SUISSAC adalah rock supergroup baru yang dimotori oleh Angga Kusuma (Asiaminor / SSSLOTHHH / Billfold / Collapse) dan Eky Darmawan (Polyester Embassy / Rock N' Roll Mafia). Menurut press release nya, “Mereka berusaha menciptakan sesuatu yang benar-benar segar dan berbeda dari band-band sebelumnyaâ€. SUISSAC pun diperkuat oleh Alan Davison (Lamebrain) dan Emyr Farand (Asiaminor) di seksi ritem. Tentunya sebuah mini album dari para veteran industri musik ini akan menarik untuk disimak, apalagi dengan kover art yang menggunakan foto dari Deby Sucha. Epic adalah kata yang tepat untuk menggambarkan mini album ini. Dengan berleburnya latar belakang genre dari tiap personil dan pemilihan sound yang tepat, SUISSAC mempersembahkan 6 lagu untuk output perdana mereka dalam berkarya. 6 track yang tersaji di EP ini bisa dibilang cukup stand-out dan memiliki highlight yang berbeda pada detail aransemen nya. Dengan tema-tema lirik yang “mencerminkan kisah universal tentang perjuangan, cinta, kehilangan, harapan, dan keajaiban kemanusiaan yang tak terelakkanâ€. Let’s blast this EP on the speakers, shall we?
Dibuka dengan ‘In Silence’, sebuah banger track yang sangat cocok tirauh menjadi hidangan pembuka. Track ini juga bertugas untuk membangun mood di mini album bertitel “Magnanimous EP†ini. SUISSAC mengeksplor time-signature dan output sonic mereka dengan effortless. Sebuah aransemen yang lumayan kompleks, apalagi dengan banyaknya part yang berbeda sebagai fondasi lagu ini. Track kedua adalah single utama yang berjudul ‘Chrome Colliseum’, yang sedikit mengingatkan saya pada Mars Volta era “De-Loused in the Comatoriumâ€. Vokal Eky Darmawan bisa lebih lepas dan bebas untuk bereksplorasi disini, dan tentunya detail-detail departemen gitar pun diisi dengan baik oleh Angga Kusuma. Saya sangat menyukai quiet-loud dynamics di lagu ini, terutama pada 2:20 dimana lagu rock yang noisy ini berubah menjadi shoegazing alt-rock ala Swervedriver. ‘Nirsinar’ dibuka dengan riff gitar yang sedikit bluesy / stoner. Permainan para rhythm section Alan Davison (Bass / Backing Vokal) dan drummer Emyr Farand sangat groovy disini. Tight.
‘Gold Colosseum’ adalah sebuah track ambient pop berdurasi pendek yang (mungkin) bertugas untuk meredam 3 lagu sebelumnya; yang bertempo cepat, dipenuhi riff-riff noisy dan penuh secara instrumentasi. Titel track ‘Magnanimous’ kembali menaikkan mood pendengar. Menurut saya jika dibanding dengan 5 track lainnya, this one is my least favorite SUISSAC song. Di 3 track awal mereka bermain dengan durasi yang sama, sekitar 4 menitan, tapi track ini justru terasa lebih lama bagi saya. ‘Magnanimous’ adalah sebuah track yang dipenuhi oleh banyak ide-ide dan mungkin terasa sedikit terlalu kompleks bagi saya. Highlight di lagu ini terdapat di menit 2:24, solo gitar yang sangat indah dan mengawang, dengan sound ala gitar-gitar dari band Tortoise. Track penutup ‘My Reflection of Rejection the Definition Just too Insane’ adalah sebuah lagu rock yang lebih straight-forward jika dibandingkan dengan lagu-lagu lainnya di EP ini. Sangat fresh dan juga mengundang kalian untuk kembali mendengar EP ini dari awal lagi. Overall, produksi di album ini sangat keren dan ternyata ada produser Alyuadi (Heals/Fuzzy I) yang turut membantu memproduseri EP ini. SUISSAC adalah salah satu newcomer (dengan wajah-wajah lama) yang patut kalian tunggu aksi panggungnya.
Text by Aldy KusumahPhoto by Vendrie Openk
SUISSAC adalah rock supergroup baru yang dimotori oleh Angga Kusuma (Asiaminor / SSSLOTHHH / Billfold / Collapse) dan Eky Darmawan (Polyester Embassy / Rock N' Roll Mafia). Menurut press release nya, “Mereka berusaha menciptakan sesuatu yang benar-benar segar dan berbeda dari band-band sebelumnyaâ€. SUISSAC pun diperkuat oleh Alan Davison (Lamebrain) dan Emyr Farand (Asiaminor) di seksi ritem. Tentunya sebuah mini album dari para veteran industri musik ini akan menarik untuk disimak, apalagi dengan kover art yang menggunakan foto dari Deby Sucha. Epic adalah kata yang tepat untuk menggambarkan mini album ini. Dengan berleburnya latar belakang genre dari tiap personil dan pemilihan sound yang tepat, SUISSAC mempersembahkan 6 lagu untuk output perdana mereka dalam berkarya. 6 track yang tersaji di EP ini bisa dibilang cukup stand-out dan memiliki highlight yang berbeda pada detail aransemen nya. Dengan tema-tema lirik yang “mencerminkan kisah universal tentang perjuangan, cinta, kehilangan, harapan, dan keajaiban kemanusiaan yang tak terelakkanâ€. Let’s blast this EP on the speakers, shall we?
Dibuka dengan ‘In Silence’, sebuah banger track yang sangat cocok tirauh menjadi hidangan pembuka. Track ini juga bertugas untuk membangun mood di mini album bertitel “Magnanimous EP†ini. SUISSAC mengeksplor time-signature dan output sonic mereka dengan effortless. Sebuah aransemen yang lumayan kompleks, apalagi dengan banyaknya part yang berbeda sebagai fondasi lagu ini. Track kedua adalah single utama yang berjudul ‘Chrome Colliseum’, yang sedikit mengingatkan saya pada Mars Volta era “De-Loused in the Comatoriumâ€. Vokal Eky Darmawan bisa lebih lepas dan bebas untuk bereksplorasi disini, dan tentunya detail-detail departemen gitar pun diisi dengan baik oleh Angga Kusuma. Saya sangat menyukai quiet-loud dynamics di lagu ini, terutama pada 2:20 dimana lagu rock yang noisy ini berubah menjadi shoegazing alt-rock ala Swervedriver. ‘Nirsinar’ dibuka dengan riff gitar yang sedikit bluesy / stoner. Permainan para rhythm section Alan Davison (Bass / Backing Vokal) dan drummer Emyr Farand sangat groovy disini. Tight.
‘Gold Colosseum’ adalah sebuah track ambient pop berdurasi pendek yang (mungkin) bertugas untuk meredam 3 lagu sebelumnya; yang bertempo cepat, dipenuhi riff-riff noisy dan penuh secara instrumentasi. Titel track ‘Magnanimous’ kembali menaikkan mood pendengar. Menurut saya jika dibanding dengan 5 track lainnya, this one is my least favorite SUISSAC song. Di 3 track awal mereka bermain dengan durasi yang sama, sekitar 4 menitan, tapi track ini justru terasa lebih lama bagi saya. ‘Magnanimous’ adalah sebuah track yang dipenuhi oleh banyak ide-ide dan mungkin terasa sedikit terlalu kompleks bagi saya. Highlight di lagu ini terdapat di menit 2:24, solo gitar yang sangat indah dan mengawang, dengan sound ala gitar-gitar dari band Tortoise. Track penutup ‘My Reflection of Rejection the Definition Just too Insane’ adalah sebuah lagu rock yang lebih straight-forward jika dibandingkan dengan lagu-lagu lainnya di EP ini. Sangat fresh dan juga mengundang kalian untuk kembali mendengar EP ini dari awal lagi. Overall, produksi di album ini sangat keren dan ternyata ada produser Alyuadi (Heals/Fuzzy I) yang turut membantu memproduseri EP ini. SUISSAC adalah salah satu newcomer (dengan wajah-wajah lama) yang patut kalian tunggu aksi panggungnya.
Text by Aldy KusumahPhoto by Vendrie Openk
SUISSAC adalah rock supergroup baru yang dimotori oleh Angga Kusuma (Asiaminor / SSSLOTHHH / Billfold / Collapse) dan Eky Darmawan (Polyester Embassy / Rock N' Roll Mafia). Menurut press release nya, “Mereka berusaha menciptakan sesuatu yang benar-benar segar dan berbeda dari band-band sebelumnyaâ€. SUISSAC pun diperkuat oleh Alan Davison (Lamebrain) dan Emyr Farand (Asiaminor) di seksi ritem. Tentunya sebuah mini album dari para veteran industri musik ini akan menarik untuk disimak, apalagi dengan kover art yang menggunakan foto dari Deby Sucha. Epic adalah kata yang tepat untuk menggambarkan mini album ini. Dengan berleburnya latar belakang genre dari tiap personil dan pemilihan sound yang tepat, SUISSAC mempersembahkan 6 lagu untuk output perdana mereka dalam berkarya. 6 track yang tersaji di EP ini bisa dibilang cukup stand-out dan memiliki highlight yang berbeda pada detail aransemen nya. Dengan tema-tema lirik yang “mencerminkan kisah universal tentang perjuangan, cinta, kehilangan, harapan, dan keajaiban kemanusiaan yang tak terelakkanâ€. Let’s blast this EP on the speakers, shall we?
Dibuka dengan ‘In Silence’, sebuah banger track yang sangat cocok tirauh menjadi hidangan pembuka. Track ini juga bertugas untuk membangun mood di mini album bertitel “Magnanimous EP†ini. SUISSAC mengeksplor time-signature dan output sonic mereka dengan effortless. Sebuah aransemen yang lumayan kompleks, apalagi dengan banyaknya part yang berbeda sebagai fondasi lagu ini. Track kedua adalah single utama yang berjudul ‘Chrome Colliseum’, yang sedikit mengingatkan saya pada Mars Volta era “De-Loused in the Comatoriumâ€. Vokal Eky Darmawan bisa lebih lepas dan bebas untuk bereksplorasi disini, dan tentunya detail-detail departemen gitar pun diisi dengan baik oleh Angga Kusuma. Saya sangat menyukai quiet-loud dynamics di lagu ini, terutama pada 2:20 dimana lagu rock yang noisy ini berubah menjadi shoegazing alt-rock ala Swervedriver. ‘Nirsinar’ dibuka dengan riff gitar yang sedikit bluesy / stoner. Permainan para rhythm section Alan Davison (Bass / Backing Vokal) dan drummer Emyr Farand sangat groovy disini. Tight.
‘Gold Colosseum’ adalah sebuah track ambient pop berdurasi pendek yang (mungkin) bertugas untuk meredam 3 lagu sebelumnya; yang bertempo cepat, dipenuhi riff-riff noisy dan penuh secara instrumentasi. Titel track ‘Magnanimous’ kembali menaikkan mood pendengar. Menurut saya jika dibanding dengan 5 track lainnya, this one is my least favorite SUISSAC song. Di 3 track awal mereka bermain dengan durasi yang sama, sekitar 4 menitan, tapi track ini justru terasa lebih lama bagi saya. ‘Magnanimous’ adalah sebuah track yang dipenuhi oleh banyak ide-ide dan mungkin terasa sedikit terlalu kompleks bagi saya. Highlight di lagu ini terdapat di menit 2:24, solo gitar yang sangat indah dan mengawang, dengan sound ala gitar-gitar dari band Tortoise. Track penutup ‘My Reflection of Rejection the Definition Just too Insane’ adalah sebuah lagu rock yang lebih straight-forward jika dibandingkan dengan lagu-lagu lainnya di EP ini. Sangat fresh dan juga mengundang kalian untuk kembali mendengar EP ini dari awal lagi. Overall, produksi di album ini sangat keren dan ternyata ada produser Alyuadi (Heals/Fuzzy I) yang turut membantu memproduseri EP ini. SUISSAC adalah salah satu newcomer (dengan wajah-wajah lama) yang patut kalian tunggu aksi panggungnya.
Text by Aldy KusumahPhoto by Vendrie Openk
SUISSAC adalah rock supergroup baru yang dimotori oleh Angga Kusuma (Asiaminor / SSSLOTHHH / Billfold / Collapse) dan Eky Darmawan (Polyester Embassy / Rock N' Roll Mafia). Menurut press release nya, “Mereka berusaha menciptakan sesuatu yang benar-benar segar dan berbeda dari band-band sebelumnyaâ€. SUISSAC pun diperkuat oleh Alan Davison (Lamebrain) dan Emyr Farand (Asiaminor) di seksi ritem. Tentunya sebuah mini album dari para veteran industri musik ini akan menarik untuk disimak, apalagi dengan kover art yang menggunakan foto dari Deby Sucha. Epic adalah kata yang tepat untuk menggambarkan mini album ini. Dengan berleburnya latar belakang genre dari tiap personil dan pemilihan sound yang tepat, SUISSAC mempersembahkan 6 lagu untuk output perdana mereka dalam berkarya. 6 track yang tersaji di EP ini bisa dibilang cukup stand-out dan memiliki highlight yang berbeda pada detail aransemen nya. Dengan tema-tema lirik yang “mencerminkan kisah universal tentang perjuangan, cinta, kehilangan, harapan, dan keajaiban kemanusiaan yang tak terelakkanâ€. Let’s blast this EP on the speakers, shall we?
Dibuka dengan ‘In Silence’, sebuah banger track yang sangat cocok tirauh menjadi hidangan pembuka. Track ini juga bertugas untuk membangun mood di mini album bertitel “Magnanimous EP†ini. SUISSAC mengeksplor time-signature dan output sonic mereka dengan effortless. Sebuah aransemen yang lumayan kompleks, apalagi dengan banyaknya part yang berbeda sebagai fondasi lagu ini. Track kedua adalah single utama yang berjudul ‘Chrome Colliseum’, yang sedikit mengingatkan saya pada Mars Volta era “De-Loused in the Comatoriumâ€. Vokal Eky Darmawan bisa lebih lepas dan bebas untuk bereksplorasi disini, dan tentunya detail-detail departemen gitar pun diisi dengan baik oleh Angga Kusuma. Saya sangat menyukai quiet-loud dynamics di lagu ini, terutama pada 2:20 dimana lagu rock yang noisy ini berubah menjadi shoegazing alt-rock ala Swervedriver. ‘Nirsinar’ dibuka dengan riff gitar yang sedikit bluesy / stoner. Permainan para rhythm section Alan Davison (Bass / Backing Vokal) dan drummer Emyr Farand sangat groovy disini. Tight.
‘Gold Colosseum’ adalah sebuah track ambient pop berdurasi pendek yang (mungkin) bertugas untuk meredam 3 lagu sebelumnya; yang bertempo cepat, dipenuhi riff-riff noisy dan penuh secara instrumentasi. Titel track ‘Magnanimous’ kembali menaikkan mood pendengar. Menurut saya jika dibanding dengan 5 track lainnya, this one is my least favorite SUISSAC song. Di 3 track awal mereka bermain dengan durasi yang sama, sekitar 4 menitan, tapi track ini justru terasa lebih lama bagi saya. ‘Magnanimous’ adalah sebuah track yang dipenuhi oleh banyak ide-ide dan mungkin terasa sedikit terlalu kompleks bagi saya. Highlight di lagu ini terdapat di menit 2:24, solo gitar yang sangat indah dan mengawang, dengan sound ala gitar-gitar dari band Tortoise. Track penutup ‘My Reflection of Rejection the Definition Just too Insane’ adalah sebuah lagu rock yang lebih straight-forward jika dibandingkan dengan lagu-lagu lainnya di EP ini. Sangat fresh dan juga mengundang kalian untuk kembali mendengar EP ini dari awal lagi. Overall, produksi di album ini sangat keren dan ternyata ada produser Alyuadi (Heals/Fuzzy I) yang turut membantu memproduseri EP ini. SUISSAC adalah salah satu newcomer (dengan wajah-wajah lama) yang patut kalian tunggu aksi panggungnya.
Text by Aldy KusumahPhoto by Vendrie Openk
SUISSAC adalah rock supergroup baru yang dimotori oleh Angga Kusuma (Asiaminor / SSSLOTHHH / Billfold / Collapse) dan Eky Darmawan (Polyester Embassy / Rock N' Roll Mafia). Menurut press release nya, “Mereka berusaha menciptakan sesuatu yang benar-benar segar dan berbeda dari band-band sebelumnyaâ€. SUISSAC pun diperkuat oleh Alan Davison (Lamebrain) dan Emyr Farand (Asiaminor) di seksi ritem. Tentunya sebuah mini album dari para veteran industri musik ini akan menarik untuk disimak, apalagi dengan kover art yang menggunakan foto dari Deby Sucha. Epic adalah kata yang tepat untuk menggambarkan mini album ini. Dengan berleburnya latar belakang genre dari tiap personil dan pemilihan sound yang tepat, SUISSAC mempersembahkan 6 lagu untuk output perdana mereka dalam berkarya. 6 track yang tersaji di EP ini bisa dibilang cukup stand-out dan memiliki highlight yang berbeda pada detail aransemen nya. Dengan tema-tema lirik yang “mencerminkan kisah universal tentang perjuangan, cinta, kehilangan, harapan, dan keajaiban kemanusiaan yang tak terelakkanâ€. Let’s blast this EP on the speakers, shall we?
Dibuka dengan ‘In Silence’, sebuah banger track yang sangat cocok tirauh menjadi hidangan pembuka. Track ini juga bertugas untuk membangun mood di mini album bertitel “Magnanimous EP†ini. SUISSAC mengeksplor time-signature dan output sonic mereka dengan effortless. Sebuah aransemen yang lumayan kompleks, apalagi dengan banyaknya part yang berbeda sebagai fondasi lagu ini. Track kedua adalah single utama yang berjudul ‘Chrome Colliseum’, yang sedikit mengingatkan saya pada Mars Volta era “De-Loused in the Comatoriumâ€. Vokal Eky Darmawan bisa lebih lepas dan bebas untuk bereksplorasi disini, dan tentunya detail-detail departemen gitar pun diisi dengan baik oleh Angga Kusuma. Saya sangat menyukai quiet-loud dynamics di lagu ini, terutama pada 2:20 dimana lagu rock yang noisy ini berubah menjadi shoegazing alt-rock ala Swervedriver. ‘Nirsinar’ dibuka dengan riff gitar yang sedikit bluesy / stoner. Permainan para rhythm section Alan Davison (Bass / Backing Vokal) dan drummer Emyr Farand sangat groovy disini. Tight.
‘Gold Colosseum’ adalah sebuah track ambient pop berdurasi pendek yang (mungkin) bertugas untuk meredam 3 lagu sebelumnya; yang bertempo cepat, dipenuhi riff-riff noisy dan penuh secara instrumentasi. Titel track ‘Magnanimous’ kembali menaikkan mood pendengar. Menurut saya jika dibanding dengan 5 track lainnya, this one is my least favorite SUISSAC song. Di 3 track awal mereka bermain dengan durasi yang sama, sekitar 4 menitan, tapi track ini justru terasa lebih lama bagi saya. ‘Magnanimous’ adalah sebuah track yang dipenuhi oleh banyak ide-ide dan mungkin terasa sedikit terlalu kompleks bagi saya. Highlight di lagu ini terdapat di menit 2:24, solo gitar yang sangat indah dan mengawang, dengan sound ala gitar-gitar dari band Tortoise. Track penutup ‘My Reflection of Rejection the Definition Just too Insane’ adalah sebuah lagu rock yang lebih straight-forward jika dibandingkan dengan lagu-lagu lainnya di EP ini. Sangat fresh dan juga mengundang kalian untuk kembali mendengar EP ini dari awal lagi. Overall, produksi di album ini sangat keren dan ternyata ada produser Alyuadi (Heals/Fuzzy I) yang turut membantu memproduseri EP ini. SUISSAC adalah salah satu newcomer (dengan wajah-wajah lama) yang patut kalian tunggu aksi panggungnya.
Text by Aldy KusumahPhoto by Vendrie Openk
SUISSAC adalah rock supergroup baru yang dimotori oleh Angga Kusuma (Asiaminor / SSSLOTHHH / Billfold / Collapse) dan Eky Darmawan (Polyester Embassy / Rock N' Roll Mafia). Menurut press release nya, “Mereka berusaha menciptakan sesuatu yang benar-benar segar dan berbeda dari band-band sebelumnyaâ€. SUISSAC pun diperkuat oleh Alan Davison (Lamebrain) dan Emyr Farand (Asiaminor) di seksi ritem. Tentunya sebuah mini album dari para veteran industri musik ini akan menarik untuk disimak, apalagi dengan kover art yang menggunakan foto dari Deby Sucha. Epic adalah kata yang tepat untuk menggambarkan mini album ini. Dengan berleburnya latar belakang genre dari tiap personil dan pemilihan sound yang tepat, SUISSAC mempersembahkan 6 lagu untuk output perdana mereka dalam berkarya. 6 track yang tersaji di EP ini bisa dibilang cukup stand-out dan memiliki highlight yang berbeda pada detail aransemen nya. Dengan tema-tema lirik yang “mencerminkan kisah universal tentang perjuangan, cinta, kehilangan, harapan, dan keajaiban kemanusiaan yang tak terelakkanâ€. Let’s blast this EP on the speakers, shall we?
Dibuka dengan ‘In Silence’, sebuah banger track yang sangat cocok tirauh menjadi hidangan pembuka. Track ini juga bertugas untuk membangun mood di mini album bertitel “Magnanimous EP†ini. SUISSAC mengeksplor time-signature dan output sonic mereka dengan effortless. Sebuah aransemen yang lumayan kompleks, apalagi dengan banyaknya part yang berbeda sebagai fondasi lagu ini. Track kedua adalah single utama yang berjudul ‘Chrome Colliseum’, yang sedikit mengingatkan saya pada Mars Volta era “De-Loused in the Comatoriumâ€. Vokal Eky Darmawan bisa lebih lepas dan bebas untuk bereksplorasi disini, dan tentunya detail-detail departemen gitar pun diisi dengan baik oleh Angga Kusuma. Saya sangat menyukai quiet-loud dynamics di lagu ini, terutama pada 2:20 dimana lagu rock yang noisy ini berubah menjadi shoegazing alt-rock ala Swervedriver. ‘Nirsinar’ dibuka dengan riff gitar yang sedikit bluesy / stoner. Permainan para rhythm section Alan Davison (Bass / Backing Vokal) dan drummer Emyr Farand sangat groovy disini. Tight.
‘Gold Colosseum’ adalah sebuah track ambient pop berdurasi pendek yang (mungkin) bertugas untuk meredam 3 lagu sebelumnya; yang bertempo cepat, dipenuhi riff-riff noisy dan penuh secara instrumentasi. Titel track ‘Magnanimous’ kembali menaikkan mood pendengar. Menurut saya jika dibanding dengan 5 track lainnya, this one is my least favorite SUISSAC song. Di 3 track awal mereka bermain dengan durasi yang sama, sekitar 4 menitan, tapi track ini justru terasa lebih lama bagi saya. ‘Magnanimous’ adalah sebuah track yang dipenuhi oleh banyak ide-ide dan mungkin terasa sedikit terlalu kompleks bagi saya. Highlight di lagu ini terdapat di menit 2:24, solo gitar yang sangat indah dan mengawang, dengan sound ala gitar-gitar dari band Tortoise. Track penutup ‘My Reflection of Rejection the Definition Just too Insane’ adalah sebuah lagu rock yang lebih straight-forward jika dibandingkan dengan lagu-lagu lainnya di EP ini. Sangat fresh dan juga mengundang kalian untuk kembali mendengar EP ini dari awal lagi. Overall, produksi di album ini sangat keren dan ternyata ada produser Alyuadi (Heals/Fuzzy I) yang turut membantu memproduseri EP ini. SUISSAC adalah salah satu newcomer (dengan wajah-wajah lama) yang patut kalian tunggu aksi panggungnya.
Text by Aldy KusumahPhoto by Vendrie Openk
SUISSAC adalah rock supergroup baru yang dimotori oleh Angga Kusuma (Asiaminor / SSSLOTHHH / Billfold / Collapse) dan Eky Darmawan (Polyester Embassy / Rock N' Roll Mafia). Menurut press release nya, “Mereka berusaha menciptakan sesuatu yang benar-benar segar dan berbeda dari band-band sebelumnyaâ€. SUISSAC pun diperkuat oleh Alan Davison (Lamebrain) dan Emyr Farand (Asiaminor) di seksi ritem. Tentunya sebuah mini album dari para veteran industri musik ini akan menarik untuk disimak, apalagi dengan kover art yang menggunakan foto dari Deby Sucha. Epic adalah kata yang tepat untuk menggambarkan mini album ini. Dengan berleburnya latar belakang genre dari tiap personil dan pemilihan sound yang tepat, SUISSAC mempersembahkan 6 lagu untuk output perdana mereka dalam berkarya. 6 track yang tersaji di EP ini bisa dibilang cukup stand-out dan memiliki highlight yang berbeda pada detail aransemen nya. Dengan tema-tema lirik yang “mencerminkan kisah universal tentang perjuangan, cinta, kehilangan, harapan, dan keajaiban kemanusiaan yang tak terelakkanâ€. Let’s blast this EP on the speakers, shall we?
Dibuka dengan ‘In Silence’, sebuah banger track yang sangat cocok tirauh menjadi hidangan pembuka. Track ini juga bertugas untuk membangun mood di mini album bertitel “Magnanimous EP†ini. SUISSAC mengeksplor time-signature dan output sonic mereka dengan effortless. Sebuah aransemen yang lumayan kompleks, apalagi dengan banyaknya part yang berbeda sebagai fondasi lagu ini. Track kedua adalah single utama yang berjudul ‘Chrome Colliseum’, yang sedikit mengingatkan saya pada Mars Volta era “De-Loused in the Comatoriumâ€. Vokal Eky Darmawan bisa lebih lepas dan bebas untuk bereksplorasi disini, dan tentunya detail-detail departemen gitar pun diisi dengan baik oleh Angga Kusuma. Saya sangat menyukai quiet-loud dynamics di lagu ini, terutama pada 2:20 dimana lagu rock yang noisy ini berubah menjadi shoegazing alt-rock ala Swervedriver. ‘Nirsinar’ dibuka dengan riff gitar yang sedikit bluesy / stoner. Permainan para rhythm section Alan Davison (Bass / Backing Vokal) dan drummer Emyr Farand sangat groovy disini. Tight.
‘Gold Colosseum’ adalah sebuah track ambient pop berdurasi pendek yang (mungkin) bertugas untuk meredam 3 lagu sebelumnya; yang bertempo cepat, dipenuhi riff-riff noisy dan penuh secara instrumentasi. Titel track ‘Magnanimous’ kembali menaikkan mood pendengar. Menurut saya jika dibanding dengan 5 track lainnya, this one is my least favorite SUISSAC song. Di 3 track awal mereka bermain dengan durasi yang sama, sekitar 4 menitan, tapi track ini justru terasa lebih lama bagi saya. ‘Magnanimous’ adalah sebuah track yang dipenuhi oleh banyak ide-ide dan mungkin terasa sedikit terlalu kompleks bagi saya. Highlight di lagu ini terdapat di menit 2:24, solo gitar yang sangat indah dan mengawang, dengan sound ala gitar-gitar dari band Tortoise. Track penutup ‘My Reflection of Rejection the Definition Just too Insane’ adalah sebuah lagu rock yang lebih straight-forward jika dibandingkan dengan lagu-lagu lainnya di EP ini. Sangat fresh dan juga mengundang kalian untuk kembali mendengar EP ini dari awal lagi. Overall, produksi di album ini sangat keren dan ternyata ada produser Alyuadi (Heals/Fuzzy I) yang turut membantu memproduseri EP ini. SUISSAC adalah salah satu newcomer (dengan wajah-wajah lama) yang patut kalian tunggu aksi panggungnya.
Text by Aldy KusumahPhoto by Vendrie Openk
SUISSAC adalah rock supergroup baru yang dimotori oleh Angga Kusuma (Asiaminor / SSSLOTHHH / Billfold / Collapse) dan Eky Darmawan (Polyester Embassy / Rock N' Roll Mafia). Menurut press release nya, “Mereka berusaha menciptakan sesuatu yang benar-benar segar dan berbeda dari band-band sebelumnyaâ€. SUISSAC pun diperkuat oleh Alan Davison (Lamebrain) dan Emyr Farand (Asiaminor) di seksi ritem. Tentunya sebuah mini album dari para veteran industri musik ini akan menarik untuk disimak, apalagi dengan kover art yang menggunakan foto dari Deby Sucha. Epic adalah kata yang tepat untuk menggambarkan mini album ini. Dengan berleburnya latar belakang genre dari tiap personil dan pemilihan sound yang tepat, SUISSAC mempersembahkan 6 lagu untuk output perdana mereka dalam berkarya. 6 track yang tersaji di EP ini bisa dibilang cukup stand-out dan memiliki highlight yang berbeda pada detail aransemen nya. Dengan tema-tema lirik yang “mencerminkan kisah universal tentang perjuangan, cinta, kehilangan, harapan, dan keajaiban kemanusiaan yang tak terelakkanâ€. Let’s blast this EP on the speakers, shall we?
Dibuka dengan ‘In Silence’, sebuah banger track yang sangat cocok tirauh menjadi hidangan pembuka. Track ini juga bertugas untuk membangun mood di mini album bertitel “Magnanimous EP†ini. SUISSAC mengeksplor time-signature dan output sonic mereka dengan effortless. Sebuah aransemen yang lumayan kompleks, apalagi dengan banyaknya part yang berbeda sebagai fondasi lagu ini. Track kedua adalah single utama yang berjudul ‘Chrome Colliseum’, yang sedikit mengingatkan saya pada Mars Volta era “De-Loused in the Comatoriumâ€. Vokal Eky Darmawan bisa lebih lepas dan bebas untuk bereksplorasi disini, dan tentunya detail-detail departemen gitar pun diisi dengan baik oleh Angga Kusuma. Saya sangat menyukai quiet-loud dynamics di lagu ini, terutama pada 2:20 dimana lagu rock yang noisy ini berubah menjadi shoegazing alt-rock ala Swervedriver. ‘Nirsinar’ dibuka dengan riff gitar yang sedikit bluesy / stoner. Permainan para rhythm section Alan Davison (Bass / Backing Vokal) dan drummer Emyr Farand sangat groovy disini. Tight.
‘Gold Colosseum’ adalah sebuah track ambient pop berdurasi pendek yang (mungkin) bertugas untuk meredam 3 lagu sebelumnya; yang bertempo cepat, dipenuhi riff-riff noisy dan penuh secara instrumentasi. Titel track ‘Magnanimous’ kembali menaikkan mood pendengar. Menurut saya jika dibanding dengan 5 track lainnya, this one is my least favorite SUISSAC song. Di 3 track awal mereka bermain dengan durasi yang sama, sekitar 4 menitan, tapi track ini justru terasa lebih lama bagi saya. ‘Magnanimous’ adalah sebuah track yang dipenuhi oleh banyak ide-ide dan mungkin terasa sedikit terlalu kompleks bagi saya. Highlight di lagu ini terdapat di menit 2:24, solo gitar yang sangat indah dan mengawang, dengan sound ala gitar-gitar dari band Tortoise. Track penutup ‘My Reflection of Rejection the Definition Just too Insane’ adalah sebuah lagu rock yang lebih straight-forward jika dibandingkan dengan lagu-lagu lainnya di EP ini. Sangat fresh dan juga mengundang kalian untuk kembali mendengar EP ini dari awal lagi. Overall, produksi di album ini sangat keren dan ternyata ada produser Alyuadi (Heals/Fuzzy I) yang turut membantu memproduseri EP ini. SUISSAC adalah salah satu newcomer (dengan wajah-wajah lama) yang patut kalian tunggu aksi panggungnya.
Text by Aldy KusumahPhoto by Vendrie Openk
SUISSAC adalah rock supergroup baru yang dimotori oleh Angga Kusuma (Asiaminor / SSSLOTHHH / Billfold / Collapse) dan Eky Darmawan (Polyester Embassy / Rock N’ Roll Mafia). Menurut press release nya, “Mereka berusaha menciptakan sesuatu yang benar-benar segar dan berbeda dari band-band sebelumnyaâ€. SUISSAC pun diperkuat oleh Alan Davison (Lamebrain) dan Emyr Farand (Asiaminor) di seksi ritem. Tentunya sebuah mini album dari para veteran industri musik ini akan menarik untuk disimak, apalagi dengan kover art yang menggunakan foto dari Deby Sucha. Epic adalah kata yang tepat untuk menggambarkan mini album ini. Dengan berleburnya latar belakang genre dari tiap personil dan pemilihan sound yang tepat, SUISSAC mempersembahkan 6 lagu untuk output perdana mereka dalam berkarya. 6 track yang tersaji di EP ini bisa dibilang cukup stand-out dan memiliki highlight yang berbeda pada detail aransemen nya. Dengan tema-tema lirik yang “mencerminkan kisah universal tentang perjuangan, cinta, kehilangan, harapan, dan keajaiban kemanusiaan yang tak terelakkanâ€. Let’s blast this EP on the speakers, shall we?
Dibuka dengan ‘In Silence’, sebuah banger track yang sangat cocok tirauh menjadi hidangan pembuka. Track ini juga bertugas untuk membangun mood di mini album bertitel “Magnanimous EP†ini. SUISSAC mengeksplor time-signature dan output sonic mereka dengan effortless. Sebuah aransemen yang lumayan kompleks, apalagi dengan banyaknya part yang berbeda sebagai fondasi lagu ini. Track kedua adalah single utama yang berjudul ‘Chrome Colliseum’, yang sedikit mengingatkan saya pada Mars Volta era “De-Loused in the Comatoriumâ€. Vokal Eky Darmawan bisa lebih lepas dan bebas untuk bereksplorasi disini, dan tentunya detail-detail departemen gitar pun diisi dengan baik oleh Angga Kusuma. Saya sangat menyukai quiet-loud dynamics di lagu ini, terutama pada 2:20 dimana lagu rock yang noisy ini berubah menjadi shoegazing alt-rock ala Swervedriver. ‘Nirsinar’ dibuka dengan riff gitar yang sedikit bluesy / stoner. Permainan para rhythm section Alan Davison (Bass / Backing Vokal) dan drummer Emyr Farand sangat groovy disini. Tight.
‘Gold Colosseum’ adalah sebuah track ambient pop berdurasi pendek yang (mungkin) bertugas untuk meredam 3 lagu sebelumnya; yang bertempo cepat, dipenuhi riff-riff noisy dan penuh secara instrumentasi. Titel track ‘Magnanimous’ kembali menaikkan mood pendengar. Menurut saya jika dibanding dengan 5 track lainnya, this one is my least favorite SUISSAC song. Di 3 track awal mereka bermain dengan durasi yang sama, sekitar 4 menitan, tapi track ini justru terasa lebih lama bagi saya. ‘Magnanimous’ adalah sebuah track yang dipenuhi oleh banyak ide-ide dan mungkin terasa sedikit terlalu kompleks bagi saya. Highlight di lagu ini terdapat di menit 2:24, solo gitar yang sangat indah dan mengawang, dengan sound ala gitar-gitar dari band Tortoise. Track penutup ‘My Reflection of Rejection the Definition Just too Insane’ adalah sebuah lagu rock yang lebih straight-forward jika dibandingkan dengan lagu-lagu lainnya di EP ini. Sangat fresh dan juga mengundang kalian untuk kembali mendengar EP ini dari awal lagi. Overall, produksi di album ini sangat keren dan ternyata ada produser Alyuadi (Heals/Fuzzy I) yang turut membantu memproduseri EP ini. SUISSAC adalah salah satu newcomer (dengan wajah-wajah lama) yang patut kalian tunggu aksi panggungnya.
Unit doom/stoner metal asal Jakarta, Matiasu, telah resmi merilis nomor terbaru mereka yang berjudul “Poseidoom.” Proyek ini melibatkan vokalis dan penulis lagu, Daniel Mardhany, yang sebelumnya terlibat dalam berbagai proyek musik seperti BISINGGAMA, BongaBonga, dan darksovls. “Poseidoom” menjadi rilisan terbaru Matiasu sejak karya sebelumnya pada tahun 2019 berjudul “Confusion.” Materi lagu ini sudah digarap sejak tahun 2014 oleh duo Iqra Nur Rizky (vokal/gitar) dan Haris B. Setyawan (eks-drum) sebelum akhirnya direkam ulang pada tahun 2022 di Syaelendra Studio, Jakarta. Mereka menjaga kesinambungan dengan album sebelumnya dalam genre doom-stoner metal, dengan sentuhan tambahan unsur sludge dan traditional doom metal, tempo sedang rendah, dan fokus pada esensi musik tanpa banyak basa-basi.
Sementara itu, dalam hal lirik, “Poseidoom” menandai percobaan Matiasu untuk menggunakan Bahasa Indonesia dalam karyanya. Mereka bekerja sama dengan Daniel Mardhany untuk menulis lirik yang cocok dengan karakter lagu. Konsep lirik “Poseidoom” merujuk pada sisi gelap industri bahari, terinspirasi oleh film Seaspiracy yang mengungkapkan berbagai kontroversi dalam industri ini. Penamaan judul lagu ini sendiri merupakan gabungan kata “Poseidon” dan “Doom” yang merujuk pada laut dan elemen misteriusnya. Matiasu berencana merilis “Poseidoom” melalui kanal YouTube mereka pada tanggal 27 Oktober 2023, bersama dengan video musik yang akan menyusul. Mereka juga terus bekerja pada karya-karya lain dalam bentuk single untuk memperluas repertoar mereka setelah album pendek “Doom Dance.”
Kuartet beranggotakan Ratta Bill (vokal, gitar), Abi Chalabi (gitar), Smita Kirana (bass) dan Ariel Kaspar (drum) merilis album baru bertajuk “Capa City†yang sedikit berbeda dari rilisan-rilisan mereka sebelumnya (Geography, Perennial EP). Pertama, band yang rilisannya biasa dirilis Kolibri Records ini kini menemukan “rumah†baru di La Munai Records yang merilis album ini. Kedua, tidak seberti predesesornya, kali ini Bedchamber lebih bereksperimen dengan ritme, lebih mengambil nada-nada disonan dari no-wave dan tentunya terdengar pengaruh post-punk yang cukup kuat. Tapi jangan takut, kalian tetap akan menemukan gitar jangly khas mereka dan basslines yang catchy di “Capa Cityâ€.
Title track ‘Capa City’ menjadi pembuka album ini dengan basslines yang groovy, dan disambut gitar jangly daru Ratta dan Abi. Vokal dreampoppy khas Bedchamber langsung menyambut pendengar di aransmen Bedchamber yang tidak asing. Spoken words disini semakin menguatkan karakter no wave / post-punk yang semakin lekat dengan direksi baru band ini. ‘Peak Season’ dimulai dengan intro gitar disonan yang dengan ajaib disambut oleh bass dan melodi yang catchy. Mungkin arah musikal yang sedikit berbeda ini adalah pengaruh dari side-project Ratta Bill (Glyph Talk) yang memang terlihat nyaman di ranah no wave / post punk / egg punk.
Track keempat ‘Elevator Pitch’ adalah sebuah instrumental dengan melodi synth yang manis dan drum midi. Memang terdengar seperti elevator music. ‘Mandatory’ melanjutkan mood yang sudah mereka bangun di 4 lagu awal. Reff lagu ini seakan membius pendengar dengan diucapkannya kata “mandatory†secara repetitif. ‘Tired Eyes’ adalah single yang sudah mereka rilis sebelum album ini rilis. Tentunya bakal menjadi crowd favorite di performance Bedchamber di kemudian hari dan siap mengganti ‘Out of Line’ menjadi lagu andalan. Track ke 7 yang berjudul ‘Riptide’ adalah track favorit kami: Sedikit mengingatkan pada Deerhunter di era Microcastle (2008), in a good way. Perpaduan vokal Smita dan Ratta di part chorus lagu sangat stand out, the’ve should do this more. Outro di lagu ini juga sangat cakep; berkurangnya intensitas dari instrumen dengan riff yang repetitif always works. Overall, “Capa City†adalah sebuah eksplorasi yang berhasi, dan berhasil membawa Bedchamber ke level baru. Semua lagu disini ter-elevate oleh produksi yang pas, tidak over-produced tetapi tetap nyaman di telinga. Can’t wait to see them perform these songs live.
Justin Saunders sudah berhasil mengembangkan arsip kolaborasi dengan New Balance dan Reebok, lalu dia memulai partnership apparel dengan brand seperti Levi’s.
JJJJound bukanlah merek yang kamu tuju saat mencari desain yang mendorong inovasi atau mengambil langkah ke wilayah baru. Bagi sebagian orang, itu cukup untuk dianggap membosankan atau dilabeli kurang kreatif. Namun apa yang telah dilakukan oleh label asal Montreal ini dengan konsistensi adalah menciptakan barang kebutuhan pokok dengan kualitas tertinggi, dan ini tidak boleh diabaikan.
Kolaborasi merek yang paling populer adalah sepatu ketsnya dengan New Balance dan Reebok. Setiap artikel di-tweak agar lebih fresh, lapisan kain terry berwarna berbeda di Club C kulit putih atau suede berwarna earth-tone pada sepatu running New Balance. Di luar sepatu kets, brand ini mengambil langkah-langkah untuk membuat barang esensial terbaik, dan tidak takut merekrut kolaborator yang bisa meng-elevate contoh standar tersebut untuk melakukannya. Itu berarti membuat jaket dan jeans pengemudi truk dengan Levi’s atau mengajak Blackstock & Weber dari Chris Echevarria untuk membuat sepasang sepatu pantofel hitam yang ideal untuk setiap kesempatan. Untuk melengkapi sisa lemari pakaian, merek ini juga menyediakan chino santai, kemeja oxford, dan hoodies yang dapat dengan mudah dimasukkan ke dalam rotasi pakaian siapa pun. JJJJound tidak membuat pakaian yang membosankan. Mereka menyempurnakan wardrobe setiap konsumen nya.
Sejak diluncurkan pada tahun 2006 sebagai website virtual untuk referensi desain dan moodboard yang dikuratori, JJJJound telah beralih dari inspirasi digital ke studio desain yang nyata. Di bawah direksi pendiri brand Justin Saunders, studio yang berbasis di Montreal Kanada ini memproduksi produk terbatas yang mencakup bola pengering mesin cuci sampai biji kopi. JJJJound juga telah meminjamkan style normcore mereka yang cerdas untuk berkolaborasi dengan A.P.C., Reebok, Vans dan tentunya dua New Balance 990.
​​Bagaimana JJJJound Beralih dari sensasi Tumblr ke studio desain yang nyata? Sejak 2008, estetika Internet telah bernavigasi ke JJJJound.com untuk menikmati kehidupan yang baik. Situs ini, dimulai oleh orang Montreal Justin Saunders, berisi estetika visual yang keren: foto interior tonal, mobil elegan, wanita cantik, busana minimalis, meme kelas atas — dan daftarnya masih terus berlanjut. Estetika pemersatu JJJJound adalah taste dan cita rasa Saunders yang sangat tinggi, yang sangat tepat sampai Kanye West pun sering membuka website ini. Seiring waktu, Saunders mengembangkan studio kreatif yang berbasis di Montreal secara diam-diam dan bekerja dibelakang layar untuk beberapa nama terbesar di industri fashion dan hiburan (seperti Kanye West). Dalam beberapa tahun terakhir studio itu perlahan-lahan berkembang menjadi desain studio yang langsung berhadapan dengan pelanggan: menjual totebag, cangkir kopi, topi, kaus kaki, Vans, dan barang-barang penting lainnya di bawah moniker JJJJound. Produk JJJJound bukanlah barang dagangan yang sembarangan, karena Justin Saunders tidak hanya mengandalkan design minimalis nya, tetapi dia juga menciptakan pasar-pasar dan estetika jenis baru secara diam-diam.
Jakarta Doodle Fest (JDF) adalah sebuah perayaan seni visual dan kekayaan intelektual di Indonesia yang akan digelar pada tanggal 27-29 Oktober 2023 di M Bloc Space, Jakarta Selatan. Acara ini merupakan inisiatif dari TFR News, media online yang fokus pada industri kreatif, dengan tujuan untuk merayakan dan mengapresiasi seni visual, termasuk desain grafis, ilustrasi, dan animasi. JDF juga memberikan perhatian khusus pada hak kekayaan intelektual (IP) yang dimiliki oleh banyak seniman dan ilustrator, yang sering berkolaborasi dengan brand lokal maupun internasional. JDF akan menjadi platform untuk mengenalkan karya-karya mereka kepada khalayak yang lebih luas.
Dalam rangkaian acara JDF, tema yang berbeda akan ditekankan setiap harinya, mencakup desain grafis, ilustrasi, dan seni multidimensi. Acara ini akan dimeriahkan oleh anggota Board of Doodlers (BoD), sebuah komunitas seniman dan desainer terkemuka di berbagai bidang seni visual. Tujuan utama dari JDF adalah untuk membuka pemahaman tentang hak kekayaan intelektual dan mengenalkan karya seni kepada masyarakat umum, terutama bagi mereka yang bukan berasal dari industri kreatif.
Selain pameran seni, JDF juga menyelenggarakan berbagai acara terbuka untuk umum, termasuk art market, speaker sessions, workshop, dan performance. Pengunjung dapat menikmati berbagai karya seni dari seniman dan jenama terkenal di art market, serta mengikuti workshop dan speaker sessions dengan biaya terjangkau. Acara ini juga mengundang art enthusiasts dari berbagai latar belakang, dari mahasiswa hingga penggemar ilustrasi dan anime, untuk bersenang-senang dalam Karaoke Party dan Cosplay Party. Sebelum JDF digelar, TFR telah menyelenggarakan sejumlah pra-acara yang bertujuan untuk membangun kolaborasi dan saling pengenalan antara para kreator dalam industri seni visual di Indonesia.
United Hart atau UH! Adalah sebuah streetwear brand yang mempunyai koneksi erat dengan kultur skateboarding. Untuk merayakan International Skateboarding Day pada 21 Juni, mereka merilis sebuah video skate yang bertitel “Dialektika Eklektikaâ€. Mereka sukses menggelar malam pemutaran Video Full Length Skate Pertama mereka bertajuk “DIALEKTIKA EKLEKTIKAâ€. Diluncurkan bersamaan dengan #HappyGoSkateboardingDay 21 Juni 2023, Screening ini berlokasi di #UHSTORE, Jl. Trunojoyo No.4 Bandung.
Proses pembuatan film skate-video adalah budaya asli skateboard yang sudah dilakukan dari dulu oleh brand-brand seperti Toy Machine, Girl, Birdhouse, Zero dan lain-lain, dan sering dianggap sebagai dedikasi dari brand dan para skater itu sendiri terhadap budaya tersebut. Pembuatan video berdurasi 11 menit ini membutuhkan waktu pembuatan selama 3 tahun. Video itu sendiri terdiri dari semua riders UH!: Indra Dom-dom, Acil, Lil’ Dez, Rifo, Leika dan Rifky. Difilmkan oleh berbagai filmer Bandung, dan diedit oleh Iyo dan Indra Saefur. Mereka menghadirkan pendekatan baru dari musik dan editing. Video berdurasi 11 menit ini dibuka oleh parts Indra Dom Dom yang bermain tricky dan “kreatifâ€. Noseslide shove-it out dan nose-manual flip out dia lakukan dengan smooth. Berikutnya adalah Lil Dez yang terlihat effortless melakukan 360 flip dan backside kickflip. Lalu ada Acil dengan boardslide yang epic. Leika adalah satu-satunya riders perempuan disini dan sepertinya dia yang paling ngebut. Parts Leika juga banyak bermain di bowl. Parts Rifo dan Rifky cukup menarik juga dengan spots di Taman Lalu Lintas dan Monumen Perjuangan Bandung yang cukup ikonik. Video ini ditutup oleh scene bails para riders dengan soundtrack dari “Surrender†dari Suicide.
Orang-orang yang datang dan penasaran untuk menyaksikan pemutarannya jauh di luar dugaan, mereka harus membuat beberapa grup untuk menonton videonya secara bergiliran, karena kapasitas ruangan tidak cukup untuk menampung semua penonton. Para skater Bandung dari berbagai generasi berkumpul, mulai dari kru OG STREET SPYDERS / TLL, TG, 18Park, Pasoepati, Taman Pramuka dan masih banyak lagi wajah-wajah baru yang bergabung dalam acara tersebut. Malam kemudian diakhiri dengan lagu-lagu vinyl dari Indra Dom-dom dan Mr.Dymz.
PT Fuji Film Indonesia dan PT Blue Star Media (BSM Rental) berkolaborasi untuk meluncurkan lensa terbaru, HZK25-1000mm. Peluncuran ini diadakan di BSM Rental, Jakarta Selatan, dan dihadiri oleh para pelaku industri kreatif, termasuk videographer, photographer, director, dan content creator. Lensa HZK25-1000mm merupakan lensa pertama di dunia dan satu-satunya di Asia Tenggara yang mengusung konsep hybrid Cinema Broadcast Lens dengan mounting PL Mount. Keunikan ini membuat lensa ini cocok digunakan dalam berbagai situasi, seperti sinematografi, dokumentasi olahraga, festival, dan penyiaran. Lensa ini memiliki harga sekitar 2,4 miliar Rupiah dan dapat disewa melalui cabang BSM Rental dengan harga sekitar 16 juta Rupiah per hari. Tomi Defantri, pendiri PT Blue Star Media, menyatakan bahwa kerjasama ini bertujuan untuk mendukung para pelaku industri kreatif Indonesia dan berencana untuk membeli lensa HZK25-1000mm di masa depan.
Selain peluncuran lensa, acara ini juga bersamaan dengan acara rutin PT Blue Star Media, Crewcall, yang memungkinkan para pelaku industri kreatif berkumpul, berinteraksi, dan melakukan jaringan kerja. Semua tamu yang hadir juga mendapat kesempatan untuk mencoba beberapa produk dari BSM Rental, seperti Alexa Mini dan Sony Venice 2. Acara diakhiri dengan pembagian hadiah dan doorprize serta mendapat respons positif dari tamu dan awak media yang menghadirinya. Untuk informasi lebih lanjut mengenai produk, harga khusus, dan keuntungan lainnya, dapat diakses melalui akun Instagram @BSMRental. Dengan kolaborasi ini, PT Fuji Film Indonesia dan PT Blue Star Media berharap dapat terus mendukung perkembangan industri kreatif di Indonesia dan memberikan alat-alat berkualitas bagi para profesional di bidang ini.
Band pendatang baru asal Jakarta ini meleburkan karakter sonik dari beberapa genre berbeda, sebut saja post-punk, shoegaze, alt-rock dan death rock. Mungkin secara visual mereka terlihat seperti goth rockers, tetapi secara musik, mereka sangat versatile. Mari berbincang dengan Erlinda (vocal), Faizu (drums), Hara (bass) dan Elsha (keyboard / vocal) dan mengenai formasi tanpa gitaris, Sinjitos Collective dan anime favorit mereka..
Halo Retlehs. Sehat-sehat semua? Makan siang apa tadi?
Elsha: Halooo makan makanan 4 sehat 5 sempurna. yakni, karbo nasi, protein tahu dan ikan cakalang, juga serat sayur buncis dan susu UHT.
Hara: Hiii Jeurnals, sehat nih udah mulai biasa ama polusi, gue makan ayam Rocky lagi tadi hahaha..
Erlinda: Sehattt. Maksi ayam Sabana.
Faizu: Halo, Sehat kok , kebetulan siang ini saya makan deadline dari kantor yaa. Masih belum tau mau makan apa siang ini wkwk..
Kalian rilis EP Satyr’s Satire di tahun 2022 dan single 15:19 di 2023. Sedang sibuk ngerjain apa sekarang? Hara: Kita lagi ngerjain EP lagi nih lanjutan dari Satyr’s Satire yang kemaren
Elsha: Pas EP ini aku baru masuk Retlehs.. Seru banget nimbrung ngide, jadilah produksi masak memasak musik.
Kalian mulai sebagai trio tanpa gitar, dan sekarang menambah personil baru Elsha pemain keyboard. Apakah kalian anti gitaris? Hahaha..
Hara: WKWKWKWKW bukan maksud hati begituuuu, cuman kan rata rata semua mau jadi gitaris yaaa?? Jadi emang kita buka lowongan buat yang mau isi ya isi gitu hahaha. Ini request gitarisnya sih.. Mungkin dia mau bebas, kita beradaptasi saja.
Erlinda: Lebih ke masih situationship kali ya? Belom official. Masih dalam tahap PDKT sama gitarisnya nich.
Elsha: Tapi ada kok gitarisnya.. Cuman open bagi yang “pengen info loker genjreng”. Kita open relationship sih sama gitarisnya.
Faizu: Wkwkwkwk sebenarnya kita ga anti gitaris, tapi circle kita kebanyakan gitaris. Jadi biar kita bisa merepotkan teman-teman gitaris kita yah kita sengaja untuk mengosongkan loker gitaris di Retlehs karena terkhusus gitaris sekarang kita masih di open relationship yaa, belum mau komitmen sama gitaris karena ada trauma wkwkwkwk..
Lalu yang mengisi gitar di lagu-lagu kalian siapa? Apakah part-part gitar di rekaman kalian gangbang atau gimana?
Hara: Wah rame ini mah.. Kalo ngebuat part sih ramean ya, cuman emang kalo yang mainin dan isi ramean. Base guitar chord-chord sih gue biasanya, sisanya baru ada namanya Upang, terus Raka sama Vio dari Pvlette dan lain-lain. Sisanya ide-ide bareng sih melodi bacot. Efek-efekan dan sound-sound pasti si Faiz. Nah kalo live yang main bareng terus ama kita namanya Upang. Kalo ibarat Nirvana mah doi Pat Smear.
Faizu: Yess saya suka konsep gangbang ini wkwkwk. Coba di jabarkan Hara.. yess betul skali untuk pelaku yang ngisi bunyi-bunyian gitar nama ke tiga ini yang pasti kita repotin.
Elsha: Outsourcing..
On a darker note, MV kalian yang “Blue†ada tema mengenai kekerasan anak ya? Sebenaranya lyrically “Blue†itu tentang apa saja? Apakah bisa elaborasi sedikit mengenai MV dan tema liriknya?
Hara: Untuk MV sendiri kita pake pengibaratan yang cukup literal ya, dari mulai si modelnya dan scene-scenenya juga. Dibantu sama temen-temen kita juga, ada Hamdy gitarisnya Ixia sebagai model, dan ada anaknya bung Beno dari Lalahuta. Untuk liriknya, sikat Ca (Erlinda)..
Elsha: Silahkan poet nya “Blueâ€..
Erlinda: Satyr’s satire ini kan ngangkat tema 7 deadly sins ya. “Blue†itu buat Lust. Awalnya gak kepikiran tuh mau nulis beginian, tapi kebetulan pas kita lagi mau bikin-bikinan, ada kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur yang terjadi di pesantren. Dari situ gue langsung keinget film Spotlight yang bahas tentang kekerasan seksual anak di bawah umur juga tapi di gereja, yang kebetulan jauh lebih relatable sama gue yang Kristen. Malaikat-malaikat yang disebut di lagunya itu menggambarkan anak-anak kecil, covered in gold itu menggambarkan innocence. Turning blue = jadi biru = lebam/meninggal. The gods are hiding from us, ya bisa diartikan sendiri.. Untuk beberapa orang ngambilnya sebagai Tuhan sembunyi karena malu. Gue sih the gods are hiding from us karena gue kesel aja sih kenapa “yang di atas sana” ngebiarin hal-hal begitu terjadi Wkwkwkwkwkwk Biasalah, pemarah.
Masih membicarakan MV, 15:19 video klipnya ada scene yang mengingatkan saya ke film “Oldboy†nya Park Chan Wook dan beberapa film horror/thriller. Secara estetika visual dan storytelling, apa yang ingin kalian sajikan di MV ini?
Erlinda: Depression kills more than creepy ghosts in masks hahaha.. Tapi selain horornya ya Kita juga kasih kontras tuh di bagian yang dreamynya, Terang benderang di luar ruangan tapi cuman mimpi.. Karena apa? Lagi-lagi depression! Iyak Ahhh!! A ghost!! Sike it’s depression!
Hara: Yup emang sengaja kita mau bikin semi semi short movie horror gitu sih, main idenya dari Caca. Kalo visual emang agak retro Japanese horror gitu ga sih ya..
Faizu: Buat gue jawaban Hara sama Erlinda udah sangat mewakili yaa..
Elsha: Sama nich sudah diwakili Hara dan Caca..
Film-film horror favorit kalian berempat apa aja dan kenapa?
Elsha: Aduh bukan penggemar horror lagi… Tapi thriller/drama/crime boleh ga sih? A Clockwork Orange sih.. Kenapa? Ya karena potrayal characters nya. Kinda twisted, satire, secara general feeling creepy and eerie.. Dark undertones about morality..
Erlinda: Gw sih Autopsy of Jane Doe, Kalo thriller Old Boy. Old Boy thriller ga ya? Oh sama Paranormal Activity: Tokyo Night.
Hara: Gue kalo horror VVITCH, Hagazussa, terakhir Midsommar sih. Sama Pengabdi Setan 1. itu keren banget asli. Jalangkung dulu juga creep the shit out of me sih i likeee. Gue nonton Jalangkung 1 kan pas masih kecil yak, hampir mau kabur gue dari rumah saking ngerinya dulu tuh.
Gue juga sempat liat interview kalian yang membahas anime. Seberapa otaku kalian? The best anime versi masing-masing apa saja?
Hara: INI BARU PERTANYAAN RETLEHS HAHAHAHAAH! Anime kalo best of the best gue masih Nana sih, kedua Beck ketiga Soul Eater itu selalu jadi top 3 gue. Kalo game gue one and only Kingdom Hearts. Seberapa otaku??? Errr sebenernya ga segitunya sih cuman sering ke event jejepangan ama nongkrong di Toribar aja hahaha. Gue suka Jojo’s Bizarre Adventure tapi bukan best buat gue sih, Tapi Golden Wind sama Stone Ocean sih gue banget.
Elsha: Yaa gue penggemar dress up jadi cosplay juga (dengan jalur gabut karena corona) demen beberapa anime, juga self certified fujo. Anime nya suka Samurai Champloo, dan Cowboy Bebop karena musiknya dan aesthetic nya. Manga attention span saya jelek jadi bacanya yang pemuas hati fujoshi aja yaitu Given. Game juga karena strategi dan hand eye coordination saya yang jelek jadi Harvest Moon aja.
Faizu: Gue lagi Vinland Saga banget sih Season 1. Kalau game apa ya? Harvest Moon masuk ga sih? Wkwkwk Harvest Moon cukup menguras waktu masa kecil gue soalnya wkwkwk..
Erlinda: Gw ga wibu-wibu amat sebenernya tapi gw udh cosplay dari 2013 lah kira-kira. Itu seberapa otaku/weeb gw. Kalo manga Black Butler. Kalo anime Zankyou no Terror, Death Parade, sama Attack On Titan sih ya udah best. Vinland Saga bagus juga sih. Kalo game wibu kayanya gw OSU! deh.. WKWKWKWKWK Harvest makernya Jepang tapi kurang wibu.
Balik lagi ke miuzik. Kenapa memutuskan untuk masuk ke Sinjitos Records dan berkolaborasi sama Iyub sebagai produser? Awal histori nya gimana tuh sama Sinjitos?
Faizu: Awal mula gue pribadi emang dekat sama gitaris Lalahuta (Beno Louloulia) yang kebetulan emang Bung Beno ini A&R nya Sinjitos Collective saat itu dan sampai hari ini
terus lagu kita didengarkan ke Joseph Saryuf eh bapaknya suka sama band kita wkwk. Diajakin lah mau rilis di Sinjitos ga? Trus kita karena nothing to lose juga ya udah lah yuk kita rilis di Sinjitos. Ditambah kita tau nih Sinjitos jebolannya siapa aja dulu jadi ada kebanggaan juga lagu Retlehs disukai sama bapak Joseph Saryuf yang kita sudah tidak ragukan lagi doi punya selera musik ataupun lagu-lagu yang udah dia produce. Terus anak-anak pada mau, kita tanda tangan kontrak udah deh sampai hari ini jalan.
Kalau untuk mas Iyub sebagai producer musik nya Retlehs sebenarnya Mas Iyub ga terlalu nyemplung ke dalam proses pembuatan musik Retlehs dia bisa dibilang udah nyerahin ke kita. Biasanya kalau produksi udah final baru kita lempar materi ke bapak Joseph untuk proses mixing mastering biasanya doi suka nambahin bunyi-bunyian tuh. ini POV gue ya yg lain boleh tambahin.
Hara: Dari gue cukup sih ini.
Erlinda: Gw ga ada tambahan..
Pertanyaan terakhir: definisi Retlehs / shelter buat para personil apa?
Elsha: Maybe sounds cliche karena namanya aja shelter kan, tapi it is shelter for me as in media dan safe space untuk aku eksplorasi, beropini dan melakukan musik. Dimana lagi-lagi klise.. It was a long dead dream of mine untuk main musik. Semenjak masuk Retlehs, i got the best of both worlds, and i will cherish this and work hard for something worth paying for.
Hara: Kalo gue pribadi sih, Retlehs buat gue ya rumah, tempat gue istirahat, tempat gue pulang, tempat paling aman gue, that’s it.
Erlinda: Rumah, itu udah paling bener sih.
Faizu: Apa yuh pren? Sebenarnya Elsa dan Hara udah mewakili WKWKWKWKWKWK
Words & interview by Aldy Kusumah Photo cover by @falkafff & live by @rgn6foto
EASTHOOD, brand yang telah berdiri kokoh di kota Bandung sejak tahun 2002, baru-baru ini mengumumkan peluncuran koleksi terbarunya yang sangat dinantikan: Dystopian Discipline. Koleksi ini merupakan ekstensi dari koleksi sebelumnya, Boyz In Da Hood, dan menghadirkan semangat perjuangan dalam era yang mereka sebut sebagai era Distopia. Terinspirasi oleh ketahanan dan tekad di akhir era ini.
Dystopian Discipline menghadirkan berbagai produk seperti T-shirt, pullover, metal lighter, kaus kaki, shorts, pants, trucker hat, dan berbagai jenis tas. Setiap item dirancang dengan teliti dan menggunakan bahan premium untuk menjamin kenyamanan dan ketahanan.
Namun, Dystopian Discipline lebih dari sekadar koleksi fashion; ini adalah sebuah pengingat dan ajakan. Koleksi ini mengingatkan kita akan tantangan yang dihadapi oleh individu dalam kehidupan sehari-hari, dan merayakan ketekunan yang mendorong mereka untuk mengatasi ketakutan dan bersatu dalam perjuangan, dengan keyakinan bahwa masa depan yang lebih baik dapat dicapai. Koleksi ‘Dystopian Discipline’ tersedia untuk dibeli secara online di www.easthood.net dan Official Marketplace Easthood, serta dapat ditemukan secara langsung melalui Arena Experience di Jl. Ambon No.9, Bandung, 40115.
Aksara Records, label musik legendaris Indonesia, telah menggebrak kembali setelah tidur panjang selama 12 tahun. Mereka kini memulai babak baru dalam khasanah musik nasional dengan koleksi “2004-SKRG,” yang menghadirkan talenta-talenta baru seperti Bilal Indrajaya dan Kurosuke. Dalam koleksi ini, Bilal Indrajaya merayakan kesuksesan album “Nelangsa Pasar Turi,” sementara Kurosuke bersiap merilis album ketiga berjudul “Distant Memories”. Koleksi merchandise mereka juga memvisualisasikan semangat musik Jakarta melalui berbagai elemen, mengingatkan pada masa kejayaan musik pada tahun 2004. Dengan kembalinya Aksara Records, kita dapat mengharapkan kehadiran segar dalam dunia musik Indonesia, memadukan sejarah yang kaya dengan masa depan yang cerah.
Selain menggugah kenangan masa lalu dengan visualisasi raungan gitar Telecaster, vokal memikat, dan lagu ikonik seperti “Aku Cinta J.A.K.A.R.T.A,” koleksi merchandise ini juga memperkenalkan Bilal Indrajaya dan Kurosuke sebagai bagian penting dari Aksara Records.
Dengan koleksi “2004-SKRG,” Aksara Records tidak hanya menghadirkan kembali nostalgia, tetapi juga membawa semangat segar dan kejutan dengan talenta-talenta baru.