Pernah pengen terlihat stylish dengan pakaian mahal tapi duit pas-pasan? Mungkin gaya hidup La Sape cocok buat kamu. La Sape adalah sebuah gaya hidup yang tumbuh di Congo, dimana ada beberapa orang disana yang lebih suka memiliki pakaian bermerek dengan harga jutaan meskipun untuk makan sehari-hari aja susah. 
 

 
La Sape ini merupakan singkatan dari bahasa Prancis Societe Des Ambianceurs Et Des Personnes Elegantes kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia artinya masyarakat yang menaikan atmosfer suasana dan orang elegan. Kira-kira gitulah. Sapeur atau orang yang menganut gaya hidup La Sape ini mempunyai stelan jas dengan brand-brand terkenal seperti Dolce Gabana, Chanel, Loui Vitton, Gucci, dan lainnya. Semua pakaian itu tertata rapi di sebuah rumah kecil sempit bukan di walking closet. 

 


 

La Sape sendiri diyakini telah hadir pada masa penjajahan Prancis dan Belgia di Congo. Pada masa itu para penjajah suka menghadiahi pakaian-pakaian mewah dari eropa ke para pekerjanya. Kalau dari penelitian Steinkopf-Frank, Hannah Rose yang berjudul La Sape: Tracing the History and Future of the Congos’ Well-Dressed Men bahwa pada tahun 1976 ada pemuda dari Congo bernama Jean Marc Zeta yang merantau ke Paris dan membuat perkumpulan remaja Congo di Prancis. Mereka berpakaian fashionable seperti layaknya orang Paris. Dan mereka memakainya ketika mudik kembali ke Congo agar terlihat sukses. Hmmm nampak familiar yah dengan ceritanya. 
 

 

Para Sapeu ini mengharamkan untuk memakai barang KW. Karena, bagi mereka itu merupakan sebuah penghinaan. Untuk mendapatkan pakaian mewah ini tidak sedikit dari mereka yang rela tidak makan berhari-hari, berhutang atau menjadi pengedar narkoba. Apapun akan mereka lakukan untuk menjadi terlihat elegan meskipun tidak makan. 
 
Words by Firman Oktafiawan
Langit sore Bandung dikala itu tanggal 14 November 2021 terlihat cerah. Berawal dari keinginan untuk datang ke salah satu gigs yang akan diadakan di salah satu tempat di Jl Riau, menyempatkan untuk belok dulu ke Grammar yang terletak di kawasan Jl Cihapit untuk melihat pameran Notes From The Underground: Pengarsipan Kompilasi Musik Independen Bandung (1997-2017) dari Idhar Resmadi. 
 

 

Ketika masuk ke dalam Grammars pandangan langsung menuju ke sebelah kanan dimana ada meja besar dengan banyak rilisan berupa kaset dan CD yang tertata dengan rapi. Mulai mendekat baru terlihat jajaran rilisan yang tergeletak itu merupakan rilisan kompilasi koleksi dan kurasi dari penulis sekaligus dosen Idhar Resmadi. Banyak sekali rilisan kompilasi seperti Masaindahbangetsekalinpisan yang dirilis oleh 40.1.24 Records yang menjadi rilisan kompilasi independen pertama di Bandung, Bandung Burning Vol 2, Kami Percaya Kau Pun Terbakar Juga Tribute To Koil, dan masih banyak rilisan kompilasi lainnya. Melalui pamerain ini, Idhar ingin memperlihatkan relasi antara musik, desain, dan subkultur musik dalam aspek relasi sosial teknologi dan budaya.

 

 

Bergeser lebih kedalam lagi di tembok Grammars banyak nempel flyer-flyer atau poster gigs mandiri yang telah diadakan di Bandung merupakan pameran Pengarsipan Flyer Gigs Mandiri dari Deden Erwin Suherman. Pengarsipan dari Deden ini sukses membawa romantisme cerita dulu ketika dateng ataupun terlibat di beberpa gigs mandiri yang tertempel di dinding Grammars

 

 

Words by Firman Oktaviawan

 

Sempat tertunda dikarenakan masalah keamanan, pada hari Sabtu(18/12) Husted Youth salah satu brand dari Bandung sukses mengadakan Husted Fest Vol 4. Meskipun venue berpindah ke Villa Istana Bunga yang agak jauh dari pusat kota Bandung, tidak menjadi halangan bagi pemuda dan pemudi yang rindu akan sebuah gigs. Hal ini dibuktikan dengan tiket yang sudah terjual habis sebelum acara dimulai.
 

 

Tanpa basa basi, sesuai dengan rundown pada jam empat sore Husted Fest Vol 4 langsung dibuka oleh riff-riff cepat dan padat dari unit thrash metal dari Bandung Iron Voltage yang sukses membuat hall Istana Bunga tidak terasa dingin. Lalu dilanjut oleh Prejudize yang ternyata pada malam itu mereka hanya tampil dengan 4 personil. Ternyata bassist Prejudize telah mengundurkan diri dan Ryan yang sebelumnya mengisi posisi gitar ditarik untuk mengisi bass yang telah ditinggalkan oleh Reza. Setelah  Prejudize, tongkat estafet pemanas moshpit pun diteruskan oleh Maio. Sebelum break maghrib, ada Hooded yang pada hari itu mereka tampil kembali setelah terakhir manggung pada tahun 2013 lalu. Di sela waktu yang lumayan cukup lama itu, Hooded ternyata telah mempersiapkan materi baru dan pada Husted Fest Vol 4 sempat membawakan dua lagu baru mereka. Sempat terjadi kesalahan teknis ketika Hooded tampil di lagu kedua listrik tiba-tiba mati. Cukup memakan waktu lama, sekitar sepuluh menitan akhirnya listrik menyala kembali dan Hooded pun meneruskan penampilannya.

 

 

Setelah Hooded, giliran Bleach yang memanaskan Husted Fest Vol 4. Alvin, mantan vokalis Bleach sempat mengisi vokal dan juga Vay dari The Couch Club menggantikan adiknya Axel di posisi bass di salah satu lagu yang menjadi setlist  Bleach. Lalu berikutnya yang ditunggu-tunggu ada Zip dari Jakarta. Nggak usah ditanyakan lagi bagaimana penampilan Zip di Husted Fest Vol 4. Meskipun band baru, tapi isinya orang-orang lama di skena hardcore Jakarta. Tapi, karena satu dan lain hal malam itu Zip tampil tanpa Regi yang digantikan oleh Kevin dari Modern Guns. Kidsway dengan energi yang meledak-ledak meski sudah tidak muda lagi menjadi band berikutnya yang mengisi panggung. Kevin dan Mike dari Bleach sempat mengisi vokal di lagu “Redup” sebelum Kidsway menutup set nya dengan mengcover lagu Bandung Hardcore dari Full Of Hate. Sebagai penutup Husted Fest Vol 4 ada Under 18 memulai penampilannya dengan memutarkan lagu dari The Smith sebagai intro yang membuat barisan belakang penonton merangsek ke depan panggung untuk bernyanyi bersama Seeon. Under 18 pun menjadi penutup yang pas untuk menghabiskan energi di area moshpit.

 

 

Husted Fest Vol 4 sukses mengobati rindu untuk kembali merasakan suasana dan energi sebuah gigs dengan melihat band secara langsung tanpa harus melalui sebuah layar.

 

Words by Firman Oktaviawan
Photos by Fauzi Ramadhan | TitikxCerah 
Diskoria adalah duo DJ yang mengembalikan euforia disko nusantara ke lantai-lantai dansa. Diawali dari kegundahan mereka karena lagu disko Indonesia di anak-tirikan di club-club, akhirnya kegundahan tersebut berhasil membawa mereka untuk tampil di pesta-pesta dan gigs menarik, sampai tahun ini DIskoria tampil di ajang Piala Citra 2021 dan bahkan meraih 2 piala AMI Awards (kategori Karya Produksi Kolaborasi Terbaik dan Produser Rekaman Terbaik). Karya-karya mereka selalu bersifat kolaboratif, sebut saja dengan produser Laleilmanino, sampai juga dengan para pengisi vokal Dian Sastro, Eva Celia, Tara Basro, Joe Taslim, Afifah Yusuf sampai Arditho Pramono dan Isyana Sarasvati. 
 

 

Kali ini Diskoria berkolaborasi dengan label street wear asal Bandung, Bastards of Young. Bastards of Young yang juga sudah sering berkolaborasi dengan seniman seperti Ken Terror, Amenkcoy, Ykha Amelz kali ini membuat sub-label Music Series untuk berkolaborasi dengan para musisi. Di capsule collection kolaborasi ini, terlihat design-design Bastards of Young yang merespon lagu dan lirik-lirik Diskoria yang unik. Seperti pada T-Shirt “Pelangi Cinta”, Bastards menggunakan asset kover art single Pelangi Cinta dengan menambahkan notasi nada lagu Pelangi Cinta pada backprint-nya. Pada T-Shirt “Serenata” dan “Rose” mereka merespon lirik-lirik lagu “C.H.R.I.S.Y.E” dan “Serenata Jiwa Lara” dengan menampilkan penggalan lirik lagu-lagu tersebut di backprint-nya. Terlihat juga parodi logo Compact Disc yang dimainkan menjadi logo “Indonesian Disco Bastards Audio” yang tampil di T-Shirt dan juga menghiasi Totebag dan Corduroy Polo Cap dalam kolaborasi ini. Tidak lupa, logo “ebony” Diskoria yang ikonik dan typeface Bastards pun menghiasi detail-detail grafis produk-produk ini. Tunggu apalagi, segera klik link berikut ini dan amankan beberapa produk koleksi ini, karena sepertinya koleksi ini benar-benar terbatas. https://www.tokopedia.com/bastards

 

 

Text by Jeurnals Team

Photos by Brez 84

 

 

 

Saat ini, shitposting adalah genre ekspresi kreatif yang sangat populer dan diadopsi secara luas untuk iklan dan pemasaran produk, pesan sosial, atau bahkan untuk membangun citra selebriti. Dari banyaknya akun shitpost, ada satu yang menarik perhatian kami karena kontennya bisa dibilang “Edgy” tapi tidak melepaskan identitas kearifan lokalnya. Banyak konten menarik lahir dari akun yang bernama Not Fussed ini, contohnya memparodikan band-band sidestream menjadi suatu hal yang lucu. Simak obrolan Jeurnals dengan admin dibalik Not Fussed mengenai Meme adalah “Narasi Baru” dan rilisan dari band favorit mereka pada tahun 2021.

 

 
Siapa sih orang dibalik Not Fussed?
Anon aja deh, haha.

 

Kalo enggak ngasih tahu, kenapa pengen jadi Anonymous?
Bebas aja gitu berekspresi, enggak ada yang tau itu siapa, wkwk. Ranah privasi kami juga sekarang sudah punya publik, dari data KTP sampai nomer HP semua bocor, masa buat akun shitpost juga harus pake identitas pribadi sih, hihi.

 

 

Ingat enggak bikin Not Fussed itu tepatnya pada tahun berapa?
Tahun 2017, isinya cuman postingan random aja, belum banyak konten shitpost kaya sekarang, cuman arsip konser-konser musik yang pernah aku tonton sama konten pop culture ala-ala gitu, haha.

 

Alasan pertama bikin akun shit post?
Pas serius di shitpost gitu mah waktu pandemi, gatau bingung mau ngapain diam di rumah terus, ya udah iseng buat konten lucu-lucuan gitu daripada stress, eh keterusan sampe sekarang, haha.

 

Kenapa namanya Not Fussed? Ada arti dibalik nama itu?
Dulu teh aku fans Bring Me The Horizon banget. Notfussed diambil dari nickname akun medsosnya si Matthew Nicholls yang dulu, keren aja gitu namanya, haha. Terus pas coba cari artinya cocok aja gitu ‘’Kumaha maneh weh’’ (gimana kamu aja) mungkin gitu, haha. Enggak mau ambil pusing harus posting apa.

 

Postingan pertama Not Fussed?
Otong Koil, kaya udah jadi figur aja gitu Kak Ots teh dalam kehidupanku ini.

 

Postingan pertama yang bikin meledak?
Mungkin video mashupnya ‘’Marry Me, Yantie’’ milik Alvvays dengan dibumbui kearifan lokal, wkwk.

 

Gimana reaksi kamu ketika notifnya sebanyak itu?
Pas pertama kali konten itu meledak ada kali 500 notif masuk di waktu 30 menit, kaget juga dan agak risih litany, haha. Makanya sekarang aku matiin notifnya kalo mau buat konten.

 

Ide konten yang akan diposting itu dari mana biasanya?
Kebanyakan di kamar atau di jalan. Suka ada aja gitu kepikiran dikepala yang lucu the, aneh wkwk. Sama suka liat apa aja yang lagi rame di internet, gimana kita manfaatin momen aja sih intinya.

 

 

Ada postingan yang berujung negatif nggak? Kayak ada yang enggak suka kalo artis atau dirinya dibercandain?
Sejauh ini sih masih baik-baik aja, yang liat juga kayanya dah open minded juga. Tahu kalau si Not Fussed teh cuman akun shitpost hore doang, gada yang baper. Gatau tuh kalau si artisnya mah hehe. Mudah-mudahan sih enggak ya.

 

Pernah dapet DM yang mengancam?
Alhamdullilah belum ada, dan jangan sampe juga sih.

 

Lebih milih Instagram atau Twitter? Alasannya kenapa?
Dua-duanya juga OK sih, ada lebihnya ada kurangnya. Kalau di Instagram insightnya konsisten aja gitu. Kalau Twitter kadang suka untung-untungan, harus tahu kapan momen yang pas. Tapi kalo disuruh milih mending Twitter sih, cocok aja gitu platformnya. Tempat yang pas buat mengekspresikan diri apa adanya, haha.

 

Dari Instagram Not Fussed ini menghasilkan enggak? Kalau menghasilkan ada klien apa aja yang pernah masuk pengen dipromosiin sama Not Fussed?
Kalau dibilang menghasilkan si belum juga, belum bisa dijadiin penghasilan tetap, ‘’eweuh duitna, meakeun waktu’’. Tapi kemarin ada yang percayain Not Fussed buat endorse dan bantu promoin acara, lumayan juga buat jajan mah ada, hehe.

 

Tantangan yang sering dihadapi dalam membuat konten untuk Not Fussed?
Ga ada A, santai aja sih ga usah dipikirin konten mah nanti juga suka muncul sendiri di kepala, haha.

 

Apa tujuan yang ingin dicapai Not Fussed kedepannya?
Tetap Menghibur aja deh. Pusing di Internet isinya orang marah-marah mulu.

 

 

Rencana kedepan mau bikin apa? Melebarkan ke platform lain atau bikin apa gitu?
Masih belum ada sih. Sempet kepikiran mau buat media musik rada nyeleneh gituh, sama mau buat merchandise. Tapi gatau mau diseriusin atau enggak. Mood-moodan akunya, haha.

 

Best meme 2021?
Haduh, apa ya bingung juga kalo ditanya gini, haha. Paling yang lagi rame kemarin di sosmed mah si Meme Billboard Kepak Sayap Kebhinekaan itu. Bosen enggak sih kalau di jalan ketemu billboard itu mulu, wkwk.

 

Karena Not Fussed sering ngeekspos band-band lokal, kira-kira 5 band/rilisan terfavorit versi Not Fussed pada tahun ini apa?
Sebenernya tahun ini banyak rilisan favorit aku euy. Kurang 5 mah, wkwk. Daftar hi-rotation aku aja kali ya.

 

Debut EP dari unit shoegaze slowrock asal Surabaya. Ambientnya dapet banget. Sepi, muram, berisik ngebangun mood sekacau-kacaunya, hihi. Cocok didengar di sepertiga malam, sambil intropeksi diri.

 

Bogor kota angkot Indie Rock! Komposisi musik yang catchy tak meluap-luap dan terkesan santai, tapi bikin ketagihan, candu euy. Kalau di era MTV Alternative Nation mah, Swellow udah masuk dalam daftar seharusnya.

 

Orkes kegelapan Rock n roll! Bayangin aja kombinasi Motley Crue, Baptists dan Darkthrone dijadiin satu. Udah deh itu aja ga bisa berkata-kata lagi. Much respect! Gaspol! Skena musik Bandung emang baik-baik saja.

 

Belakangan ini musik Bali lagi rame-ramenya. Gak melulu soal Punk Rock atau Rockabilly. Satu yang nempel ya si Mille ini. Shoegaze kenceng kalo kata mereka mah, haha. Eksplorasi musik mereka gokil sih, berani keluar dari pattern Shoegaze itu sendiri.

 

Album penuh kedua dari unit rock alternative Surabaya. Dari segi aransemen mereka tetap memainkan riff-riff ala band alternative 2000an. 11 nomor di album ini ibarat soundtrack kehidupan, walau banyak cobaan kita harus bergerak maju, yang udah mah biarin aja berlalu. Nuhun JAGUAR!

 

onorable mentions:
Matisuri – Wafat Suri
Amuk Redam – The Album
Prejudize – EP (Demo Album)
Ametis – Ritus Hancur
Mama Djana – Tanana Kubra

 

Kalian yakin enggak dengan membuat meme kalian bisa merubah pola pikir orang lain atau membuat narasi baru tentang suatu hal?
Bisa banget sih itu. Sekarang Meme itu kaya udah jadi alat propaganda di era digital, semua orang bebas berpendapat dan mengeluarkan keresahannya lewat Meme dan terbukti itu berhasil meski terkadang satir dan memojokan satu pihak. Lihat aja tagar di setiap trending yang lagi viral, pasti ada aja meme yang muncul dan menggiring opini public, wkwk.

 

Akun meme favorit versi Not Fussed

 

Kalau ini mah akun meme intelek, harus paham dulu kasus yang dibecandain, suka nyerempet pemerintah sama teori konspirasi Mas Elon Musk. Wajib difollow nih buat abang-abangan kampus postmodernists anti kapitalist 4.0

 

Shitpost andalan gue ini mah hha. Pandemi kemarin aku produktif banget mantau ini akun, wkwk. Bahannya teh dapet aja gatau darimana. Spam instastory bahkan sampe titik-titik. Mood booster banget deh buat hati yang lagi kacau mah. Badan Arsip Meme Nasional aku nyebut si Tai Bandeng, wkwk.

 

Kolektif meme Bali ini mah, haha. Adminnya banyak. Aku ngikutin mereka dari 2019an. Dari postingan receh-receh sampe punya brand sendiri. Keren aja managementnya. Akun meme bisa diseriusin sampe punya beberapa platform.

 

Kalau liat music meme pages khususnya dari luar, mereka tuh kaya saling support dan berjejaring, kaya udah jadi media tandingan dari media musik besar. Dengan diselingi humor dan opini tajam mereka tentang musik hari ini. Music memes jadi media yang pas, mungkin karena pembawaannya yang slengean dan tongkrongan aja kali ya, gak terlalu berat jadi gampang diterima. Akun ini khususnya jadi favorit aku kalo mau liat info yang lagi rame, kemarin bahkan mereka bikin konten ala-ala Grammy gitu, minta followernya buat vote siapa aja yang berpengaruh di dunia permusikan tahun ini. Bahkan sampai ada nominasi music meme pages terbaik, gokil.

 

Interviewed by
Firman Oktaviawan & Andika Surya

 

“Kami jadi dengan mudah dikenal orang karena jarang yang mengusung genre ini, jadi ketika bicara soal genre ini kami akan jadi salah satu band yang disebut.”

 

Siapa sangka salah satu band surf rock terbaik di Indonesia lahir dari dataran tinggi Sumedang? Rupanya selain dikenal dengan tahu Sumedangnya, surf rock lokal kontemporer juga lahir di Sumedang. Mari berbincang dengan The Panturas mengenai Quentin Tarantino, vampir oriental, reverb basah dan kuliner murah di Jatinangor…

 

Halo The Panturas! Congrats atas rilisnya ‘Ombak Banyu Asmara’. Ceritakan sedikit bagaimana musik surf rock bisa lahir dari dataran pegunungan Sumedang? Kenapa memilih surf rock dan tidak memainkan musik folk khas dataran tinggi? Hahaha

 

Halo JEURNALS! Terima kasih banyak. Pemilihan genre musik surf rock sebenernya gagasan Kuya. Pada saat itu Kuya sedang intens menonton film-film Quentin Tarantino yang khas dengan suara gitar dibalut dengan reverb yang basah. Dan pada saat itu di kampus tempat kami kuliah juga jarang yang memainkan genre itu. Jadi kami sepakat memilih genre itu agar terlihat fresh di antara genre folk yang ramai pada saat itu.

 

“Pemilihan genre musik surf rock sebenernya gagasan Kuya. Pada saat itu Kuya sedang intens menonton film-film Quentin Tarantino yang khas dengan suara gitar dibalut dengan reverb yang basah.”

 

Tidak banyak band surf rock di Indonesia. Bagi saya kalian adalah band surf rock lokal kedua yang saya temukan setelah Southern Beach Terror. Apa keuntungan dan kerugian memainkan jenis musik yang tidak umum ini? We love those wet reverb sounds!

 

Keuntungannya kami jadi dengan mudah dikenal orang karena jarang yang mengusung genre ini, jadi ketika bicara soal genre ini kami akan jadi salah satu band yang disebut. Tapi sebenarnya setelah era Southern Beach Terror masih ada penerusnya seperti The Beertubes, bahkan yang seangkatan kami pun tidak cuman kami, ada juga Bitzmika band dari Bandung yang juga mengusung genre agak mirip.

 

Kerugiannya pada awal band ini terbentuk kami sedikit kesulitan mencari referensi, apalagi surf rock yang diisi vokal seperti kami. Karena kebanyakan genre ini pure instrumental tanpa adanya vokal. Selain itu juga susah menemukan komunitas yang genrenya surf rock, yang pada akhirnya kami berbaur dengan komunitas musik punk sampai rockabilly pada saat kami memulai. Efek gitar yang kami gunakan itu jenisnya spring reverb.

 

 

“Kompilasi Java-Java itu jadi satu trigger juga kalo ternyata musik-musik surf indonesia di tahun ‘70an itu keren-keren.” 

 

Apa yang mengekspos kalian pertama kali dengan musik surf rock? Terlalu banyak menonton intro Pulp Fiction? Menemukan koleksi kaset / piringan The Ventures & The Shadows milik orang tua? Atau karena terlalu banyak mendengarkan Beach Boys di Pangandaran?

 

Karena suka dengan suara gitar yang menohok dan menjadi menu utama di genre ini. Awalnya dari film-film yang salah satunya Pulp Fiction. Kemudian selain itu, pas awal-awal Kuya tertarik sama satu kompilasi bernama Java-Java:  Indonesia Screaming Fuzz. Jadi itu tuh semacam kompilasi band-band Garage Stomp, Indo-Rock dan Beat Surf  dari Indonesia. Kompilasi itu jadi satu trigger juga kalo ternyata musik-musik surf indonesia di tahun ‘70an itu keren-keren. Dari situ kemudian menjadi trigger kami untuk mencari lagi referensi dari rekan-rekan yang mengerti genre ini.

 

Video ‘Tafsir Mistik’ menampilkan homage terhadap film vampir klasik. Seperti gabungan Nosferatu karya F.W. Murnau dan From Dusk TIll Dawn nya Robert Rodriguez. Apa saja film vampir / horror favorit masing-masing personil?


Izal:
Pengabdi setan (1980). Karena cuman film Pengabdi Setan film horor yang saya tonton dengan serius. Baik yang tahun 2017 atau yang tahun 1980. Sisanya saya kurang suka film genre horor.


Abyan (Acin):
Jarang nonton film vampir kecuali film-film vampir cina yang ada di TV yang ga tau judulnya apa..


Gogon:
Sama kaya Acin, jarang nonton film vampir. Tapi kalo horor klasik suka banget. Battle Royal (2000). Alasannya simple, filmnya keren banget anyinggg…


Kuya:
Kalo inget vampir, top of mind saya pasti Shaolin Popeye II. Anjir itu vampir pertama kali sebagai anak SD bisa tertawa terbahak-bahak ngelihat vampir. Wu di Fan Dou Xing (film Boboho). Tapi kalo yang ngeri-ngeri masih film Suzzana sih. Beranak Dalam Kubur. Bikin males diam di rumah malam-malam sendiri. Hahaha..


Lalu apakah ada hal-hal mistik yang dialami The Panturas yang menginspirasi lagu
‘Tafsir Mistik’?


Enggak ada sih. Tafsir Mistik mah ditulis dengan alasan yang sangat duniawi dan kurang gaib sih kalau ga salah waktu itu..

 

Apa saja yang kalian cintai dari Jatinagor dan Sumedang? 

 

Suasana nyamannya. Dari udaranya yang masih jauh dari polusi, sampai makanan enak dan murah yang gampang kami jumpai. Terus kalo zaman kuliah ya semangat kolektifnya sih. Berasa banget.

 

Berapa lama kalian menggarap album ‘Ombak Banyu Asmara’? Ceritakan sedikit mengenai proses songwriting, rekaman dan pembuatan ilustrasi cover nya…

 

Album ‘Ombak Banyu Asmara’ prosesnya 13 bulan kurang lebih. Untuk songwriting sih awalnya kita workshop selama 2 minggu di studio Lontar punya bang Awan Sore yang lokasinya di Kramar Lontar, Jakarta. Terus lanjut tuh rekaman drum di Studio Lontar dan Syailendra Studio. Sisa instrumen lainnya di Ruang Waktu Music. Yang rada ribet waktu proses mixing mastering karena waktu itu PPKM jadi semuanya dikerjakan secara online sih pake zoom dan Audiomovers. Terakhir buat cover kita kerjasama dengan seniman lukis asal Bali, Andre Yoga. Kita pilih karena emang liat porto nya keren banget dan masuk lah sama mood album ini.

 

‘Balada Semburan Naga’ memiliki nuansa oriental dan sedikit mengingatkan saya pada The Cramps. Bagaimana awalnya memutuskan untuk berkolaborasi dengan Adipati The Kuda dan memasukkan tema lirik dan nada oriental pada single ini?


Sebenernya tema oriental lebih dulu muncul waktu kita jamming di studio Lontar karena emang kebetulan Acin ngisi gitar dengan nuansa tersebut. Terus waktu itu kita sepakat vokalnya itu saut-sautan dan memutuskan buat featuring. Kita pilih Adipati karena udah kebayang suara teriak-teriak dia cocok buat ngegambarin bapak yang galak. Terus dia beneran udah jadi bapak-bapak yang punya anak perempuan jadi kayaknya feel-nya bakal dapet. Hahaha…

 

 



“Kolaborasi tuh selalu seru. Kita gak pernah expect orang mencerna apa yang kami buat diserap jadi medium lain dengan cara mereka yang unik.”

 

Kalian juga pernah bekerja sama dengan almarhum Pak Supomo Senikanji. Ceritakan sedikit mengenai kolaborasi tersebut dan juga kolaborasi-kolaborasi dengan seniman / ilustrator lain..

 

Kuya: Seni Kanji itu saya tahu dari Twitter, Julius Pop Store waktu itu nge-share kalo bapaknya udah pensiun jadi pegawai pabrik dan pengen ngelanjutin passion-nya sebagai tukang gambar. Saya tertarik sama story itu dan tercengang ketika melihat artwork yang Sir Dandy, “Anjir ini otentik gini!” Kayak ada perasaan nostaljik yang gak pernah gua alami ketika lihat gambarnya. Pak Supomo waktu itu merespon lagu ‘Sunshine’ dan Album ‘Mabuk Laut’ untuk keperluan merchandise. Ketika dapat hasilnya, saya langsung puas sih. Kayak gak usah diotak-atik ini mah. Kolaborasi tuh selalu seru. Kita gak pernah expect orang mencerna apa yang kami buat diserap jadi medium lain dengan cara mereka yang unik. Kami selalu nyari-nyari dan terbuka untuk segala kolaborasi, terutama illustrator. Moga saja ada teman-teman ilustrator yang belum kami kenal atau ketemu bisa senggol langsung dan kerjasama ya hehehe.

 

 Words & interview by Aldy Kusumah

Photos from The Panturas archives

“Instinct of survival: ajaib ketika kita sadar punya kemampuan luar biasa dengan segenap keyakinan bahwa kita akan baik-baik saja. Shit happens anytime tapi kita tetap bisa bertahan.”

 

Ken Terror adalah seorang ilustrator (Mayhem Studio) yang karya-karyanya banyak terlihat di kover-kover band punk dan metal. Selain membuat logo-logo band dan mengerjakan beberapa komisi untuk record label dan brand, Ken juga pernah menabuh drum di Hark! It’s a Crawling Tar-tar dan menjadi bassist Kontrasosial. Mari berbincang dengan Ken mengenai Rachel Goswell, ilustrasi pointilisme nya, band alternatif baru nya Sunbath dan tips relaksasi selama pandemi agar tidak overthinking dan burnout…

 

Apa kabar Ken! Kemana saja selama ini? Sedang sibuk mengerjakan proyek ilustrasi apa saja?

 

Kabar baik! Mengurung diri menjadi anti-sosial di ruang kerja, sama seperti biasanya bahkan ketika belum ada istilah PPKM. Sedang disibukkan oleh overthinking. Kidding! Haha. Selain komisi ilustrasi band dan brand, juga personal project merch – Mayhem Studio.

 

Ternyata PPKM tidak terlalu berpengaruh ya untuk orang-orang seperti kita yang anti-sosial dan banyak berkerja dirumah? Hahaha. Gimana efek positif dan negatif pandemi yang elo rasakan dari sisi profesional dan personal lo?

 

Betul! Tapi ada sedikit keanehan, justru ketika orang-orang mulai terbiasa di rumah, saya yang introvert dan pemalu, mempunyai keinginan untuk keluar rumah yang kadang lumayan meronta. Haha. Efek positifnya bisa lebih fokus mengerjakan berbagai pekerjaan dan hobi karena tidak ada pilihan lain selain tinggal di rumah, cuma ada kala nya burnout. Lalu bisa lebih relax dengan berbagai hiburan rumahan sebagai penyeimbang kesehatan hati dan pikiran.

 


 

Bagaimana situasi relax terbaik versi Ken Terror?

 

Dalam konteks bekerja dengan metode manual, bekerja secara digital pun menjadi salah satu cara untuk berelaksasi. Ujung-ujungnya kerja lagi, haha. Short trip, hiking manja, hotsprings, vinyl spinning, Netflix, dan bermain musik adalah kebahagiaan tersendiri. I need a break from my singleness…

 

Bagaimana dengan sisi musikal lo? Ceritain dong sedikit tentang band alternatif baru lo, Sunbath…

 

Iya, setelah lepas dari band punk yang satu, yang ini mulai diseriuskan. Saya dan teman-teman ingin mengajak beromantisme ke dekade 90an. Secara musical kami mengambil referensi dari Throwing Muses, The Juliana Hatfield Three, The Cranberries, Hole, L7, Lemonheads, dan The Smashing Pumpkins. Tercatat dalam voice note, lagu-lagu kami mulai dibuat tahun 2017. Awalnya kami hanya bertiga yaitu Moyan yang juga bermain gitar di Bananach dan Zali, drummer Ancient yang memutuskan untuk bermain bass. 3 tahun kemudian seiring bertambahnya personel yaitu Zulfi yang banyak malang melintang di band-band metal. Setelah 3 tahun berjalan, kami kemudian menyelesaikan rekaman dengan budget seadanya yang kami mampu dengan rencana awal mau self-release. Kemudian tawaran datang dari Oblivion Records, setahun kemudian resmilah CD EP kami bertajuk ‘Strange Day’ yang dirilis oleh label tersebut.

 

Karya lo yang ada di cover “Dasawarsa Kebisingan” terlihat terpengaruh poster Rusia konstruktivist. Apa saja influence-influence lo dalam departemen design dan ilustrasi?

 

Itu tidak terlepas dari sang penggagas kompilasi, saya hanya meng custom dengan style saya sendiri. Yang pasti Pushead, dari awal selalu terpengaruh karya-karyanya. Dari sini lah saya mulai tertarik dan belajar pointillism dengan pengetahuan seadanya. Lalu flashback ke masa remaja, dari sisipan komik di Majalah Remaja Hai saya dulu menemukan Don Lawrence. Komik Letnan Blueberry! Haha urang nyimpen keneh. Alus gambarna jon. Itu ejaan terjemahan bahasa Indonesia. Judul aslinya Lieutenant Blueberry. Lalu dari komik Letnan Blueberry saya menemukan Jean “Mœbius” Giraud. Kemudian terperangah oleh karya Todd McFarlane dengan Spawn nya, dimana saya terobsesi oleh ilustrasi hitam putih high contrast. Semakin kesini seiring arus informasi mulai melimpah ruah, begitupun dengan influence yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu karena banyak, haha. Tapi beberapa di antaranya adalah Jim Phillips, Virgil Finlay dan Dan Seagrave.

 


“Getting older is weird. Amazing how time turns out to be the most expensive thing.”

How’s getting older feels like to you?

 

Haha, yes. Getting older is weird. Amazing how time turns to be the most expensive thing. Tapi bagaimanapun juga tetap menyenangkan, hanya sedikit merubah perspective and you’re good.

 

Orang-orang terobsesi dengan pola hidup sehat sekarang ini, dan itu semakin terlihat di sosial media. Apakah menurut kamu itu adalah sebuah coping mechanism to feel in control in these tough times?

 

Bisa jadi, sebagian orang juga memang lebih aware akan kesehatan mereka. Saya Pun demikian dengan power walk tiap weekend. Berolahraga dapat memancing rasa bahagia. Sepertinya orang-orang perlu melakukan aktivitas yang bisa membuat bahagia. Tentunya aktivitas-aktivitas yang bisa menghasilkan hormon endorphine, dopamine, oxytocin, dan serotonin.

 

Apa hal-hal positif yang baru kamu temukan di saat krisis 2020-2021 ini?

 

Menggali instinct of survival, ajaib ketika kita sadar punya kemampuan luar biasa dengan segenap keyakinan bahwa kita akan baik-baik saja. Shit happens anytime tapi kita tetap bisa bertahan.

 


“Rasanya seperti mimpi walaupun sekedar say hi atau sharing tentang kucing hilang dengan Rachel Goswell (Slowdive).”

 

Pertanyaan terakhir: Bagaimana rasanya bisa keep in touch dengan seorang Rachel Goswell (Slowdive)? Dari seorang fans menjadi sahabat pena?

 

Ini sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan, haha. Rasanya seperti mimpi walaupun sekedar say hi atau sharing tentang kucing hilang dan topik lainnya yang ringan atau berat. Yang pasti kita harus tau waktu dan kondisi kapan berkomunikasi dengan mempertimbangkan privacy. 

 

Words & interview by Aldy Kusumah

Photos from Ken Terror archives

 

 

 

Brez adalah founder dari beberapa brand yang mungkin sudah sering kita dengar namanya: Berak, Neats, Scuttle, Passenger Pax, coffeeshop Mental Vacation, record label Lisdia Records sampai rental sound system Lisdia Sound. Hobbynya dalam menangkap momen menggunakan kamera film 35mm membuat foto-foto hasil karya Brez cukup ikonik juga di skena fashion lokal. Mari berbincang dengan Brez mengenai idol-idol Jepang, lookbook seksi, beruang kutub sampai semur jengkol terenak di Indonesia..

 

Kita juga pake slogan “Start Today” karena saya suka si CIV dari Gorilla Biscuits. Karena kalau kita mau pergi dan memulai hari itu kan pertama kita memakai sepatu, karena itu slogan nya “Start Today”

 

Halo Brez! Bisa ceritain sedikit history brand Berak dari awal?

 

Jadi awalnya mah sebuah proyek canda tawa. Dulu pas manajerin band Billfold, awalnya bikin gimmick stiker tulisan “Berak” pas tahun 2010 bulan 8. Dibawah stikernya ada website Billfold. Lalu nyablon kaos satu lusin untuk crew Billfold. Waktu itu kan band-band menamai crew mereka, seperti Burgerkill dengan “Hellcrew”, Rocket Rockers dengan “Rocket Rockcrews”.. nah pada keren tuh kan. Saya pengen yang ga keren! Hahaha. Saya bikin aja Berak crew untuk menamai crew Billfold. Karena saya ga bisa nge-design awal-nya saya parodikan logo Nike. Lalu dipake lah kaosnya ama crew-crew kita.

 

Jalan sebulan, kalau gasalah di acara Bandung Berisik 2012, Gania (eks-vokalis Billfold) pake kaos Berak dan viral, kalau bahasa jaman sekarang mah. Social media Billfold kan saya yang pegang, banyak yang nanya beli baju ini dimana? Akhirnya saya ngomong ke anak-anak band kalau Berak mau dijadiin brand. Lalu saya buat kaosnya masih tetep 1-2 lusin karena ga ada modal dan masih nangkring hahaha. Berjalan 8 bulan saya ga dagang walaupun Instagram Berak sudah ada dari tahun 2012. Karena urang eweuh konten dan eweuh barang, dan karena interest juga ke fotografi akhirnya saya fotoin wanita-wanita seksi. Beberapa memang model, ada yang teman juga, dan ada juga yang muka-nya gak mau keliatan karena terlalu seksi fotonya. Akhirnya stok foto-foto seksi jadi banyak dan itu masih jadi sesuatu yang “baru” lah untuk jadi konten brand lokal. Walaupun sebenarnya di luar negeri sudah bukan sesuatu yang baru.

 


 

Selain fotografi, interest-interest dan pengaruh apa saja yang lo coba ramu di brand Berak ini?

 

Dulu melakukan semuanya masih sendiri dan cuma ada 1 pegawai yang jadi admin. Saya mulai jualan serius sekitar tahun 2014, udah mulai berani produksi diatas 2 lusin, dan sudah tidak menggunakan style rip-off karena sudah mulai meng-hire designer. Sebenarnya pas saya baca filosofi awal-awal brand lain juga banyak yang melakukan rip-off atau bootleg di tahap-tahap awal-nya. Mungkin karena keterbatasan ide atau skill. Dan ternyata itu merupakan sebuah formula yang bagus untuk sebuah brand. Rip-off, parodi atau bootleg ini juga masih tetap dilakukan brand-brand besar di luar sono sampai sekarang juga. Kalau Berak sampai sekarang juga masih tetap organik pertumbuhannya karena saya tidak mengejar target untuk menjadi brand besar atau brand legend. Pokoknya berjalan aja sesuai kahayang urang hahaha!

 


 

2015 udah mulai Jepang-jepang-an. Rame dari idol-idol group seperti JKT48 disini. Mengendorse member JKT48 tidak berbayar. Setelah dipakai cukup memboosting penjualan tanpa sengaja. Ada juga interest ke idol-idol Jepang dan mulai berfikir wah saya harus mulai foto-foto di Jepang. Saya juga terinspirasi dari foto-foto American Apparel, mereka memakai model amatir yang unik dan tidak memakai 100% model agensi. Kalau brand Jepang yang menginspirasi saya awalnya KIKS TYO lah. Basic-nya sneaker, tapi mereka ngefoto wanita seksi dan di print di T-shirt. Dari awal bikin Berak sebenernya udah pengen ngejalanin konsep seperti itu. Cuma baru terealisasi tahun ini nama koleksinya “CLX Member”. Konsepnya model-model atau idol-idol Jepang yang memiliki fanbase dan difoto seksi untuk di print di produk Berak. Karena seks adalah salah satu daya tarik yang menjual di dunia ini dari jaman dulu juga. 

 

Untuk tahun ini hal-hal baru apa aja yang lo coba develop untuk Berak? tentunya di masa pandemi ini online harus lebih kuat dari offline ya..

 

Dari dulu sampai sekarang Berak itu terlalu organik. Mulai sekarang pengen-nya sih tiap bulan ada kolaborasi yang menarik. Sistem sendiri di Berak memang masih belum sempurna. Tapi secara penjualan dari 2017-an ibaratnya udah kaya sayur lah, ga ada dead stock. Dari awal kita memang kuat di online dan sekarang toko offline cuma sebagai bonus lah, saya ga terlalu prioritaskan untuk punya toko sebenarnya. Karena toko juga dari dulu cuma satu aja ga nambah, ibaratnya “meh aya weh toko mah”. 

 

Awalnya kontrak untuk bikin kantor, cuma dibawahnya pengen juga ada display produk. Konsep toko juga saya ga ingin present itu sebagai pure toko, ada sedikit unsur hobby shop dan mungkin clubhouse “dulpas” lah ya haha. Lo bisa main dingdong, duduk santai, dengerin musik. Ada juga aktivasi band-band live di toko. Istilahnya mah offline ga laku dan ga ada yang datang juga saya ga peduli karena memang penjualan online yang utama. Apalagi setelah Corona ini yang datang juga sepi jadi sudah tidak ada lagi target penjualan harian toko. 

 

Sudah ada berapa divisi under Berak nya? Saya dengar ada record label, Tee’s Shop dan rental soundsystem ya..

 

Sebenernya yang under Berak ada record label cuma lagi hiatus. Mau jalan lagi dikit-dikit lah. Kemaren sempet jalan Lisdia Records bareng almarhum Dicki (GM Berak, Sunny Summerday). Cita-cita kita adalah merilis 100 band indie pop terus bubar. Karena non-profit saya ama Dicki cari band-band yang kita suka aja, karena sharing ama band nya juga kita cuma minta modal produksi, semua keuntungan untuk bandnya. Setelah Dicki meninggal jadi hiatus. Sempat tercetus ide kemarin untuk jalan lagi tapi ga cuma rilis indie pop aja. Urang teh hayang nyieun record label yang profit 100% untuk band. Karena hidup saya udah dari profit Berak, record label mah passion aja gausah ambil duitnya yang penting modal balik untuk muterin rilisan berikutnya. Kemaren juga baru sempet rilis Sunny Summerday dan Twisterella. 

 

Aktivasi yang jalan sekarang Tee’s Shop show, yang menampilkan live performance band-band di toko Berak. Sekarang udah episode ke 20 berapa lah. Itu juga rencanya-nya cuma sampe 100 episode setelah itu gatau mau lanjut lagi atau gimana. Mungkin nanti cari ide lain, manggungnya ga di toko tapi mungkin.. di susukan hahaha. Saya juga investasi ke alat-alat sound system karena aktivasi kita banyak berhubungan sama musik. Jadi intinya harus jalan disitu.

 

Awalnya lo menemukan passion di dunia film photography darimana? Kan sempet sampai jualan kamera 35mm dan roll film juga ya..

 

Berawal dari tahun 2015 akhir, saya melihat foto-foto lookbook Supreme dan American Apparel kok warna-nya beda ya. Dan banyak main flash ala Terry Richardson. Ternyata kata teman itu foto Supreme pake kamera film. Nah kan di tahun 2015-an belum banyak brand yang foto pakai kamera film. Ditambah waktu itu pas main ke Jepang nemu kamera Contax dan Olympus Mju II. Waktu itu belum serame sekarang brand-brand pake kamera film. Sekarang kan artis-artis kaya Kendall Jenner sampe Frank Ocean pake kamera film jadi viral lah. Kamera Fuji Klasse sama Rollei juga selalu menjadi pegangan saya untuk foto fashion. Dari foto-foto jadi nambah temen lah, model, fotografer lain, kolektor. Di Shizuoka saya juga sempat dapat banyak roll film murah. Cuma sekarang udah jadi trend dunia harga film jadi mahal juga dimana-mana. 

 

Foto-foto editorial dan lookbook Berak kan terkenal seksi-seksi. Apa lo pernah mendapat masalah karena itu?

 

Sejauh ini sih alhamdulillah ga ada masalah. Paling yang modelnya minta di take down itu sering dan banyak terjadi. Pas photoshoot mereka mau di foto seksi, atas dasar kesadarannya masing-masing. Tapi mungkin ada yang ketahuan pacarnya atau keluarganya sehingga minta di take down. Mungkin karena hal-hal seperti foto seksi itu masih dianggap negatif. Mungkin orang-orang sekarang sudah open minded ya, cuma di tahun 2013-an belum seperti sekarang. 

 


 

Karena mungkin sudah terjadi chemistry antara saya fotografer dan model, sehingga mereka nyaman dan tidak risih. Karena menurut saya harus ada chemistry dulu antara fotografer dan model. Ga bisa yang “besok foto ya”. Kalau jaman dulu lebih seru, sebelum photoshoot nge-modal dulu, nangkring dulu di cafe sama model-model Jepang misalnya, biar pas di foto juga mereka ga kaku atau awkward. Cuma karena sekarang saya sudah berumah tangga jadi ya kaya fotografer-fotografer lain aja cuma janjian foto via DM haha. 

 

 

“Jangan terlalu serius berbisnis, jangan ikut kelas bisnis online maupun offline, banyakin nongkrong, temen dan canda tawa. Hahaha..”

 

Lo juga punya passion terhadap dunia kuliner kan, dengan membuat coffee shop dan berencana juga membuat resto Jepang ala izakaya sampai bakmi. Bisa ceritakan sedikit tentang unit-unit bisnis kuliner lo?

 

Sebenernya itu sih sampingan. Kalau coffee shop Mental Vacation sama temen band Billfold dulu, si Gania (eks-vokalis Billfold). Udah jalan 2 tahun. Dulu emang paling sering nongkrong dan ngafe bareng si Gania. Karena sering ngopi-ngopi kepikiran pengen bikin coffee shop yang enak kopinya, bukan sekedar enak tempatnya. Tapi gamau namanya kaya kopi senja atau kopi cinta. Kata Gania namanya Mental Vacation aja, karena dia mungkin lebih pintar lah bahasa Inggrisnya. Bagus juga namanya, mentalnya liburan, tapi otak ngajedog di kota hahaha. Jadi liburan-nya cuma sekedar mental. 

 

Sempet juga mau merger ama temen dari Jepang untuk bikin izakaya. Pas bayar kontrakan ruko, bulan depannya malah pandemi. Dia yang pegang resep makanan-nya, tapi malah jadi susah masuk ke Indonesia. Emang pengen-nya rasanya otentik jadi buat orang-orang Jepang yang tinggal disini kepake. Jadi-nya di takeover sama coffee shop aja dulu. Karena saya hobby juga masak dirumah dan emang paling favorit makanan nusantara. Kemarin dapet ilham gara-gara makan bakmi Tasik Bu Ade di pasar Tasik ngeunah pisan, ada rasa ebi-nya. Bakmi Tasik dan Rajim masing-masing punya karakter, harga sekitar 40 ribu-an. nah tujuannya pengen bikin bakmi enak berkarakter seharga 25-ribuan. Ya gamau jual mahal-mahal juga sih di era krismon seperti sekarang. 

 

Bisa ceritakan sedikit mengenai brand sepatu lo, Neats?

 

Di Neats kita bertiga. Saya, Ferin sama Choki. Namanya dari si Ferin. Dari lagu The Damned yang “Neat neat neat”. Kata slank pergaulan lah. Artinya keren, bersih. Logo polar bear-nya karena saya suka brand X-Large dengan logo gorila-nya dan Ben Davis dengan logo monyet nya. Saya cari icon beruang kutub karena dia adalah binatang yang kuat di cuaca apapun bisa survive. Saya juga ingin brand ini mo ada pandemi atau apalah, bisa tetep survive. 

 

Konsepnya pengen jualan diluar sebenarnya. Kita ngebidik pasar Australia, udah ngebidik 3 toko. Cuma karena pandemi agak terhambat. Neats lahir sebenarnya tahun 2018 dan sepabrik sama Compass. Pas era kejayaan sepatu lokal. Kita gamau bikin setengah-setengah dengan kualitas apa adanya. Kita brand independen DIY tapi kita bikin insole PU dan juga outsole. Kalau kita keluar dengan something special impresi orang akan berbeda. Setelah briefing konsep, karena kita pake foto kamera film, yaudah sekalian kita adopsi iklan-iklan vintage dan classic advertising. 

 

Kita juga pake slogan “Start Today” karena saya suka si CIV dari Gorilla Biscuits. Karena kalau kita mau pergi dan memulai hari itu kan pertama kita memakai sepatu, karena itu slogan nya “Start Today”

 

Top 10 tempat makan favorit kamu dari Cimahi sampai Tokyo dimana saja? Hahaha..

 

1. Ayam Goreng Mat Lengket – Jakarta Timur. Terbaik di dunia ayam gorengnya. Semur jengkolnya juga enak.

2. Yamachan – Shinjuku dan Nagoya. Chicken Wings terbaik di dunia.

3. Sop Saudara – Makassar. Rata-rata sop saudara di Makassar enak-enak. Sop selera nusantara.

4. Dapur Solo – Solo. Garang asem terbaik!

5. Gudeg Pawon – Yogya. Menurut saya sih lebih enak dari Gudeg Yu Djum.

6. Angkringan Pak Gik – Semarang. Gorengan-nya terbaik.

7. Ayam Olie / Ayam Goreng Nikmat – Bandung. Bingung milihnya. Ayam Olie enak sambel dadak-nya.

8. Seafood Warung Teras -  Tarakan, Kalimantan. Sebenarnya ini Chinese Food tapi terkenal dengan menu seafood dan lobster terbaik di kota Tarakan.

9. Mie Kocok Mang Nanang – Jl. Ternate, Bandung.  Di pengkolan deket Baso Mas Tato, pengkolan Saparua.

10. Warung Nasi Pojok – Jl. Gambir Anom. Warteg legend ini mah di deket kantor Maternal dan Vearst Jeans. Sama yang di jalan Maleer depan gerbang. terbaik ini rasanya..

 

Last shout?

Jangan terlalu serius berbisnis, jangan ikut kelas bisnis online maupun offline, banyakin nongkrong, temen dan canda tawa. hahaha..