Flash Coffee, sebuah jaringan kedai kopi yang mengusung konsep berbasis teknologi, telah mengumumkan kolaborasinya dengan iQOO, sub brand dari Vivo yang fokus pada performa, dengan merilis menu baru bertema Orang Supernova Series. Menu ini diinspirasi oleh smartphone terbaru iQOO, yakni Z7 5G Supernova Orange. Flash Coffee, yang selalu menerima tantangan untuk berinovasi dan berkolaborasi dengan berbagai mitra dari berbagai bidang, khususnya dunia teknologi, berharap bahwa produk ini dapat menjadi pilihan bagi konsumen dengan gaya hidup yang produktif, memiliki mobilitas tinggi, paham teknologi, dan tertarik dalam e-sport. David Raymond, Managing Director Flash Coffee Indonesia, menyatakan semangat Dare To Be Different sebagai dasar kolaborasi ini.

Roshinna Erawaty, IMC & Partnership Manager iQOO Indonesia, mengungkapkan keyakinan bahwa kolaborasi ini akan memberikan opsi bagi mereka yang memiliki kehidupan aktif dan dorongan untuk terus menjelajahi dunia. Orang Supernova Series mencakup tiga varian minuman, semuanya menggunakan orange juice sebagai bahan dasar utama. Mulai dari Orange Espresso yang menyegarkan dengan campuran espresso, orange juice, sirup lemon, dan sirup semangka, hingga Orange Seasalt yang menggabungkan orange juice dengan foam seasalt gurih untuk pengalaman rasa yang kaya, serta Orange Watermelon Shake, kombinasi unik orange juice dengan sirup lemon dan sirup semangka. Periode penawaran Orang Supernova Series berlangsung dari 27 November 2023 hingga 7 Januari 2024 melalui aplikasi Flash Coffee, gerai Flash Coffee, dan platform pengiriman makanan seperti GoFood, GrabFood, dan ShopeeFood. Kolaborasi ini merupakan kelanjutan dari serangkaian kegiatan Flash Coffee bersama iQOO, termasuk turnamen PUBGM Battle pada Oktober 2023 di Flash Coffee Teras Kota Tangerang Selatan.

Brand lifestyle asal Bandung, Bodypack, kembali merilis dua series terbaru di penghujung tahun 2023. Series yang diberi nama Favor dan Vision ini sama-sama dirancang untuk mendukung aktivitas sehar-hari hingga liburan singkat.

Dalam Favor Series, Bodypack mengeluarkan spirit eksplorasinya dengan merilis empat tas yang terbuat dari bahan ripstop yang terkenal kuat dan tahan lama. Khusus series ini, bahan ripstop yang digunakan adalah bahan yang sebelumnya dipakai untuk membuat apparel. Serangkaian tas ini terdiri dari Liberta Tote Pack, Railway Rucksack, Lumos Tote Bag, dan Fortex Waist Bag. Keempatnya memiliki unsur perpaduan warna olive dan khaki yang membuatnya mudah di-mix and match dengan outfit apa pun.

Sementara itu, pembuatan Vision Series terinspirasi dari kehidupan kota yang dinamis. Detail utility webbing loop menjadi ciri khas dari Vision Series. Ada lima tas yang ditawarkan dari series ini, yaitu Axiom Daypack, Shilka Daypack, Goliath Rucksack, Hertz Lanyard, dan Elta Sling bag. Masing-masing dari tas ini didesain untuk menjadi tas yang bisa menemani para individu di perkotaan yang aktif dan produktif. Dengan perpaduan warna hitam dan olive, tas-tas ini memberikan kesan tough namun tetap versatile untuk bisa dipasangkan dengan gaya apa pun.

Dengan penampilan yang berbeda, keduanya tetap sama-sama mengedepankan fungsi, menonjolkan dengan fitur-fitur yang dapat mengakomodasi kebutuhan sehari-hari. Kedua series ini sudah bisa didapatkan melalui website, marketplace, dan gerai Bodypack.

Saturday Night Karaoke, unit punk rock asal Bandung, menutup rangkaian More Places Better Points Asia Tour 2023 dengan merilis video klip untuk lagu “Modern Shitsuren Story.” Video klip ini direkam oleh seluruh personil band secara bergantian dan disunting oleh Yana Setya Nugraha, bassist dari Saturday Night Karaoke. Menggunakan kamera digital, beberapa rekaman gambar saat penampilan mereka juga diabadikan oleh Bayu Rizki Maulana. Video klip tersebut menampilkan momen-momen dari tur ke empat negara, menjadi tradisi bagi Saturday Night Karaoke untuk merilis video klip setelah tur sebagai bentuk kenangan dan hadiah untuk para pendengar mereka.


Prabu Pramayougha, vokalis dan gitaris Saturday Night Karaoke, menjelaskan bahwa pemilihan lagu “Modern Shitsuren Story” sebagai materi video klip merupakan langkah pelengkap untuk EP terbaru mereka, “More Chords Better Points (2023).” Prabu menekankan intensi untuk mengabadikan momen selama tur dan memberikan kenangan yang berkesan kepada pendengar. Meskipun hanya sebagian kecil dari footage yang diabadikan di handycam mereka yang dijadikan video klip, hal ini dilakukan agar footage tersebut tetap awet dan bisa digunakan untuk pembuatan dokumenter di masa mendatang. Video klip “Modern Shitsuren Story” sudah dapat ditonton melalui kanal YouTube Saturday Night Karaoke, sementara EP “More Chords Better Points” bisa dinikmati melalui berbagai layanan pemutar musik digital.

Brand outdoor sports yang lahir di Pegunungan Alpen ini sebenarnya dibuat untuk olahraga ski, trail-running dan hiking. Tetapi bagaimana brand outdoor sports ini bisa “bergerak” dari gunung sampai dipakai para konsumen nya untuk “mendaki” kerikil-kerikil di coffee shop favoritmu? Let’s find out.

HISTORY
Salomon didirikan pada tahun 1947 di kota Annecy di jantung Pegunungan Alpen Prancis. François Salomon meluncurkan perusahaan tersebut dengan memproduksi ski-edges di sebuah bengkel kecil, hanya dengan bantuan istri dan putranya, Georges. Georges Salomon dikreditkan dengan mengambil alih perusahaan dan mengembangkannya menuju brand outdoor sports global yang kita kenal seperti sekarang ini. Lahir pada tahun 1925, Georges Salomon bertahan hidup selama pendudukan Nazi di kampung halamannya di Annecy di Pegunungan Alpen Perancis. Pasca perang dunia 2, pada tahun 1947 ia berbisnis dengan ayahnya François, seorang produsen mata gergaji. Dia meyakinkan Salomon yang lebih tua untuk beralih ke pembuatan pinggiran dan suku cadang ski untuk industri ski pasca-perang yang baru lahir di Eropa, dan revolusi industri ski sedang berlangsung dipimpin oleh garda depan Salomon. Ketika Salomon dan ketiga putranya menjual perusahaan tersebut ke Adidas pada tahun 1997, keterlibatannya dengan perusahaan tersebut berakhir dengan penjualan tersebut, namun etika dan brand identity yang di develop keluarga ini masih mendorong perusahaan tersebut. Kini, Salomon SAS merupakan bagian dari Amer Sports, yang dimiliki sejak 2019 oleh grup Tiongkok ANTA Sports dengan merek sejenis Wilson, Atomic, Precor, dan Arc’teryx.

SALOMON DI ERA KONTEMPORER
Selama beberapa dekade berikutnya sejak didirikan, Salomon mulai beralih ke kategori outdoor sports lainnya, yang akhirnya berfokus pada pakaian dan alas kaki yang dirancang untuk trail-running, hiking, ski, dan snowboarding. Namun baru-baru ini, Salomon lebih disukai oleh orang-orang yang menghadiri fashion week ketimbanghiking di gunung. Crowd ini sebagian besar disebabkan oleh munculnya ‘Gorpcore’ — nama yang diberikan untuk trend pakaian outdoor yang digunakan sebagai street fashion, yang diciptakan oleh The Cut pada tahun 2017 — tetapi hal ini juga berasal dari Salomon yang meluncurkan program Sportstyle dan bekerja sama dengan berbagai brand yang memiliki visi dan nilai-nilai yang sama. Sebuah langkah maju yang besar terjadi ketika JP Lalonde bergabung dengan Salomon untuk memimpin divisi Sportstyle pada tahun 2016. Lalonde membantu me-rebranding brand Salomon seperti brand yang kita kenal sekarang ini di era kontemporer, dengan bantuan Boris Bidjan Saberi.

Kolaborasi-kolaborasi Salomon pun selalu on point dan mereka memilih brand-brand dengan core values yang kurang lebih sama. Sebut saja: Palace, and wander, Beams, The Broken Arm, Hidden NY, Sandy Liang, Bodega, dan Dover Street Market. Dominasi Salomon masih jauh dari selesai. Brand Perancis ini mengikuti gelombang tech-wear dengan selama beberapa tahun terakhir, mulai dari merek yang dikenakan ayah kamu saat mendaki hingga seragam tidak resmi di fashion week. Highlight ini sebagian besar disebabkan oleh siluet XT-4, XT-6, dan XT-Wings yang, setiap musim, diberikan beberapa colorways terbaik. Namun, itu bukanlah keseluruhan cerita, karena kolaborasi Salomon adalah kolaborasi-kolaborasi terbaik di skena footwear global. Bahkan ex-karyawan Salomon membuat brand baru juga yang tidak kalah menarik bernama Hoka One One. Perusahaan ini didirikan oleh Nicolas Mermoud dan Jean-Luc Diard, mantan karyawan Salomon, pada tahun 2009, ketika mereka berusaha merancang sepatu yang memungkinkan mereka berlari menuruni bukit lebih cepat, dan menciptakan model dengan sol luar berukuran oversized yang memiliki lebih banyak bantalan, dibandingkan sepatu lari lainnya pada saat itu. Nama sepatu ini diambil dari bahasa Māori yang secara berarti “terbang di atas bumi”.

EPILOG
Salomon memiliki sepatu untuk berbagai aktivitas tetapi lebih mengkhususkan diri pada sepatu untuk outdoor sports seperti ski, snowboarding, hiking, dan trail running. Meskipun sepatu hiking Salomon pada awalnya dirancang dengan konsep outdoor sports, pada tahun 2023, industri fashion mengadopsi sepatu trail-ready XT-6 sebagai salah satu sepatu kets yang wajib dimiliki pada tahun 2023. Fashion it-girls seperti Bella Hadid, Hailey Bieber, dan Emily Ratajkowski terlihat memakai sepatu tersebut. Musisi seperti Dev Hynes (Blood Orange) sampai A$AP Rocky juga terlihat menggunakan Salomon pada beberapa acara. Menurut kita, design-design Salomon terlihat effortless jika dipakai untuk situasi apapun. Tidak seperti hiking shoes dari brand-brand outdoor seperti Columbia dan TNF, Salomon masih bisa dipakai untuk sekedar ngopi di coffee shop atau ke gigs lokal favoritmu. Tidak seperti sepatu dari brand-brand outdoor lainnya, Salomon bisa nge blend dengan kaos band sampai pakaian semi-formal. Belum lagi jika kita membicarakan colorways mereka yang unik dan detail dan kualitas produknya. Maka tidak heran jika Salomon adalah sepatu favorit kebanyakan orang untuk sekarang ini. So while this gorpcore trends still exist, let’s just embrace it shall we?

Words by Aldy Kusumah

Unit Hardcore asal Bandung, DEVĐAN, akan kembali mengunjungi Jepang pada 19 November 2023 dalam rangka Revival Japan Tour 2023. Tur ini merupakan kelanjutan dari tur sebelumnya di beberapa kota di Jawa, Bali, Lombok, Kalimantan, hingga Sulawesi. Sebelumnya, pada tahun 2019, mereka juga telah mengunjungi Tokyo bersama Kidsway dan Asia Minor sebagai bagian dari tour Endless Breathing 2019.

Dengan vokalis barunya, band ini akan mengunjungi 7 destinasi di sekitar Tokyo mulai 19 November 2023 hingga 29 November 2023, sebagai bagian dari upaya untuk tetap produktif dan memperkenalkan vokalis baru serta album baru yang akan segera dirilis. Setelah selesai Japan tour, mereka berencana untuk melanjutkan tur di Indonesia tahun depan. Selain mengadakan Revival Japan Tour 2023, DEVĐAN juga dikabarkan akan segera merilis single dan EP album terbaru dalam waktu dekat.

Setelah mini album Crowning (2019) dan debut album Bloodbuzz (2021), Denisa kembali menghadirkan album baru, St. Bernadette (2023) yang diambil dari nama baptisnya. Dibantu Haecal Benarivo (Morgensoll, Klab Diskorda) sebagai produser dan Adam Bagaskara (Pelteras) yang ikut co-produce 2 track (Spoiled dan This is a song About Revelation). Di album St. Bernadette ini, Denisa mempersembahkan 10 lagu yang lebih moody, heavy dan tentunya darker than their predecessors. Simak obrolan JEURNALS dengan Denisa mengenai resto vegan favoritnya, berteriak sebelum take vocal dan Avril Lavigne…

“Salah satu album paling life changing di hidup gue adalah Either/Or nya Elliot Smith. Cara dia nulis lirik lumayan jadi referensi gue nulis juga sampai sekarang”

Materi-materi Denisa di Crowning (2019) & Bloodbuzz (2021) terdengar lebih populist dan catchy. Apa yang membuat lo berputar haluan dan membawakan musik yang lebih dark dan heavy di St. Bernadette (2023)?
Awalnya karena nemu banyak referensi baru. Mulai dengerin genre-genre heavy sebelum ngerilis Bloodbuzz, dan kebetulan lagi banyak sharing referensi sama Rivo (Morgensoll) tahun lalu. Jadi lah, St. Bernadette. Kayaknya yang bikin gue pengen banget ganti ke darker genre simply gara-gara gue merasa lebih nyaman dan connected nulis lagu begini. Gue merasa lebih explorative juga di bagian lirik.

Apakah latar belakang pendidikan lo di SAE Institute jurusan Audio berpengaruh terhadap output musik dan pendekatan lo dalam menulis sebuah album?
Ngaruh banget, sih. Gue jadi bisa ngelewatin production secara cepat, dan ngejar sound & ngebrief engineer terasa simple.

Sound seperti apa yang lo inginkan di album-album lo?
Heavy guitars yang sedikit atmospheric dengan lead yang minor. Sound drum yang warm tapi masih significant setiap attack. Bass yang ada snap mid high. Vokal yang sound nya nyampein banget emosi lagu-nya. Overall, pengen yang warm, polished, dan pastinya balanced.

photo by Dimas Sugih

Bisa ceritain awal histori lo menulis materi-materi di St. Bernadette? Dari sketch, konsep awal sampai mengajak para kolaborator, produser dan merilis nya?
Seluruh album, gue dan Rivo nulis satu lagu dalam dalam satu hari. Kebetulan juga ada Adam Bagaskara (Pelteras) yang ikut co-produce 2 track (Spoiled dan This is a song About Revelation). Gue milih Rivo jadi produser setelah kita ngerilis Till I’m Forgiven, dari situ gue udah yakin kita bisa bikin album bareng. Kurang lebih, proses album dari songwriting sampai mastering itu 5-6 bulan.

Kabarnya lo sangat menyukai Avril, Dewa 19, Green Day, My Chemical Romance dan Justin Bieber ya?
Hahahaha menurut gue timeless aja. Semua musisi tersebut itu gue dengerin dari SD, dan mungkin sekarang kalo dengerin lagi jadi reminiscing jaman kecil. Yang paling memorable itu nonton music video Avril pertama kali di MTV abis pulang sekolah, sambil makan nugget.

Saya sempat meihat di sebuah konten di Youtube dimana Denisa bercerita mengenai vinyl-vinyl dan album-album favorit. Album-album apa aja sih yang merubah hidup lo sampai membawa lo ke titik sekarang? Seberapa banyak vinyl yang lo beli tiap bulan?
Salah satu album paling life-changing di hidup gue adalah Either/Or nya Elliot Smith. Cara dia nulis lirik lumayan jadi referensi gue nulis juga sampai sekarang. Gue udah lama ngga beli vinyl, tapi dulu gue jatahin 1 vinyl per bulan abis gajian. Kalau yang terakhir, ngga beli sih, dikadoin vinylnya Boygenius – The Record.

photo by Juan Akbar

Lo sempat berkolaborasi dengan Morgensoll dan Enola. Band-band apa aja yang sudah berkolaborasi dengan lo di rekaman atau live? Apa ada wishlist ingin berkolaborasi dengan band-band tertentu?
Kalau live, pernah jadi collaborator Perunggu di showcase mereka di Jakarta. Gue juga sempet manggung bareng Avhath untuk beberapa panggung. Kalau rekaman, gue bersyukur banget bisa rekaman bareng Bagas (Tarrkam, Morgensoll, ZIP) dan Adam B (Pelteras). Kedepannya, pengen banget collab sama TigaPagi, ngga tau kenapa, kayaknya bakal ngeri aja.

My Bloody Valentine menutup studio dengan gorden pada saat rekaman agar operator tidak bisa melihat aktivitas band di dalam studio. Ross Robinson (produser At The Drive-In) menyuruh Cedric Bixler untuk membayangkan bass drum sebagai denyut jantung setiap ibu yang kehilangan anaknya di Mexico pada saat take vocal. Beberapa vokalis yang saya kenal mematikan lampu studio dan menggunakan “substance” sebelum take vocal. Kondisi dan trigger apa yang Denisa butuhkan pada saat take vokal agar bisa berekspresi secara total?
Harus teriak sekali dua kali, yang kenceng dan lama. Kayak manasih mobil aja. Baru tuh bisa keluar emosi nya. Untuk power & lagu lagu yang lebih teriak, gue biasanya harus ada dingklik atau kursi yang gue bisa naikin 1 kaki gitu. Teknik vokal ngasal tapi it fucking works

Sebagai seorang vegan, apa lo bisa merekomendasikan 5 food spots / resto favorit lo untuk para pembaca? Dan alasan nya lo memilih tempat-tempat tersebut (highlight menu-menu rekomen dari setiap tempat)?
1. Kehidupan tak pernah berakhir (Bandung): Murah & ngga ngebosenin. Banyak banget menu nya, favorit gue sate vegan dan jamur crispy nya.
2. Burgreens: Template banget, tapi ter-aman dan ter-reliable. Gue selalu mesen salad-salad nya kalau di sini.
3. Loving Hut: Enak banget makanan Chinese & Indo-nya. Masih affordable juga. Gue selalu mesen ayam vegan cabe ijo atau nasi goreng dia.
4. Tiasa: Dia macem prasmanan/warteg food gitu. Tiap minggu menu nya diganti, selalu mesen dendeng balado vegan.
5. Bluezone Center: Makanan gue abis gajian. Porsi kuli, ada healthy food dan junk food, balanced banget. Selalu mesen vegan katsu salad.

photo by Dimas Sugih

Last question: 5 album lokal favorit lo dan alasan nya. Go!
1. Zaman, Zaman by The Trees and the Wild. Self explanatory…. indah… outer body experience..
2. Lantai Merah by Monkey to Millionaire. Seru liriknya. Gue suka banget album yang kedengeran nya bahagia tapi pas baca lirik kayak mau meninggal
3. CRIMSON EYES BY SIGMUN!!!! Ampe ada 2 poster gede di kamar gue. Ini album definisi sound mahal & timeless.
4. Dramaturgi Underground by Morfem. Motivating.
5. Upcoming Unreleased album by Pelteras. Gue belum tau exactly kapan sih. Tapi buset. Ancur. Nanti pas rilis dengerin aja, you’ll get what I mean.

Words & interview by Aldy Kusumah

Prejudize, unit hardcore asal Bandung, tak pernah kehabisan semangat untuk menciptakan nomor-nomor penuh energi. Kali ini, mereka mempercepat langkah menuju debut album dengan merilis nomor tunggal “Blazing Pledge” pada 8 November 2023 melalui platform digital. Dalam atmosfer yang penuh kesengsaraan, mereka memberikan apresiasi kepada orang-orang yang tetap gigih menjalani hidup, sambil menegaskan komitmen mereka terhadap sikap positif melalui lagu ini. Dengan lambang anjing galak di sampulnya, “Blazing Pledge” menjadi refleksi kesungguhan mereka untuk menghadapi segala persoalan.

Prejudize tidak hanya mengandalkan visual dan narasi, tapi juga membangun atmosfer berapi-api melalui tatanan audio yang memadukan harmoni hardcore beatdown dan riffs metal. Mereka menghadirkan pengalaman baru dengan menyuntikkan unsur elektronik ke dalam lagu hardcore mereka, menunjukkan bahwa mereka adalah unit eksploratif yang tidak takut untuk mendobrak batasan musik. Single ini dirilis secara mandiri, diikuti dengan kabar perilisan t-shirt dan rencana peluncuran album penuh pada tahun mendatang. Dengarkan “Blazing Pledge” di berbagai kanal musik digital dan nantikan lebih banyak dari Prejudize!

Ekspektasi tinggi selalu menghantui NewJeans sejak perilisan EP debut mereka pada Agustus 2022, yang menjadi album debut pertama girl grup K-pop yang terjual lebih dari satu juta kopi. Mereka menaklukkan tangga lagu bulanan di layanan streaming musik terbesar di Korea, Melon, dan menjadi artis K-pop tercepat yang mencapai satu miliar streaming di Spotify setelahnya. Banyak yang menantikan EP terbaru mereka, “Get Up”, yang baru saja dirilis pada 21 Juli kemarin. Anggota NewJeans Haerin dan Danielle juga berpartisipasi dalam proses penulisan lagu, memberi mereka kredit kontributor, sebuah prestasi langka di K-pop. Penempatan lagu dan susunan tracklist sangat penting, karena lagu-lagu di “Get Up” menceritakan kisah cinta, dimulai dengan naksir crush di “Super Shy” hingga kecurigaan perselingkuhan di “ETA”.


Album dimulai dengan ‘New Jeans’, intro self-titled yang sedikit lo-fi. Ritme 2-step yang melompat-lompat berubah menjadi tendangan yang menghentak ditambah sound harpa yang menjadi highlight. Bermodalkan lirik yang diulang-ulang, aransemen sederhana, dan penyampaian vokal yang monoton. Track selanjutnya adalah ‘Super Shy’ dengan produksi yang energik. Track ini semakin bagus semakin sering kamu mendengarnya. Lagu ini juga menawarkan bassline dan departemen perkusi yang dipengaruhi elemen dance musik garage dari Inggris. Rap break dari Hyein adalah elemen lain yang menonjol. ini adalah pertama kalinya dia nge-rap di lagu NewJeans, dan akan menarik untuk melihatnya mengembangkan keterampilan ini lebih lanjut di rilisan mendatang.

“ETA” dimulai dengan loop bass yang keras dan terdistorsi yang sedikit out-of-place jika dibandingkan dengan rilisan NewJeans sebelumnya. Namun urgensi suara tersebut selaras dengan konsep lagu yang memperingatkan seorang teman tentang perselingkuhan pasangannya. Pengulangan dan sahutan “What’s your ETA? What’s your ETA?” juga menambah aksen pada urgensi tersebut, bersama dengan kalimat seperti “You deserve better than that” dan “Boys be always lying. Di ‘ETA’ terdengar klakson dari track Baltimore Club klasik “Samir’s Theme”, dan tidak lupa menambahkan layer sound synth yang nyaman untuk menyelimuti lagu. Sepertinya ketertarikan NewJeans pada genre Jersey club music yang dimulai di ‘Cookie’ dan balada pop dengan sound Baltimore club di lagu ‘Ditto’ telah mengarah ke momen ini. Ini adalah lagu pop dengan instrumen berlapis yang menyegarkan, dan mudah untuk membayangkannya menjadi crowd favorite saat dibawakan di konser. Lagu keempat ‘Cool With You’ terdengar lebih laidback dibandingkan 3 track sebelumnya, dan sedikit anti-klimaks. Video musiknya cukup viral dan sukses besar, berkat penampilan dari bintang film Hong Kong Tony Leung (Chungking Express) dan aktris serial TV Squid Game Hoyeon Jung. Di sisi lain, lagu ini terkesan datar (walaupun tetap catchy). Sayangnya setelah beberapa pengulangan, tidak terdapat “evolusi” di lagu ‘Cool With You’. Tidak seperti ‘Super Shy’ yang semakin bagus jika semakin sering didengar.

“Get Up”, lagu kedua dari terakhir di EP, mungkin hanya berdurasi 36 detik, tapi terdengar seperti hits RnB era 2000an yang mengawang, dan berhasil memaksimalkan vokal NewJeans yang ethereal dengan lirik berbahasa Inggris. Ini mungkin adalah sebuah kejahatan terhadap umat manusia dari “boss besar NewJeans” Min Hee-Jin: Memberi durasi 36 detik untuk salah satu lagu terbaik yang pernah direkam oleh NewJeans. Pffftt. Lagu terakhir, ‘ASAP’ adalah lagu favorit saya di EP ini. Vokal yang dreamy dibalut dengan elemen electronica yang minimalis. Apalagi part “tik tok tik tok..” yang sudah pasti akan diingat at least untuk setahun kedepan (sampai NewJeans membuat lagu catchy lainnya). ‘ASAP’ sedikit mengingatkan saya pada ‘Ditto’. Walaupun tidak bisa mengimbangi ‘Ditto’ secara aransmen, ‘ASAP’ adalah track yang keren. Penyanyi-penulis lagu RnB Erika de Casier juga membantu menulis lagu dan memproduseri beberapa track di “Get Up” ini (‘New Jeans’, ‘Super Shy’, ‘Cool With You’ & ‘ASAP’), dan karakter minimalis Erika sangat terdengar di ‘Cool With You’ dan ‘ASAP’. Anyway, EP ini bukanlah output terbaik dari NewJeans jika dibandingkan dengan EP pertama mereka (‘Attention’, ‘Hype Boy’, ‘Cookie’ & ‘Hurt’) dan 2 single ‘OMG’ & ‘Ditto’. Tetapi lagu-lagu NewJeans yang “biasa” pun tetap keren. Lagu NewJeans yang “aman” pun tetap berakhir sebagai lagu pop yang sangat baik. Jadi meskipun rilisan ini mungkin tidak mengungguli kualitas rilisan mereka sebelumnya, patut dikagumi bahwa manajemen mereka tidak takut merilis materi yang kurang konvensional. Mungkin eksperimen mereka akan membuahkan hasil pada waktunya dan NewJeans akan merubah atau memberi standar baru bagi K-pop untuk selamanya

 

Words by Aldy Kusumah

 

Setelah menunggu selama enam tahun, unit alternatif Heals akhirnya merilis album penuh kedua mereka yang diberi judul “Emerald.”  Alyuadi Febryansyah (Vokal, Gitar), Reza Arinal (Vokal, Gitar), Octavia Variana (Vokal, Bass), dan Adi Reza (Drum), menyatakan bahwa album ini merupakan perwujudan tingkat berikutnya dalam perjalanan bermusik band asal Bandung ini. Album “Emerald” menandai kedewasaan musikal mereka, dengan eksplorasi genre, instrumen, dan tema yang lebih luas daripada album pertama mereka, “Spectrum” (2017).


Album “Emerald” mencerminkan kepiawaian Heals dalam memberikan kejutan kepada pendengar melalui berbagai elemen musik, melewati batasan shoegaze, nu gaze, atau alternative rock. Salah satu contoh yang menonjol adalah lagu “Supra,” yang menggabungkan elemen elektronik dan riff gitar, menciptakan progresi musik yang khas. Seluruh materi dalam album ini bertujuan memberikan pengalaman estetika yang baru dan menyegarkan bagi pendengar. Sebelum album ini dirilis, Heals telah mengeluarkan tiga single sebagai pengantar, yang semuanya membawa nuansa dan elemen musik yang berbeda. “Emerald” adalah langkah penting dalam perjalanan Heals, menandai kembalinya mereka dengan karya baru dan kesiapan untuk meraih pencapaian-pencapaian berikutnya setelah tampil di panggung-panggung bergengsi seperti Laneway Festival Singapore (2018), Synchronize Fest, dan Soundrenaline.

Sammy Bramantyo adalah bassist Seringai, salah satu owner Lawless Burger Bar dan tentunya penggemar mobil & motor klasik. Kepiawaian Sammy dalam memanage sebuah bisnis FnB tentunya tidak bisa dipungkiri karena Sammy sudah berpengalaman di bidang itu, melakukan banyak riset, memberi “personal touch” dan tentunya memiliki team yang solid. Mari berbincang dengan Sammy mengenai burger vs hot dog, surreal nya menjadi opening Metallica dan muntah diantara setiap lagu…

“Gampangan masak burger lah daripada warteg atau warsun haha. Menurut data sih orang Indonesia lebih suka Burger daripada Hot Dog atau Pizza. Tapi (gue) lebih suka lagi sama nasi sih.”

Pada saat mencari nama Seringai, nama-nama lain apa sih yang ga jadi dipakai? Ada ga nama yang lo pengen pakai jika Seringai boleh ganti nama?
Kebetulan gue join Seringai belakangan setelah bassist pertamanya, Toan keluar untuk menyelesaikan kuliah. Jadi gue gak ada di dalam proses penamaan band. Untuk nama band lain selain Seringai, jujur gue gak pernah kepikiran. Namanya sudah cocok, sudah terbiasa juga, logonya keren, dan merchandisenya laku, so I can’t complain haha!

Pengalaman terbaik saat menjadi personil Seringai?
Momen ketika menjadi band opening Metallica susah tergantikan sih. Segala sesuatunya serba surreal dan sepertinya sulit untuk dapat pengalaman yang sebanding ke depannya. Tapi kita lihat saja nanti.

Pengalaman terburuk saat menjadi personil Seringai?
Mungkin suatu rentang waktu sekitar 1,5 tahunan yang lalu dimana gue kena GERD yang cukup parah. Setiap makan kenyang gue langsung mual, sebelum manggung selalu mual sampai muntah, bahkan mau zoom meeting aja gue muntah dulu. Gue pernah manggung dan muntah di antara setiap lagu. Ganggu banget. Tapi sekarang sudah nggak lagi.

Untuk para gearheads, Apa aja sih equipment (bass, amps, etc) dan pedalboard lo kalau perform bersama Seringai?
Fender American P-Deluxe, Orange AD200 + OBC 410 & OBC 115, Line-6 Helix Stomp Effects, Aguillar Agro, MXR 6-band EQ, Radial J48 active pre-amp, Sennheiser bass & ear wireless system

Hal tersulit dalam memanage bisnis FnB itu apa sih? Apakah lo ada background FnB sebelumny dan apakah ada tips untuk pembaca yang ingin memulai bisnis FnB?
Banyak yang sulit tapi beberapa yang paling sulit yaitu quality control dan human resource management. Enak banget kalo sebuah bisnis FnB itu bisa full automation, tapi belum tentu cocok untuk semua kan? Apalagi brand-brand yang sifatnya masih craft dan sangat bergantung sama personal touch. Gue udah pernah beberapa kali bikin warung, toko, dan restoran sebelum Lawless, tapi baru Lawless yang bener-bener pecah. Untuk pembaca yang mau mulai bisnis FnB, riset lah sebanyak-banyaknya sebelum mulai. Matangkan konsep dan menunya, kenali marketnya, perhitungkan resikonya, dan set up team yang solid.

Kenapa Lawless Burger Bar? Kenapa engga bikin Warteg Lawless, Lawless Sundanese Cuisine atau Sate Maranggi Lawless?
Gampangan masak burger lah daripada warteg atau warsun haha. Kalo Lawless punya restoran dan bar lebih cocok yang temanya western. At least untuk brand pertama. Ke depannya mah bisa apa aja.

Menurut lo orang Indonesia itu lebih suka burger, pizza atau hot dog sih?
Burger. Menurut data sih begitu. Tapi lebih suka lagi sama nasi sih.

Berbicara mengenai automotif, kapan terakhir kali lo mogok di jalan? Lagi pake kendaraan apa dan bagaimana lo menghandle nya?
Sepeda listrik masuk kategori otomotif lah ya, kan ada mesinnya. Gue baru beli sepeda listrik. Hari pertama gue pake, baru jalan 1 km mesinnya tiba-tiba mati, blackout. Akhirnya gue harus gowes balik ke tokonya, sekitar 5 km dari tempat gue mogok. Karena masih garansi dibetulin tuh 2 hari, abis itu gue ambil lagi. Besoknya gue pake ke kantor aman. Tapi pas pulang, di jalan mati lagi. Sampe sekarang gue belum pake lagi, masih males kalo mogok lagi. Asem.

Wishlist mobil / motor yang belum kesampaian apa saja?
1994 Porsche 911 Carrera Targa 964 warna hitam. Saat ini gue baru punya Legonya haha.

Konser terbaik yang pernah lo datangi? Bisa elaborasi sedikit mengenai konser tersebut?
Gimana kalo festival? Karena gue pernah datang ke Soundwave Festival tahun 2013 di Perth, AU bersama Seringai, (Alm) Ebenz Burgerkill, Arie Dagienkz, (Alm) Ardi Fotokonser, dan beberapa teman lain. Sejauh ini, itu adalah festival paling sempurna buat gue. Nonton Ghost, The Sword, Blink-182, Red Fang, Slayer, Tomahawk, Kyuss, Metallica, VOD, Orange Goblin, Gallows, Fucked Up, Anthrax, Cypress Hill, Sick Of It All, dan banyak lagi bersama teman-teman terdekat. Gimana mau ngalahin itu?

Setelah Lawless Records dan Lawless Burger Bar, next lo mau bikin apa lagi?
Wah banyak banget. Liat aja nanti deh. Yang jelas 2024 akan jadi tahun yang seru nih kelihatannya.

Pilih salah satu dan berikan alasan nya:
1. Slayer atau motorhead?
Slayer, karena FUCKING SLAYAARRGHH

2. Masakan Padang atau Sunda?
Padang, kayanya karena lebih sering gue makan aja.

3. Chopper atau cafe racer?
Chopper forever

4. Hotdog atau burger?
Burger, karena lebih banyak yang bisa dikreasikan dengan bentuknya. Kalo hotdog bentuk rotinya lebih kaku.

5. Nahan pipis pas lagi nonton film bagus di bioskop atau ke wc?
Tahan sampe ngompol, kalo filmnya sebagus itu. Entah film apa yang segitunya.

6. Jagerbomb atau whiskey cola?
JAGERBOMB LAH, karena teman-teman client gue di Jager mungkin akan membaca wawancara ini.

7. Mobil Jepang atau Eropa?
Eropa, karena lebih banyak merk dan jenis yang gue suka tanpa ngomongin harga dan ketersediaan spare parts ya.

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos taken from Sammy Bramantyo Archives / IG