainstream AS, karya Caroline lebih terasa artsy dan tetap memiliki sensibilitas pop yang kental. Hanya Caroline lah yang bisa terdengar seperti menggunakan auto-tune padahal dia mungkin hanya menyindir trend auto-tune tersebut.

Grrrl Gang – Spunky!
Siapa sangka kalau album terbaik Grrrl Gang adalah sebuah album dimana mereka membuat lagu punk. Spunky! tidak hanya punk secara direksi musik, tetapi secara spirit riot grrrl nya. Lupakanlah lagu-lagu Grrrl Gang era “Bathroom” dan “Dream Grrrl” (walaupun di “Dream Grrrl” sudah tercium sedikit aroma punk), Spunky penuh dengan energi, dan seakan kerasukan Kathleen Hanna, vokalis Angeeta lebih banyak shouting, spoken words dan vokalnya terdengar lebih lantang disini. Tetapi dibalik semua itu, Spunky! Tetap memiliki sensibilitas pop yang selalu dimiliki Grrrl Gang.

XG – New DNA
New DNA adalah sebuah EP berisi 6 lagu, tapi persetan dengan itu, rilisan yang satu ini wajib masuk ke list ini. Tidak ada satu genre pun yang benar-benar dapat mendefinisikan XG. XG terdiri dari tujuh anggota berdarah Jepang, berbasis di Korea dan menyanyikan lirik berbahasa Inggris. Mereka tidak ingin disebut sebagai K-Pop maupun J-Pop, karena mereka lebih suka menyebut diri mereka sebagai “global pop”. Single mereka sebelumnya di tahun 2023, ‘Shooting Star’ dan ‘Left Right’ adalah lagu pop bernuansa R&B ‘90an yang membawa XG ke stratosfer. Namun girl grup ini tidak berpuas diri dengan mini album debut mereka ‘New DNA’. Proyek ini merupakan sebuah peleburan style, influens, dan genre, dilapisi dengan kemasan Y2K, cyberpunk dan sedikit surreal. Meskipun kita telah melihat gaya futuristik ini di K-pop, XG lah yang melakukan ini dengan berhasil. Mereka memainkan perpaduan musik Jersey club (yang kembali dipopulerkan oleh Ditto milik NewJeans), hip hop, ‘90s R&B dan tentunya electro pop. Kepiawaian Maya, Jurin dan Cocona dalam rapping dilengkapi juga oleh vokal dreamy dari Juria, Hinata dan Chisa. Dan tentunya jangan lupakan syle vokal/rap Harvey yang sangat berkarakter. Lupakanlah NewJeans, XG akan segera menguasai dunia dalam waktu dekat.

Swellow – Katus
Setelah melalui rangkaian dua maxi-single di “Simpul Tak Berdaya” dan “Jeruk Segar”, akhirnya Swellow resmi merilis album penuh pertama yang diberi judul “Katus”. Band indie-rock asal Bogor ini membuka album dengan sebuah track banger berjudul ‘Penjelajah Waktu’. Sebuah riff gitar slacker indie-rock yang menarik, lengkap dengan berbagai variasi chord minor, sus2 dan maj7. Pemilihan sound yang keren ini membawa saya ke era keemasan Matador Records, Drag City dan Kill Rock Stars. Swellow pun tampak effortless membawakan pakem-pakem indie-rock akhir ‘90an-awal ‘2000an ini.
Lagu-lagu di album ini bagaikan sebuah selimut hangat; one of those albums that will give you a warm and fuzzy feeling inside. Track demi track masuk ke kuping ini secara effortless. “Katus” adalah sebuah sajian album all killer no filler. Tanpa terasa saya sudah berada di penghujung album dengan penultimate tracknya ‘Pasien’ dan ditutup oleh ‘Berkelana’ yang penuh energi. Overall “Katus” adalah sebuah album indie-rock yang bagus. Mungkin dewa-dewa indie-rock seperti Stephen Malkmus, Robert Pollard dan Jeff Tweedy pun akan approve jika mendengar album ini. Tidak heran jika album ini akan menjadi pilihan AOTY untuk banyak orang.

HEALTH – RAT WARS
Berkat produser Demi Lovato, Stint, departemen vokal di album ini diberi lebih banyak ruang dan sering disajikan dalam layer double-track. Hal ini menimbulkan nuansa pop adalah pada lagu “ASHAMED”. Meski begitu, itu digunakan dengan cara yang sangat efektif. Meskipun saya tidak suka ketika band-band seperti Sleep Token menambahkan dimensi pop pada suara mereka, teknik rekaman tersebut bekerja lebih baik di sini karena suasana tertindas yang diciptakan oleh keseluruhan musik menyeimbangkan hal ini. Dan perpaduan musik industrial dengan vokal merdu ini mengingatkan saya pada Stabbing Westward era “Wither Blister Burn & Peel”, in a good way. Alur synth dari “HATEFUL” menciptakan suasana yang eksplosif. Sound gitar dinamis di “CRACK METAL” mengambalikan HEALTH pada roots noise rock mereka. Salah satu favorit saya adalah “CHILDREN OF SORROW”, yang memiliki riff yang sangat keren.
Segalanya berakhir dengan band yang paling dekat dengan balada dengan ‘DON’T TRY’. Hal ini mengingatkan kita pada momen-momen paling depresif dari Placebo, yang sekali lagi merupakan cita rasa yang mungkin tidak menarik bagi semua pembaca di sini, begitu pula album ini secara keseluruhan. Namun, menurut saya penggemar musik industrial dan beberapa penggemar musik eksperimental yang lebih kecewa secara sonik akan menganggap album ini sebagai soundtrack yang menyenangkan untuk zaman modern.

Sebagai penggemar band ini, ini adalah salah satu album terbaik dari genre apa pun yang pernah saya dengar selama beberapa waktu, jadi saya merasa tugas saya untuk menyanyikan pujiannya kepada mereka yang memiliki selera serupa yang menikmati suara suram dengan intensitas emosional tinggi yang dapat menjadi hal lain. rasa berat.

SZA – SOS
Dengan 23 lagu, “SOS” hadir sebagai puncak klimaks SZA dalam versi musikal. Ini bukan album berkonsep naratif, tapi lagu-lagunya dihubungkan oleh alur yang repetitif: rangkaian perselingkuhan, reuni, pengkhianatan dan koneksi, anxiety dan afirmasi. Lagu-lagunya melompat dari masalah pribadi ke masalah universal, tetapi secara musik, album ini terdengar ringan dan catchy. “SOS” melibatkan banyak produser dan kolaborator, menggunakan peleburan terbaik dari style musik lama dan memanfaatkan genre-genre modern. Dalam “Kill Bill,” SZA berfantasi tentang membunuh mantannya dan pacar barunya, terdengar ringan sekaligus berbahaya saat produksi menghadirkan balada R&B yang epic. “Too Late” dicuri secara sonik dari Janet Jackson era ‘80an, dan dalam “F2F,” dia memulai dengan folk-pop yang kemudian menjadi rock saat dia bersikeras bahwa dia hanya selingkuh dengan seseorang saat menyanyikan lirik “because I miss you”. ‘SOS’ adalah SZA dalam versi paling ambisius, dan dia berhasil. Siapa sangka patah hati bisa meng-elevate seseorang ke titik musikal yang jenius?

Home Front – Games of Power
Apa yang kamu dapatkan jika menggabungkan punk dengan new wave? Jawaban nya adalah spirit survival dari musik punk dan vibes musik ‘80an yang membuatmu semangat untuk bangun di pagi hari. Home Front rupanya mengambil elemen-elemen terbaik dari kedua genre itu. Debut album Home Front ini lebih terasa seperti album klasik yang obscure daripada sebuah debut album modern; sebuah peleburan menarik dari post-punk yang menyeramkan, krautrock yang motorik, dan semangat punk yang bergairah. Mungkin untuk saat ini ‘Overtime’ adalah track favorit saya di album ini. Synth dan melodi gitar yang catchy dibalut oleh nada vokal anthemic di reff, dan tentunya sedikit mengingatkan saya kepada lagu ‘A Space Age Love Song’ dari A Flock Of Seagulls. Games of Power disatukan oleh kejelasan visi dan konsep, seluruh lagu album ini bagus dan tentunya bakal menjadi calon album of the year versi kami.

Words by Aldy Kusumah

GOR adalah salah satu akun IG menarik: mereka membahas kuliner dengan gaya bahasa yang khas dan kadang membahas spot-spot kuliner yang jarang dibahas di akun-akun foodies lain. Karena Admean Komisaris, Admean Kaya, Admean Seni dan Admean Siomay berhalangan, maka yang hadir di sesi interview ini hanya Admean Yatiem, Admean Pendidikan dan Admin Ratcun. Simak wawancara JEURNALS dengan kolektif kuliner yang berbahaya ini..

Pertanyaan dari Rekan-rekan:

“Kenapa Admean Yatiem begadang terus?” -Sandi (Gg. Nikmat, Kedai TON, Los Tropis)
Kabeh diborong ku sia sandi. Soalnya bertemu kehidupan real life lebih jadi main tuh bebas moyok, kaya warga2 gelanggang aja bebas moyok… Matakna aing begadang

“GOR selalu merespon sesuatu dengan bahasa yang “kasar”. Seberapa besar sih tingkat kepuasan lo berbalas story dengan follower yang bisa ngerespon lo tanpa baperan?” -Bob (Bakmi Badami & Upami, Hallway Space)
Jir Gaul ieu mah jelma pasar. Mun ceuk aing mah sebagai admin pendidikan.. Aing pang ngorana jadi bisa ngahina kolot didieu. Tingkat kepuasan mah mun geus aya nu ngajak gelut, geus 2x aya nu ngajak COD jeung abdi hahaha..

“Kalau nemu kecoa di dalem nasi padang yang lagi dimakan, lanjut makan atau skip?” -Prabu (Consumed Media, Saturday Night Karaoke)
Urang dahar padang di dipati ukur geus setengah porsi nyaho na aya cucunguk tea..

“Kalau makan sama apa aja? Sama lauk hayam? Bade lauk atau hayam? Hahaha” -Gebeg (Taring, Powerpunk, Anti Class)
Ieu mah sebagai.. Sok aya kawani teu? Iraha nga-DJ deui a Gebeg. Sama yang ketemu aja sih, ngeunahna mah jeung pamajikan batur hahaha.. Cakwe jeung sangu demi allah ngeunah kudu dicobian.

Pertanyaan ti @juliuzickboy kangge Gelanggang Olah Rahang
1. Dahareun paling favorite
2. Dahareun paling mahal nu pernah dibeuli
3. Dahareun nu can kacumponan
JAWAB SERIUS ULAH LOBA HEUREUY -Yulius (Popstoreindo, Seni Kanji)
Sickboy sia mun gering mah ulah loba nanya ajig. Menta free stuff euy yulius hahaha
Aing beuki sagala.. Kabeh oge didahar ku aing mah
Aing sebagai jelma berpendidikan.. Pangmahalna dahar di kedai Ton 66,000. Hahahha.. Japanese Retaurant at Thamrin nihon go tea

“Kalo misalkan gelanggang olah rahang akhirnya buka FNB, kira kira makanan apa yg akan dipilih buat dijadiin usaha? alesannya kenapa?” En (Sunbath)
Didinya weh jagona masak naon lah..

Comfort food terbaik versi masing-masing itu apa?
Admin Pendidikan: Sop Kaki SMP 5 terbaik maneh kudu cobaan
Naon we lah asal di pangnyieunkeun ku orang terkasih Dibere teh haneut jeung endok ceplok ge geus happy, Beres entep sendok tea lapar hahaha..
Admin Konveksi: Sagala didahar sebagai omnivora mah. Siga biawak.

Soundtrack (lagu & band apa) naon nu pas jang mengiringi dahar menu-menu berikut:
Gulai kepala ikan di Resto Padang: Lagu ti Gojira cociks. Tapi aing jewish jadi teu bisa dahar kepala ikan
Gurame goreng garing di sawah: Yayan Jatnika hahah!
Nasi Box di tahlilan: Dengekeun Yasin weh ieu mah
Makanan Gourmet full course di Bistro Perancis: Naon weh asal nu nyanyi na Zinedine Zidane, disundul!!
Swike goreng mentega di Cibadak: Teu kapikiran bangkong mah da dosa
Sushi Diskonan Supermarket: Utha Likumahuwa, lagu-lagu Riau Junction tea

Siapa personil band yang paling cocok jadi duta gila baso menurut kalian? Kenapa?
Saha personil band nu bengeutna siga baso? Eno Netral weh soalna botak hahahah!!

Resto / tempat makan nu ceuk maraneh ngeunah pisan tapi ceuk batur biasa wae / teu ngeunah?
Eweuh ajig nu ceu aing ngeunah mah ceuk batur ge ngeunah. Mun batur ngomong biasa wae mah berarti indra pengecap na rada goblog.

Resto nu ceuk batur ngeunah dan viral tapi ternyata pas dicobaan ku Gelanggang Olah Rahang teu ngeunah atau biasa aja?
Ayam KFC overrated. Mending Ayam sabana atau d’besto, fokus di ayam lokal.

Aya teu secret spot nu saking ngeunah na dirahasiakan pisan ku maraneh? Atau menurut maraneh tempat nu ngeunah mah batur kudu dibere info na?
Teu kudu dibere info engke apal urang-urang nongkrong na dimana

Dahareun nu pangmurahna maraneh pernah coba dan ngeunah pisan naon dan dimana?
Soto ceban ajig harepeun BTN. Ceban, sotona ngeunah pisan, hayamna dibere loba pisan, lontong kari na ge ceban.
Cakwe si Ewe di BPI!! Hahahha. Jadi eta aya 3 tukang dagang ngaran na Ewe, Duta jeung Ucup. Jadi Ucup di ewe duta hahaha..

8Mun babaturan dekeut karek muka resto tapi ternyata teu ngeunah, mending dibere kritik membangun, di review alus wae pedah baturan atau mending dikekeak?
Mending ditenggeulan ngeunah ajigg.. Ditampiling bapa na terus dipoyok nepi edan.

Kumaha eta awalna bisa collab jeung Leipzig teh? Nepi jieun merch dan videoklip? Mun dengekeun Leipzig cocokna bari dahar naon sih?
Eta lagu dahar nasional. Jadi si Admin komisaris, si eta eweuh didieu da sieun ku pamajikan kudu balik. Si eta nga DM Mario menta pangnyieunkeun lagu terus goblogna si Mario dipangnyieunkeun deui laguna, jol-jol dibere timeline kudu rilis tanggal sekian, kan jangar ka aing na. Urang saacan kolab jeung band-band mental geus rockstar ajig, hampura he’euh

Rekomen 5 tempat makan favorit Gelanggang nu matak nyieun kangen dahareun na…
Ton Kedai na si Sandi
Imah Babaturan well
Nikmat berkah, babat na ngeunah
Nasi padang bunga raya hareup RS muhamadiyah, ti SD ieu terbaik
Pikiran weh ku saria cape ieu rea teuing pertanyaan

PIlih salah sahiji dan alasan na:
Peteuy atau Jengkol? Teu duanana ajig.. Teu bisa ciciuman barau baham
Bubur dicampur atau diaduk? Dibalangkeun ajig buburna haha.. Dinaonkeun weh urang mah da beres basian mah ngeunah wae..
Mata atau telinga? (sop kaki kambing) Jelas telinga.. Terakhir aing dahar telinga diare tapi aya conge na ajig hahahah
Steak rare atau well done? Nya well done.. Kudu nu alus tempat steak na, mun di WS mah moal bisa rare da make ungas steak na hahahah
Sushi atau dim sum? Sashimi gosong ngeunah sih..
Kopi pahit atau es kopi susu? Urang tergantung tempatnya nyak.
Surabi mayo sosis atau surabi oncom OG? Surabi oncom OG atuh, surabi mayo mah rada Y2K euy kureng.. Fokus kami kanu roots nu OG pisan euy
Mun ngabaso langsung dibumbuan atau dicobaan heula? Mun urg mah mun geus pede langsung dibumbuan, tapi aing mah selalu di bening heula soalna menghargai raw material, mun si admin konveksi mah sagala dihakan jeung mangkokna.

Geus ieu teh ngan sakieu pertanyaan na? Urang butuh 30 pertanyaan deui nyak ku urang ditungguan. wassalamualaikum salam nuhun jeurnals..
Ieu nu ngajawab ngan 3 admin ti 7 admin. Apalkeun nu 4 deui teu datang: admin komisaris, admin kaya, admin seni jeung admin siomay. Jadi mun aya pembagian gono gini urang2 25% leuwih, maranehna ngan 1%. Nuhun.

Words & interview by Aldy Kusumah

The End merilis single terbaru bertajuk “My Life,” yang menjadi deklarasi bangga atas kesetiaan Utay sebagai seorang skinhead selama tiga dekade. Meskipun mengalami pergantian formasi, band yang telah bertahan selama 30 tahun ini menegaskan bahwa nilai-nilai mereka tidak berubah sejak didirikan pada 1993, terinspirasi oleh band oi! Inggris dan AS seperti Blitz, Sham 69, dan Urban Riot. Album legendaris “Made In Indonesia” pada tahun 1998 menandai perjalanan mereka, dan kini, dengan formasi baru sebagai kuintet, The End mengusung sound modern untuk merayakan perjalanan 30 tahun mereka.

Selain merilis single “My Life,” The End menggelar perhelatan ulang tahun ke-30 yang melibatkan live performance spesial dan pameran untuk memperingati warisan mereka di komunitas skinhead Indonesia. Konsistensi dan umur panjang The End tidak hanya menjadi pencapaian band, tetapi juga memiliki makna pribadi yang mendalam bagi anggotanya, seperti yang diungkapkan oleh Utay yang merasa bangga telah mengabdikan setengah hidupnya untuk band ini.

Band hardcore dari Santa Cruz, California ini bisa jadi sedang menuju lintasan karier yang sama dengan Turnstile. Pertama, Drain memainkan perpaduan akrab antara hardcore dan thrash klasik tahun 90-an, tetapi menambahkan sentuhan modern yang fun dan membuat sound mereka dapat diakses oleh mereka yang tidak terlalu paham genre tersebut. Selain itu, band ini memancarkan kepositifan dan karisma yang sebagian besar terpancar dari vokalis Sammy Ciaramitaro, yang dapat memekikkan berteriak dengan nada tinggi sambil tetap tersenyum. Ciaramitaro menulis lagu-lagu ceria dan cerah yang mencerminkan akar California yang laidback dari band ini, yang menunjukkan bahwa mereka bisa brutal dan juga tetap memiliki vibes bersenang-senang. Selain menjadi headline di festival besar seperti Sound & Fury dan Outbreak Festivals hingga menandatangani kontrak dengan label punk legendaris Epitaph Records untuk album baru mereka yang sangat dinantikan, 2023 akan menjadi tahun di mana Drain mengalami kesuksesan persilangan besar.

Debut Drain di tahun 2020, “California Cursed”, meluncurkan mereka ke eselon atas hardcore, dan “Living Proof”, sesuai judulnya, merupakan bukti daya tahan mereka yang sudah survive selama ini. Lagu-lagu seperti ‘Run Your Luck’, ‘Evil Finds Light’ dan ‘Imposter’ adalah HC Santa Cruz yang berada di antara riffage thrashy dan sound heavy yang siap untuk menjadi soundtrack mosh kamu. Penuh dengan karisma, lagu-lagu di album ini diisi dengan permainan gitar metalzone yang tajam dan didukung oleh jeritan liar yang menular dari Sammy Ciaramitaro. ‘Living Proof’ adalah tindak lanjut yang layak untuk debut Drain yang keren, dan album ini terasa seperti kumpulan lagu yang akan segera menjadi repertoar selama beberapa dekade mendatang.

Track pembuka ‘Run Your Luck’ adalah tipikal banger dari Drain: heavy, part beatdown yang groovy dan riff gitar catchy yang dibalut melodi ala band-band thrash metal favorit kamu. ‘Good Good Things’ adalah sebuah track dimana Sammy bernyanyi dengan merdu, sedikit mengingatkan saya kepada CIV dan alternative-rock ‘90an. Jika Drain membuat satu album penuh dengan lagu seperti ini, saya akan sangat senang.

 

Words by Aldy Kusumah

Terbentuk di tahun 1989, VICTORY RECORDS memisahkan diri dari label-label sejenis sebagai label independen yang dianggap “berhasil” menjadi blueprint untuk punk, hardcore, emo, metal, dan alternatif. Dengan katalog musiknya yang telah terbentuk, selama 30 tahun Victory Records sudah menyajikan album-album bagus kepada fanbase nya di seluruh dunia. Label yang lahir dan berbasis di Chicago ini menyuarakan suara tiga generasi dan membangun budaya tanpa kompromi.

KONTROVERSI
Pada masa nya, Victory Records adalah puncak dari menjadi cool secara independen, dan bukan kebetulan kalau mereka adalah label independen terbesar kedua di Amerika Serikat. Katalognya cukup lengkap dari Bad Brains hingga Hatebreed, Earth Crisis hingga Grade dan Taking Back Sunday. Tony Brummel telah menjadi juru bicara resmi bagi remaja yang gelisah di mana pun, dia juga cukup vokal dan terus-menerus mencerca kejahatan major label “korporat” dengan urgensi yang tendensius. “Victory Records adalah kamu, aku, musik yang berkembang di jalanan,” dia mengingatkan para fans nya. Sayangnya dibalik manifesto Tony Brummel dan keren nya rilisan-rilisan Victory, mereka juga menuai kontroversi mengenai royalty roster artist nya yang beberapa bahan berakhir di pengadilan.

Victory Records memiliki beberapa hubungan negatif dengan band yang telah menjadi roster di label tersebut. Selama bertahun-tahun, banyak band telah menyampaikan keluhan, konflik, atau mengajukan tuntutan hukum terhadap label rekaman, sementara yang lain tetap bertahan dengan label ini selama bertahun-tahun, atau bahkan kembali ke Victory setelah merilis album di label berbeda. Mantan band Victory, Thursday, memiliki konflik dengan label tersebut masalah royalty. Gitaris Atreyu Dan Jacobs berbicara buruk mengenai Victory dan pendiri label tersebut, dengan mengatakan bahwa mereka memiliki masalah dengan Tony Brummel. Bahkan band-band seperti Hawthorne Heights, A Day to Remember dan Streetlight Manifesto membawa konflik mereka dengan Victory Records ke pengadilan.

Pada bulan September 2019, bertahun-tahun setelah membeli sebagian dari katalog label, Concord membeli Victory Records dan Another Victory seharga $30 juta dolar. Craft Recordings telah mengelola katalog Victory Record sejak Concord mengakuisisi label tersebut. Victory sejak itu tidak men-sign band baru atau merilis album baru. Sebaliknya, label tersebut beroperasi untuk distribusi alumni label saat ini, serta untuk merilis reissue. Katalog Victory mencakup 4.500 rekaman master dan 3.500 komposisi melalui penerbitnya Another Victory.

RILISAN-RILISAN VICTORY RECORDS FAVORIT JEURNALS

Earth Crisis – Firestorm (1993)
Vinyl tujuh inci yang dirilis tahun 1993 ini hanya berisi empat lagu, namun 4 lagu dari para legenda vegan straight edge Earth Crisis ini memang esensial. Dengan tema-tema seperti anti-industrialisasi, animal liberation dan global warming, lagu-lagu Earth Crisis sangat relevan untuk didengar di tahun ini. Bahkan sampai saat ini, lagu-lagu dari tersebut menginspirasi partisipasi penonton yang militan dalam suasana live.

Deadguy – Fixation on a Coworker (1995)
Magnum opus dari Deadguy yang dirilis di tahun 1995 ini adalah satu-satunya karya full-length dari grup New Jersey yang negatif dan agresif ini. Ritmenya yang tidak rata, gitar yang chaotic, dan vokal yang menjerit/mengeram memberikan pengaruh pada banyak band yang bermunculan dan mencoba mengimitasi Deadguy.

Snapcase – Progression Through Unlearning (1997)
Suara snare drum yang sangat berkarakter di album ini adalah hal pertama yang Anda dengar ketika kamu memainkan album Snapcase ini. Itu juga hal pertama yang akan kamu dengar ketika bertanya kepada penggemar musik hardcore tentang apa yang membuat album ini begitu unik. Selain membuat album bagus tanpa cacat, Snapcase mendefinisikan sound drum hardcore yang tentunya ditiru oleh banyak band setelah mereka.

Thursday – Full Collapse (2001)
Full Collapse memiliki produksi yang lebih raw dibandingkan kebanyakan band-band emo yang merilis sesuatu di medio tahun 2000an. Mungkin itu hanya karena anggaran yang terbatas, namun lagu-lagu ini tetap terdengar segar karena lagu-lagu emo-pop dengan produksi yang terlalu rapih sudah ketinggalan jaman. Ini adalah album yang menjadi influensial tidak hanya di kalangan emo/post-hardcore tapi juga di kalangan rock underground secara umum, dan itu karena album ini diambil dari banyak hal yang berbeda. Di Full Collapse terdengar berbagai referensi dari sound emo, punk, hardcore, post-hardcore, screamo, dan metalcore, serta musik gothic/post-punk seperti The Cure dan Joy Division.

Strife – In This Defiance (1997)
Salah satu aspek yang saya sukai dari In This Defiance adalah betapa hebatnya segala sesuatu terdengar, dari sudut pandang sonik. Mungkin saya bukan seorang metalhead, tetapi jika kamu mendengarkan album-album thrash klasik dari akhir tahun ‘80an sampai awal ‘90an, kalian akan menemukan “benang merah” nya dengan sound yang dipilih Strife di album ini. Pada tahun ‘90an, sebagian besar album hardcore kurang maksimal di tahap produksi, tetapi In This Defiance menjadi blueprint sebagai album hardcore dengan sound yang sangat bagus. Sebuah upgrade sound layaknya album Divine Intervention milik Slayer yang meredefinisikan sound Slayer. Sound hardcore modern berubah untuk selamanya setelah In This Defiance rilis.

Refused – Songs to Fan The Flames of Discontent (1996)
Pertama kali saya melihat video klip “Rather Be Dead” saya sedikit bingung: Kenapa para anggota dari Refused ini terlihat seperti personil Weezer? Ya, Refused memang tidak terlihat seperti band-band hardcore pada umumnya, tetapi mereka bisa membuat album yang sangat heavy (baik itu secara lyrical maupun aransemen dan sound). Sebelum merilis magnum opus mereka yang berjudul “The Shape of Punk To Come”, Refused sudah memperlihatkan cikal bakal bahwa suatu hari band Swedia ini akan menjadi besar.

Integrity – Humanity Is The Devil (1996)
Membandingkan Humanity is the Devil dengan rilisan-rilisan hardcore kontemporer pada masa itu, dan bahkan rilisan paling modern sekalipun, menunjukkan perbedaan yang sangat besar. Kebanyakan band hardcore terlalu berdedikasi pada aturannya sendiri, dan Integrity sama sekali tidak takut untuk bereksperimen dan bahkan meninggalkan sound hardcore sepenuhnya di album ini. Dengan kover yang di design oleh Pushead dan judul album (dan tema-tema lirik) yang cukup mengerikan, mungkin Integrity adalah band hardcore tergelap. Mungkin album ini tidak akan pernah bisa dipahami sepenuhnya. 8 lagu di Humanity is the Devil adalah mahakarya dan tetap menjadi salah satu album “punk rock” paling unik dan aneh yang pernah direkam.

Hatebreed – Satisfaction is the Death of Desire (1997)
Satisfaction adalah album yang mendefinisikan Hatebreed. Album debut dari punggawa metalcore asal Connecticut, Satisfaction is the Death of Desire menampilkan sisi paling mentah dan paling sederhana dari Hatebreed. Vokal Jamey Jasta berada di antara tampil prima disini dan kadang terdengar seperti Kirk Windstein dari Crowbar. Satisfaction masih menjadi salah satu rilisan terberat dalam diskografi Hatebreed.

EPILOG
Tapi apa mau dikata, dibalik semua kontroversi tersebut, Victory adalah sebuah record label yang membangun taste music beberapa generasi, dan siapa sih yang bisa melupakan album-album terbaik yang mereka rilis seperti Full Collapse, In This Defiance, Progression Through Unlearning, Firestorm dan Satisfaction is the Death of Desire? Meskipun label ini dikenal luas karena hubungannya dengan band-band seperti A Day to Remember, Emmure, Taking Back Sunday dan Bayside, Victory memainkan peran integral dalam scene hardcore dan metalcore, memunculkan sejumlah band baru dan merilis album-album penting. Jadi apa saja rilisan Victory Records favorit mu?

Words by Aldy Kusumah

Brand asal Bandung, KZL, meluncurkan kolaborasinya bersaml The Adams. Kolaborasi ini diiberi tajuk “Bloom in Togetherness,” yang terinspirasi dari proses mekar, menekankan pertumbuhan, kesatuan dan keindahan yang muncul ketika berbagai elamen tergabung menjadi satu.

,

“Bloom in Togetherness” menampilkan knitwear, tshirt, dan short sleeve shirt. Koleksi kolaborasi KZL dan The Adams akan diluncurkan secara resmi pada tanggal 09 Desember 2023 di 996 Council Jl Trunojoyo No. 4 Bandung. Selain bisa didapatkan secara offline, Bloom in Togetherness juga bisa didapatkan secara online melalui www.kzlliberation.com, tersedia secara terbatas.

Belakangan ini, jika melihat foto-foto keren dari Perunggu, White Chorus, Danilla, Sore, Tulus sampai D’Masiv pasti kita akan melihat photo credits by Rakasyah Reza. Selain melakukan foto untuk kover album, Raka juga aktif melakukan stage photography dan membuat foto profil band yang terlihat effortless tapi tetap keren. Mari berbincang dengan fotografer asal Jakarta ini mengenai betapa serunya melakukan photoshoot bersama White Chorus dan nekat menjadi official fotografer The Strokes..

“Saya jadi fotografer seperti sekarang ini karena saya menjual vinyl ke salah satu manager band”

Halo mas Raka! Apa kabar? Sedang sibuk mengerjakan projek apa nih akhir-akhir ini?
Halo, akhir-akhir ini sedang sibuk mengerjakan beberapa projek untuk foto artwork ataupun profile musisi dan menjadi bagian dari tim dokumentasi untuk beberapa musisi di event tertentu.

Sebagai music photographer, lo lebih tertarik untuk mengerjakan foto untuk album cover, foto profil band atau stage photography?
Nah semuanya menarik semua sebenarnya, susah untuk memilihnya karena pasti di dalam 3 hal tersebut banyak banget moment-moment penting yang nantinya akan jadi cerita. Jadi mungkin untuk jawabannya: semuanya favorit. Tapi so far sih selama ini banyaknya foto artwork dan panggung.

Lo mengerjakan artwork untuk album “Limbo” milik White Chorus. Konsep apa yang ingin lo tampilkan di foto dan layout album itu?
Nah ini lumayan unik untuk album “Limbo”. Jadi konsep photoshoot ini sebenarnya sangat random, inti dari konsepnya adalah bagaimana mereka hanya ingin foto nya berlatar warna pink, setelahnya semua diserahkan ke saya. Setelah mendengar lagunya ide pertama yang saya dapat adalah ingin mencoba mengajak mereka untuk mencari beberapa spot yang menarik di kota Bandung.

Tapi waktu itu, dihari photoshoot Emir tiba-tiba sakit dan photoshoot tersebut dibatalkan, sepertinya saat itu di reschedule nya ke 2 hari setelah kejadian tersebut dimana disitu saya baru selesai foto panggung D’Masiv di Bandung.

Kira-kira kita ngumpul di rumah Emir itu jam 10 Malam, karena sudah larut saya pun yang bukan orang Bandung bingung bakal foto dimana enaknya, tetapi ide langsung tercetus saat itu kalau saya ingin coba eksplor foto di daerah dekat rumah kakek saya yaitu daerah Setraduta, yang terpikirkan perdana itu adalah Taman dari kompleks tersebut. Foto dimalam hari dengan memakai Flash berwarna Pink sepertinya seru juga, akhirnya kita tancap gas langsung ke taman Setraduta.

Saat sampai ada satu hal yang menarik entah kenapa uniknya di taman tersebut banyak bunga-bunga yang berjatuhan, menurut saya bunga-bunga tersebut bisa jadi representasi dari lagu-lagu White Chorus yang sudah didengarkan ke saya duluan. Segera saya meminta mereka untuk foto ditanah yang berjatuhan bunga tersebut dan terciptalah foto ini, entah kenapa ketika kita tidak sengaja dan direncanakan itu pasti ada saja hal unik yang bisa didapatkan.

Foto favorit lo selama ini yang mana saja?
Paling favorit sejauh ini The Strokes sih, karena kalo di inget-inget prosesnya sangat-sangat gila. Jadi di H-1 sempet ada kepikiran nekat untuk bawa kamera ke WeTheFest karena pengen mengabadikan moment The Strokes yang baru pertama kali ke Indonesia setelah sekian lama banyak orang yang nunggu. Sampai dititik mau nitip kamera ke teman fotografer yang bekerja disana, sampai di titik udah IG story nulis “want to buy ticket The Strokes”, sampe akhirnya setelah bikin IG story itu kepikiran coba untuk nekat email mereka, dan lucunya dibales malam itu juga, dan akhirnya setelah itu saya menjadi official fotografer dari The Strokes untuk panggung mereka di WeTheFest itu. Ini mungkin momen yang paling berkesan selama saya hidup ini. Ternyata kadang sesuatu yang nekat dilakukan bisa jadi sebuah hasil yang menarik jika benar-benar diniatin.

Beberapa band ada yang malu atau tidak biasa difoto, dan ada beberapa band yang sudah sering difoto dan lebih percaya diri saat melakukan photoshoot. Ada trik-trik khusus ga untuk menangkap momen jika band nya sedikit sulit diarahkan?
Lebih ke membuat mereka melakukan sesuatu kegiatan yang natural, kadang ada momentnya untuk beberapa musisi yang mungkin sulit untuk bergaya saya pancing ngobrol ataupun mungkin dipancing mendengarkan lagu favorit mereka agar bisa mendapatkan suatu gaya dan ekspresi yang dibutuhkan saat photoshoot tersebut

Lo juga mempunyai sampingan menjual vinyl di Tielmans Records. Sudah berapa lama mengerjakan Tielmans? Awal historinya bagaimana?
Dari tahun 2015, jadi pas SMA gue memulai hobby untuk mengoleksi rilisan fisik. Mau kaset,CD ataupun Vinyl semuanya dikoleksi. Jadi moment terbuatnya Tielmans Records itu gara-gara waktu itu saya mau menjual beberapa rilisan fisik yang sudah jarang saya dengarkan dan juga untuk muter duitnya buat kebutuhan sehari-hari ataupun untuk beli rilisan fisik lainnya, jadi sebenarnya Tielmans Records itu adalah wadah pertama saya untuk mencari uang, dan lucunya juga saya jadi fotografer seperti sekarang ini karena saya menjual vinyl ke salah satu manager band yaitu mas Satria Ramadhan (SRM Bands) dan saat itu nekat juga untuk bilang “Kalau band mas Satria butuh fotografer boleh kabarin gue ya mas” jadi mulai dari situ sering di calling untuk jadi fotografer dari band-band mas Satria sampai bisa kenal musisi lain disana sini dan membuka jalan untuk kerjaan baru lainnya, ya jadi Tielmans Records itu adalah pembuka jalan saya untuk menjadi fotografer musik seperti sekarang ini.

Kamera dan lensa favorit lo yang hampir selalu digunakan setiap photoshoot dan menjadi signature lo apa aja?
Untuk kamera mungkin kamera analog ya yaitu Nikon F6 karena beberapa foto panggung artwork dan profile menggunakan kamera itu, kalau lensa mungkin lensa 14-24 karena bisa banyak mengambil gambar yang menarik dari lensa tersebut.

Untuk stage photography, apakah lo wajib hafal dulu lagu-lagu band yang akan lo tangkap dan butuh setlist nya atau lo lebih natural aja mengikuti insting lo?
Nah kadang ada momentnya kalau untuk kebutuhan dokumentasi dari bandnya mereka brief saya untuk standby di beberapa lagu ini, kadang juga ada beberapa band yang mempercayakan ke saya. Ada juga moment ketika saya menyarankan salah satu personil untuk melakukan suatu aksi di panggung.

Pengalaman terburuk / terlucu saat sedang photoshoot?
Hape ilang di moshpit hahaha. Lagi apes aja waktu itu. Sama ini mas, Pernah foto penonton push up ditengah-tengah area moshing, Push up massal hahaha.. Nanti ku kirim videonya..

Siapa aja fotografer favorit lo?
Kalo untuk fotografi umum Anton Ismael karena dulu sempet masuk kelas pagi dan banyak dibukakan pemikiran-pemikiran baru tentang fotografi, dan bisa juga diterapkan di Music Photography. Kalo Music photographer favorit saya Gladina Saska karena dia fotografer Arctic Monkeys hahaha.. Dan juga Gladina Saska banyak ngajarin hal-hal pada saat gue masih baru memulai di perfotoan panggung ini.

Saran lo untuk fotografer musik yang baru memulai karirnya?
Nekat. Jangan pernah takut sama ketakutan lo sendiri.

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos by Rakasyah Reza