Setelah merilis EP “5 Stages of Doomed Romance” pada tahub 2021 lalu, Milledenials kembali dengan merilis maxi-single “Precious Me” & “Feel Any Pain”. Band asal Bali yang terbentuk pada tahun 2020 lalu ini menggabungkan modern shoegaze dengan fast-paced tempo dan elemen emo-core sehingga dua lagu dengan total durasi 6 menit ini terdengar unik.

Dari segi lirik, Milledenials menceritakan tentang terjebak di suatu hubungan yang saling menyedihkan lewat “Precious Me”. Kalau “Feel Any Pain” bercerita mengenai kelelalahan dan stress setelah menjalani tour. Meskipun bercerita mengenai kelelahan dan stress pasca tour, Milledenials dikabarkan akan kembali menjalani tour ke beberapa kota dalam rangakaian “The Peak of Youth Life Tour”.

Maxi-single “Precious Me” & “Feel Any Pain” sudah bisa didengarkan di semua platform musik digital.

Mendengarkan mini album ‘Pesona Destruksi Diri’ dari Hallam Foe membawa saya ke era tahun 2000an dimana metalcore/chaotic sedang menjamur di bawah naungan Ferret Records atau Trustkill Records. Jika kalian menyukai Curl Up And Die, Norma Jean, Fear Before The March Of Flames, dan Heavy Heavy Low Low, mungkin kalian akan jatuh cinta pada trio metalcore dari Malang ini. EP ini dibuka dengan sebuah track yang berjudul “Kemungkinan Mungkin Memungkinkan”. Track yang intens ini dipersembahakan dengan aransmen dan komposisi musik yang tight. Trio Nisa (vokal), Lewi (drums) & Gilang (gitar/vokal) juga sepertinya memiliki tendensi untuk tidak terlalu serius dan sedikit bercanda. Seperti menulis “band pop punk” di bio Twitter & Instagram mereka atau pun menyelipkan skit dialog dengan sedikit dark joke di intro track kedua “Saku Berisi Debu”. Track yang padat karya ini hanya berdurasi 1:30 detik saja, dan mereka memainkan musik seakan tidak ada hari esok.

Lagu ketiga di mini album ini adalah “Aku Untukmu Selamanya”, yang menjadi instant favorite. Di track ini Hallam Foe berkolaborasi dengan Andrean Giovanni. Diawali dengan intro riff gitar yang sangat catchy, plus that clap sound at the intro was pure genius. Tentunya mereka bersedia untuk mengajak penonton berdansa seolah ini adalah tahun 1999. Hmm saya mencium juga sedikit riff nu-metal diselipkan disana-sini, disambut oleh gang vocals yang meneriakan lirik “Selamanya!”. Dan kejutan pun belum berakhir karena ada part “spoken words” di akhir lagu yang cukup bombastis. EP ini ditutup oleh sebuah lagu berjudul “Sebuah Seni Untuk Bersikap Morbid”. Oh betapa catchy nya riff gitar di lagu ini, dibuka dengan lirik “Ku menari di antara apokalips / Ku sisih waktu / ‘Tuk tuang sloki / Dan harakiri” kalau mereka membawakan lagu ini secara live saya yakin crowd akan sedikit menggila. Outro lagu ini menyelipkan sebuah beat dancey ala The Blood Brothers lalu Nisa kembali mengucapkan scream nya yang repetetif “Gali makam diri sendiri / Gali makam diri sendiri” sampai lagu berakhir. Ya, durasi EP ini terasa kurang cukup untuk memuaskan dahaga kita, cause we’re askin’ for more. Full album soon maybe?

 

Words by Aldy Kusumah

Conbini Style belakangan ini terlihat dimana-mana. Conbini menggarap design, merchandise & fanart idol sampai T-Shirt dari band-band seperti Dazzle, Devil Despize, Drizzly dan Much. Design Conbini sangat berkarakter: visual yang cartoony, layout ramai dan warna-warna yang vibrant. Mari berbincang dengan Farhan Endy, pria yang berdomisili di B-area (Malang), mengenai segala sesuatu yang berhubungan (atau tidak) dengan Conbini..

Hai mas Farhan Endy, bisa ceritain ga awal mula lo bikin Conbini dan konsep awalnya seperti apa?

Selamat malam, awal mula Conbini itu di pertengahan 2016, dulu namanya masih Internet Posesif, terus di tahun 2020 ganti jadi Conbini. Kalau konsep awalnya kita ga ada konsep sih hehe, cuma hobi aja bikin design merchandise & fanart idol gituu.

Conbini ini range nya lumayan luas ya, dari bikin merch band-band hardcore lokal sampai fanmade JKT48, Red Velvet dan Newjeans. Kurasi yang lo terapkan dalam memilih suatu band atau membikin sebuah merch itu berdasarkan apa aja?

Iya rangenya Conbini lumayan luas juga yaa hehe, kebetulan kalau beberapa band lokal yang udah pernah Collabs sama Conbini sebenernya kaya saling bantu aja sih, mereka ada kebutuhan artistik visual buat band-nya ya kita bantu buatkan aset visual sampe rilis merch nya juga. Contohnya yang pernah collabs sama Conbini ada Devil Despize, Drizzly sama yang terakhir Much. Kalo kurasinya sih kebetulan musik mereka aku suka, lagunya enak-enak, jadi dari genre apa aja kita masuk.

Kalau [Fanmade] seperti JKT48, NewJeans, Itzy dan sebagainya itu gara-gara suka aja sama sama musiknya, terus iseng bikin-bikin fanart versi Conbini, buat diposting aja di sosmed, dan ternyata temen-temen banyak yang request buat dijadiin merch, yaudah lahh kita gas aja.

Grafis Conbini selalu terlihat padat di layout, cartoony dan sangat colourful. Referensi dan influence lo dalam berkarya dari mana aja sih? bisa ceritakan sedikit ga?

Kalau referensi Conbini lebih ke grafis poster-poster game Jepang Nintendo tahun ‘90an, kalau kebanyakan graphic design sekarang sih kebanyakan dari Braindead, Online Ceramics dan Studio Balcony. Itu aja sih..

5 game Nintendo favorit lo apa aja?

Kalau game aku ga main sih, cuma seneng ngeliatin visualnya aja, entah itu poster sampe layouting gameplay nya. Kalau paling suka sama cover-cover game Konami, Capcom sampe Sega. Itu banyak banget yang jadi referensi buat Conbini. Dulu main sih tapi kasetnya bajakan yang mix isinya banyak game, soalnya asal dibeliin aja pas SD wkwkw..

Kalau Visual dan cover art game-game yang favorit ini sih mas:
1. Rampage
2. Zelda
3. Mario
4. Dragon Quest

Lo juga bikin playlist Kpop di Spotify Conbini. Top 5 album k-pop favorit lo apa aja? Dan kenapa?

Top album idol Conbini:
1. JKT48 – Seishun Girls
(ini setlist terfavorit soalnya Oshi kebetulan (dulu) ada di team terkuat KIII, jadi enjoy aja di dengerin berkali-kali & lagu-lagunya juga relate sama realita wkwk

2. ITZY – Voltage
Ini banger-nya Itzy sih kalo menurut aku, kalo dengerin EP ini bawaannya jadi semangat aja.

3. Red Velvet – The ReVe Fest 2022 Birthday
Kalo ini suka visual sama musiknya sih, merchandise nya keren-keren juga.

4. JKT48 – Pajama Drive
“This is not the best setlist, but the dreams start from here”

5. NewJeans – 1st EP
Fresh banget sih kalo ini, baru denger pas awal-awal rilis dulu langsung suka, Minji juga lucu bangett..

Conbini cukup unik-unik varian produknya, dari box cap, pewangi mobil sampai tumbler Drizzly. Apa ada beberapa wishlist ingin membuat suatu barang yang belum kesampaian?

Wishlist produk yang belum kesampaian lumayan banyak sih, kaya Full Print shirt, work jacket, Jaket outdoor, Pants, pengen bikin zine apa buku isinya artwork temen-temen juga, sama aneka home goods gitu lah. Semoga kita bisa lebih produktif lagi.

Apa yang lo sukai dari skena musik dan kreatif kota Batu?

Yang paling saya suka dari temen-temen skena musik & kreatif B-AREA itu semangat Do It With Your Friends-nya masih terasa banget, disini meskipun kita punya hobi atau minat yang beda-beda tetap bisa kolaborasi jadi satu, skena musik sama seni visual kaya ga ada kotak-kotaknya gitu.

Sejauh ini sudah kolaborasi dengan band apa saja? Dan kenapa memilih mereka? Kedepannya akan ada kolaborasi dengan band apa aja?

kalau dari Band ada Ravage, Devil Despize, Drizzly, Dazzle, Much. Milih mereka ya karena suka sama musiknya, kebetulan masih temen-temen juga jadi saling bantu aja. Kalau collabs sama Conbini ga terbatas di merch band aja sih, kita juga pernah collabs buat event, kaya bareng Greedy Dust kita bikin Pameran Show No Mercy di Surabaya & Malang, Bareng Azizi Ordinary Team (fanbase Zee) kita juga pernah, terus yang terbaru sama event 1 Dekade Bingo! Jadi macem-macem aja outputnya. Kalau wishlist collabs sama Band, sementara ini pengen sama The Dare aja sih (kalo bolehh hehe).

Pertanyaan terakhir: kalau ada tamu atau teman luar kota datang ke B-AREA, 5 tempat kuliner yang bakal lo rekomendasikan apa aja? dan kenapa?

Rekomendasi kuliner B-area
1. Askara park, nasi kulitnya okeee banget, buka dari pagi juga…
2. Rujak Sawah Buk Rini (belakang cafe Ancala, warungnya warna biru) pokoknya kalo pesen rujak harus pake nasi hehe. Viewnya kebun bunga.
3. Mie Ayam Pak Agus (gang garasi) mie ayam favorit sih kalo ini, dari jaman sekolah.
4. Cilok Naruto (alun-alun Batu) pokoknya cari aja gerobak cilok ada stiker Naruto-nya. Dijamin enak.
5. Puthu pandan depan kuburan sisir, jadi dipinggir jalan depan kuburan itu banyak warung tenda, terus yang di tengah ada 1 yang jualan puthu, wajib dicoba.

 

Interview & text by Aldy Kusumah
Photos by Conbini

Sempat dikabarkan non-aktif setelah mengadakan “Pearl Futura” pada September 2023 lalu, Futura Free kembali dengan menggelar gigs “Spit The Rat” pada 30 April 2023 mendatang. Selain mengadakan gigs kembali, kolektif yang berbasis di Bandung ini hadir dengan logo baru.

Jajaran line up yang diisi oleh band-band hardcrore seperti Peach, Pleazure And Pain, Neurova, Bleach, Prejudize, Vibrant, The Horror Tribe dan Nut. Menandakan bahwa Futura Free kembali ke root hardcore show lewat “Spit The Rat”. Bukan hanya itu, Futura Free juga merilis CD kompilasi berisikan lagu-lagu pengisi “Spit The Rat” dan mengeluarkan special merchandise totebag sebagai gift untuk 100 orang pembeli tiket pre-sale 1. Untuk yang tidak kebagian gift, Futura Free bekerja sama dengan Dowtown Market untuk merilis eksklusif t-shirt dan totebag bertajuk “Ftown”.

Tiket “Spit The Rat” tersedia secara online dan offline di store Downtown Market dan Sorry Not Sorry Bitch. Untuk venue akan segera diumumkan oleh Futura Free dalam waktu mendatang.

Sebelum merilis debut album nya, Bleach rupanya ingin “menghangatkan” suasana dengan sajian EP berisi 4 lagu ini. Walaupun single “Ice Cold” dan “Overcast” sudah dirilis tahun 2022 kemarin, hal ini tidak menghentikan Bleach untuk menyajikan 4 lagu dengan packaging yang menarik ini. Track pembuka “Chrome” adalah track tersingkat di EP ini. Dengan hanya bermodalkan durasi 1:42 detik, Bleach mampu menyajikan sebuah track opener yang singkat namun padat. Dibuka oleh dentuman drum yang intens diiringi suara synth yang indah, basslines pun menyambut. Michael (vokal) langsung menyambut rekan-rekan nya dengan spoken words “Gotta find my way back to the cold / I see everything in chrome / Asking myself if this thing worth the pain / I see everything in chrome“. MV “Chrome” pun rilis pada saat tulisan ini ditulis (15/03). Tidak salah bila mereka memilih track ini untuk memulai jumpstart menuju rilisnya full album Bleach nanti.

Track kedua adalah “Scales”, sebuah track yang mungkin diperuntukkan bagi kaum Libra. Lagu alternative rock ini mungkin terinspirasi Drug Church dan Diamond Youth yang album “Don’t Lose Your Cool”. Menariknya, di track ini Bleach berkolaborasi dengan Andika Surya dari Collapse, sehingga cukup membawa warna lain ke lagu ini. Sebuah track yang catchy dan diakhiri oleh sajian pop jazz dreamy ala slacker rock, lagu pun kembali intens saat lirik “Leaving you is not easy” dinyanyikan. Sebuah track yang sangat fresh dan akan menjadi fan favorite di kemudian hari. “Overcast” adalah sebuah track ala tough guys HC, yang kemudian dibalut oleh riff dan vokal bernyanyi yang sedikit grungy. Dan tiba-tiba, suara perkusi pun masuk ditemani oleh basslines yang groovy dan gitar dengan wet chorus. “Iced Cold” mungkin adalah track favorit saya di mini album ini. Dibuka dengan suara flanger yang came out of nowhere, lalu tiba-tiba U-turn menjadi riff ala Nirvana era ‘In Utero’. Vokal Michael tetap menjaga intensitas dan membuat lagu ini pun tetap berada di koridor hardcore yang kental. Riff gitar pun sangat solid di seluruh lagu ini, tanpa ada momen-momen yang membosankan.

For fans of: Higher Power, Expire, Backtrack, Turnstile dan Trapped Under Ice, EP dari Bleach ini menurut saya sangat segar secara musikalitas. Can’t wait to see what surprises they’ve got for us in the upcoming album.

 

Words by Aldy Kusumah

Saturay Night Karaoke, membuka rentetan rilisan ditahun 2023 ini dengan merilis single “…Abnormal? Abnormal!!!” pada Kamis (13/4) lalu. Single terbaru dari trio punk rock asal bandung ini terdengar berbeda bilang dibandingkan dengan karya-karya sebelumnya. Dimulai dari tempo yang lebih agresif sampai pilihan lirik yang kembali mengunakan bahasa Indonesia, meskipun sebelumnya pernah memakai lirik bahasa Indonesia di lagu ‘Lamar dan Bertemu”.

Menurut Prabu (gitaris & vokalis) sekaligus sebagai penulis “…Abnormal? Abnormal!!!” “topik lagu ini sebetulnya sederhana, cuma tentang kemawasan diri kalau pilihan karir yang mungkin kita emban mungkin tidak semenjanjikan atau seprestius kawan-kawan di luar sana yang pekerjaannya lebih ‘settle’. Tapi toh apalagi yang bisa kita lakukan soal itu? Paling cuma tetap menjalani pilihan karir kita sembari makan hati. Karena pada akhirnya perspektif kita soal ‘sukses’ mungkin tak pernah senada dengan parameter kesuksesan banyak orang di luar sana,”.

Untuk single terbaru dari unit punk rock yang telah terbentuk dari tahun 2008 ini, SNC mengajak Dennis Ferdinand untuk memproduseri “…Abnormal? Abnormal!!!”. Dengan adanya wajah baru pada posisi bass Yana Setya dapat memberikan nuansa baru pada single yang menjadi lagu pertama dari rangkaian EP Saturday Night Karaoke yang rencannya akan rilis pada akhir tahun 2023 ini.

Makoto Shinkai mendapatkan ide untuk “Suzume” saat dia berkeliling Jepang untuk memberikan mempromosikan karya-karyanya. Di Jepang ada kebiasaan untuk mengadakan “jichin-sai” atau upacara peletakan batu pertama, sebelum konstruksi dimulai pada gedung atau rumah baru. Tetapi menurut sebuah wawancara, menurur Makoto Shinkai, orang Jepang tidak melakukan apa-apa saat menutup sebuah gedung, rumah atau konstruksi tertentu. Shinkai memperhatikan bahwa ada banyak daerah kosong dan terbengkalai di Jepang karena angka kelahiran yang menurun dan populasi yang menua, jadi dia pun sepertinya berpikir untuk menulis sebuah cerita mengenai “tempat-tempat sepi yang terlantar” dan mengajak para penonton untuk berkabung bersama. Anggap saja film ini sebagai sebuah homage atau tribute mengenai tempat-tampat terlantar yang di masa lalu penuh dengan kehidupan.

Lalu fim ini pun seketika menjadi sebuah road-movie dengan unsur komedi yang menyenangkan, dan tentunya sedikit lebih ringan, apalagi jika dibandingkan karya-karya nya terdahulu nya. Fase ini mungkin bisa kita sebut “emo phase” nya Makoto Shinkai, dimana tema-tema tentang kehilangan, jodoh dan cinta dia kemas dengan musik dari Radwimps. Fase emo Makoto adalah: The Place Promised in Our Early Days (2004), 5 Centimeters per Second (2007), dan The Garden of Words (2013). Tetapi jika membicarakan genre adventure dan fantasy, Makoto sudah pernah membuat Children Who Chase Lost Voices (2011). Dan sekarang kita sampai ke fase terkini dari Makoto dimana dia menggabungkan “emo phase” nya dengan tema-tema sci-fi, fantasy dan sedikit lebih spiritual: Your Name (2016), Weathering with You (2019) dan Suzume (2022).

Memang Suzume terasa lebih ringan, light-hearted dan bahkan lebih fun dibandingkan Your Name (2016) atau Weathering with You (2019). Untuk visual, sepertinya Makoto sudah nyaman menggabungkan style anime dengan CGI, dan untungnya semua itu berbaur dengan sempurna. Pacing juga sedikit frantic, dimana dari awal film dimulai situasi sudah sedikit intens. Perjalanan kedua protagonis; Suzume dan Souta, dalam “menutup pintu” dan mencegah gempa-gempa terjadi lumayan menegangkan. Editing jump-cuts ala French New Wave kembali diterapkan Makoto di film ini walaupun lebih kental di Kimi No Wawa ataupun Weathering with You. Tema-tema supernatural, kematian, pengorbanan diri dan keluarga sudah pasti akan relate dengan para penonton. PS: Jangan lewatkan montage keren di dekat akhir film. Saya tidak akan menggali lebih dalam mengenai plot nya disini, tetapi jika kamu adalah seorang fan dari Makoto Shinkai, maka segeralah pesan tiket film ini dan tontonlah di layar lebar. Visual indah seperti memang sudah seharusnya ditonton di layar lebar, bukan di laptop.

Words by Aldy Kusumah

Roda Nona adalah 4 sahabat yang memiliki hobby sama: berpetualang menggunakan segala sesuatu yang berhubungan dengan roda. Tidak harus berbentuk motor, menurut mereka bermain dengan sepatu roda atau berkendara menggunakan mobil juga masih masuk ke konsep “Roda Nona”. Ketertarikan mereka terhadap kuliner, hidden spots, travelling, otomotif dan fashion berhasil membuahkan konten-konten menarik. Mari berbincang dengan Bella, Khansa, Laras dan Wanda mengenai Roda Nona..

Hai Roda Nona! Bisa ceritain ga awal mula kalian bikin Roda Nona ini gimana? Konsep nya datang dari mana?

Bella: Sebetulnya aku yg terakhir join, tapi kita udah main bareng dari beberapa tahun lalu. Untuk konsep sih ya gitu aja 4 girlfriends yang suka sharing dan menikmati hidup di berbagai lika-likunya, kebetulan kita tertarik sama motoran makanya namanya ada rodanya. Tapi roda juga ga terbatas di motor kok, bisa mobil, sepeda, rollerskate, dan lain-lain..

Khansa: Awalnya dari ngobrol sore after office kita kaya mikir pengen ngapain ya kegiatan yang bisa mengisi weekend setelah senin-jumat office work gitu, terus karena memang kita suka banget piknik dan hiking, munculah ide (kalau) kayanya kegiatan-kegiatan kami ini bisa didokumentasikan.

Laras: Jadiii awalnya obrolan ini bermula dari Aku, Khansa dan Wenda di Caup Dangu, salah satu cafe di Bandung. Waktu itu aku lagi cuti blok jadi aku nyusul Khansa yang lagi kerja remote. Ngobrol ngobrol ngobrol.. makin seru kan, sampe akhirnya sampai ke obrolan harus ngapain ya untuk menyalurkan energi kita disamping kerja dari senen s/d jumat. Waktu itu suamiku baru aja beli vespa, langsung kepikiran banget kenapa kita gak berkegiatan pake motor aja kemana-mana dan didokumentasikan, karena biasanya kita kalau weekend nongkrong, piknik atau hiking pasti pake mobil kan. Dari situ mulai tuh ide-ide bermunculan.. dan kepikiran kalau misalnya ada 2 motor harus ada yang video in ya.. Jadi harus rekrut 1 orang lagi hahaha.. Dari situ langsung kepikiran Bella sih yang cocok untuk ngelengkapin karena secara gaya dan selera udah 1 frekuensi.

Jadi awal mulanya Roda Nona tuh mulai dari motor, helm pinjam dulu.. Sampai akhirnya kita bener-bener beli sendiri hehe.. Aku pribadi bisa punya Vespa karena menjual mobilku, jadi aku sebenarnya agak impulsif sih jual mobil, terus uangnya aku beliin Vespa & Mobil Van Jadul gitu hahaha..

Wenda: Sebuah bentuk momen magical sih kalo Roda Nona, karena kami berempat memang sudah dekat dari dulu dan kebetulan punya hobi yang sama seperti piknik, hiking, explore outfit (lebih ke sama-sama banyak gaya :D). Dipertemukan kembali di Capdangu, momen ga sengaja ketemu Khansa dan Laras yang lagi cuti kerja, kebetulan aku waktu itu baru aja resign dan lagi serius dengan eksplorasi jalan-jalan. Akhirnya dari obrolan panjang kami memutuskan untuk lebih serius menikmati hidup bareng lewat piknik, jalan-jalan seperti dulu tapi kali ini lewat berkendara, iseng aja sih karena kayanya seru naik motor terus pake baju gemes dan main cafe to cafe di akhir pekan, lalu akhirnya kami mengajak Bella untuk masuk sekte serius dalam bermain ini hahahaha. memang pada dasarnya apapun yg dilakukan dengan serius dan pake hati tuh beda, rasanya lebih kena ke hati untuk jalaninnya, dan jadilah hari ini kami menjadi Roda Nona yang siap menikmati banyak hidangan langka di depan!

Background dan pekerjaan kalian apa saja?

Bella: Aku design writer di sebuah branding consultant di Bandung.

Khansa: Campaign Manager di Digital Banking .

Laras : Credit Analyst di Bank Swasta.

Wenda: 8 tahun menjadi Brand Strategist, dan AE di sebuah Branding Consultant di Bandung, lalu pekerjaan yang masih dilakukan sampai saat ini adalah menjadi Voice Over Talent, Storyteller di sekolah alam Camar Ceria, Traveler, MC dan terkadang jadi Fashion Stylist juga.

Selain membuat konten di Instagram, kalian juga aktif di Tiktok. Challenge nya pasti berbeda dong? bagaimana sih perbedaan netizen Instagram dan Tiktok menurut kalian pribadi?

Bella: Jujur aku kurang ngerti sama algoritma Tiktok, tapi saat aku ngepost tiap hari memang engagementnya bagus. Kalo instagram, biasanya yang ada motor sama muka sih yang engagement nya bagus hahaha..

Khansa: Kalau untuk TikTok kayaknya masih belum bisa baca algoritmanya karena juga trendnya lumayan cepat berubah. Challengenya itu mungkin ya jadi masih suka AB testing, tapi kalau buat Instagram udah lumayan keliatan mana yang disuka sama audience kami bentuk contentnya.

Laras : Kayanya jawabannya hampir sama kaya yang lain hehe, masih bingung sih sama Tiktok tuh gimana Algoritma nya. Jujur Tiktok juga aku masih ngulik banget. Kalau netizen, aku rasa Tiktok lebih aktif komentar ya dan banyak banget yang komentarnya out of the box bikin ketawa hahaha. Nah kalau Instagram lebih kenceng di Like sama share nya (mereka banyaknya nge-repost lagi reels kita di story nya).

Wenda: Challenge nya pasti berbeda, tapi selama ini apapun yang di share bentuk dari hal-hal yang disukai jadi sampai saat ini belum riset mendalam tentang audiensnya..

Tips & tricks membuat FYP menurut Roda Nona? Hahaha..

Bella: Kalau pengalamanku sih, kontennya harus ada mukanya kali ya? Tapi ga cuma itu, harus juga melibatkan kegiatan dan atau ekspresi dari suatu situasi yang relatable.

Khansa: Storytelling yang menarik dan konten yang relate sama audience kamu.

Laras: Kalau aku pribadi bikin video biar FYP itu adalah pemilihan lagu yang tepat, terus durasi video jangan terlalu lama, dan yang harus diperhatikan itu detik-detik awal video harus langsung narik perhatian audience sih..

Wenda: Organik, jadi diri sendiri, dan bisa berbagi hal yang rasanya mungkin banyak audiens pengen banget melakukan kegiatan yang sama kaya kita, jadinya antara bisa mewakilkan perasaan mereka atau bisa ngasih inspirasi agar mereka lebih tergerak untuk melakukan hal yang diinginkan.

Karena Roda Nona masih masuk ke “genre” otomotif”, 3 tipe dan merk kendaraan favorit kalian apa saja?

Bella: Duh gatau namanya apa, waktu di jepang ada motor warna hitam aksennya pink pastel lucu banget. Bentuknya juga bagus tapi aku sebagai orang awam gatau sih itu motor apa hahaha. Kalo mobil aku lagi tertarik banget sama Ora Good Cat yang coral blue atau pale pink.

Khansa: Kalau motor lagi pengen ngerakit Honda TL250 kalau mobil pengen banget punya Mitsubishi Delica dan Mercy Tiger 280E putih atau item deh boleh! hahahah..

Laras: Okay! kalau aku ini listnya:
1. Mobil: Porsche 911 & Land Rover 1948 (Series 1)
2. Motor Versi Cute Yamaha 1973 Zippy, Versi sangar Triumph Bonneville

Wenda: Kalo mobil aku pengen banget punya BJ 73 Land Cruiser 1990 dan Campervan Volkswagen, Honda atau Hijet apapun yang gemas! Kalo Motor, aku pengen Honda CC110 Japan, Honda Gyro X dan Honda Chaly!

Selain riding, cafe-hopping dan membuat playlist Spotify, konten-konten apalagi yang ingin kalian coba garap tapi belum kesampaian?

Bella: Kita lagi nyoba vlogging sih, lagi proses editing tapi bingung milih footage soalnya banyak yang bagus…

Khansa: Vlog, coming real soon!

Laras: Kita next bakal ada di Youtube!

Wenda: Vlog, Kuliner, dan memulai aktivitas sesuai karakter masing-masing.

Karena kalian baru saja trip ke Thailand kemarin, bisa ceritakan pengalaman terseru selama di Thailand dari perspektif masing-masing?

Bella: Aku seneng pas motoran di jalanan sepi waktu malam, sama momen piknik!

Khansa: Suka pas motoran malam-mama sama Bella jalanannya enakkk

Laras: Pengalaman seru di Thailand bisa ketemu temen baru! Disana kita ketemu beberapa content creator dan yang punya thrift shop disana. Terus pengalaman lainnya adalah motoran, walaupun vibesnya kaya di Jakarta tapi ada degdegan nya juga pas pertama kali ngegas hahaha..

Wenda: Bisa motoran! Lalu ketemu teman-teman baru di Thailand yang mana mereka suka berkendara dan thrifting..

Top 5 tempat makan favorit kalian masing-masing di Jepang apa saja?

Bella: Aku sih Famima sama Red Rock ya, oh sama Joto Curry Osaka.

Khansa: Famima chicken, JOTO Curry Osaka, Ichiran ramen, MeltyKiss Chocolate, Jagariko Snack.

Laras: Joto Curry, Ichiran, Fami Chick, Dorayaki Matcha di SASAYAIORI+ daaan omurice di restaurant muni kyoto

Wenda: Ramen Bebek Kamo To Negi, Redrock, Joto Curry Osaka, Umami Tasuke Sendai, Tsurutontan Udon Ginza, Sansai Soba Fumutoya Yamadera, Premium Ice Cream Family Mart, Fami Chicken FamilyMart, Zaku-Zaku Shibuya!

Pertanyaan terakhir: Bagaimana rasanya menghadiri konser Joe Hisaishi? Film Ghibli favorit kalian apa saja?

Bella: NANGISSSS! Walaupun konsernya bukan konser Ghibli, tapi vibe yang diciptakan sama Joe Hisaishi fulfilling banget. Aku udah pengen banget nonton konsernya pas tahun 2019 waktu di Singapore tapi wah.. Harga tiketnya ga masuk akal… Film Ghibli favorit aku Nausicaa of The Valley of The Wind, tentang nature vs the great reset hehehe.. Dan karakter Nausicaa yang digambarkan sama Hayao Miyazaki bener-bener relate sama aku makanya ini film Ghibli terfavorit.

Khansa: Speechless, nangis dan standing applause. Kaya masih mimpi sih rasanya bisa nonton langsuuuung walaupun kemarin bukan konser khusus Ghibli tapi beliau bawain Totoro di perform terakhir… Kalau aku When Marnie Was There, Howl’s Moving Castle, dan Arriety.

Laras: Pengalaman yang gak terlupakan sih, aku pertama kali nonton orchestra dan itu JOE HISAISHI. Kaya masih gak percaya bisa ketemu langsung hehe. Film Ghibli yang paling aku suka Porco Rosso, The Wind Rises, dan Howl’s Moving Castle.

Wenda: Salah satu mimpi terbesar di hidup, yang mana perjalanan ke Jepang ini pun adalah impulsif untuk nonton Joe Hisaishi. Aku segila itu sama ghibli, soundtrack dan sejatuh hati itu dengan karya-karyanya beliau, jadi saat bisa ngerasain dan bisa menikmati langsung karyanya beliau rasanya UNREAL!!! Ga berhenti netesin air mata dan bahagia sepenuh hati. Hidangan langka di hidup!

 

Interview & text by Aldy Kusumah
Photos from Roda Nona

Untuk SS/23 ini, Humblezing merilis koleksi “Nature Calling” yang cocok untuk dipakai untuk berpetualang diluar ruangan sambil merasakan sensasi menjelajahi alam. Untuk koleksinya kali ini, Humblezing mengedepankan design, dan juga kepraktisan yang dapat memberikan kenyaman ketika hiking, berkemah, panjat tebing dan aktifitas outdoor lainnya.

Jajaran koleksi “Nature Calling” memakai material kain yang breathable, quick-drying, tahan air serta tahan terhadap terpaan angin. Tidak lupa konstruksi kuat dari setiap produknya yang dapat bertahan bahkan dalam situasi terberat sekalipun ketika sedang berada dliuar ruangan.

Koleksi “Nature Calling” dari Humblezing sudah bisa didapatkan melalui webstore dan juga semua marketplace Humblezing.

In Between Days merilis debut single bertajuk “Biarkan Dunia Ini Terbakar” yang merupakan sebuah respon dari unit post-hardcore asal Bandung ini atas problem kontemporer, yakni berbagai krisis dalam sektor kehidupan yang meliputi krisis ekonomi, krisis ekologi, krisis kemanusiaan, krisis agama, dan seterusnya. Dibentuk pada akhir tahun 2022, nama In Between Days sendiri diambil dari judul lagu The Cure.

Dalam segi musik, Roma Maleakhi (Vokal), Dedi Ahmad (Guitar), Irham L. Pane (Bass), dan Ikhsan Fauzan (Drum) cenderung mengeksplorasi unsur-unsur hardcore, post-hardcore, shoegaze, atau post-rock. Dari segi lirik, In Between Days mengangkat berbagai tema sosial-politik dan kultural dalam iklim late capitalism. Keterpurukan, kecemasan, dan keterasingan manusia dalam iklim late capitalism itulah menjadi tema utama dalam musik-lirik In Between Days.

“Biarkan Dunia Ini Terbakar” merupakan pengenalan dari In Between Days sebelum EP yang direncanakan akan rilis dalam waktu dekat.