Keseharian masyarakat Indonesia yang dekat dengan hal-hal mistis membuat horror menjadi genre film yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya film horor yang rilis setiap tahunnya. Coba inget-inget deh, dulu kalo ke bioskop pas beli tiket mau kapan pun nontonnya, di jajaran film yang tayang di bioskop pada hari itu pasti ada film horornya. Dari banyaknya film horor Indonesia, kami akan merekomendasikan 5 film horor indonesia berikut ini yang layak kamu tonton.

1. Bayi Ajaib (1982)
Film yang disutradarai oleh Tindra Rengat ini bercerita mengenai persaingan Kosim (Muni Kader) dan Dorman (W.D Muchtar) yang berambisi untuk menjadi Lurah di sebuah Desa. Kosim lebih diuntungkan karena dia menemukan berlian ketika bertambang di sungai. Mengetahui hal Itu, Dorman perlu melakukan sesuatu untuk mengalahkan Kosim. Dorman pun menempuh cara yang tidak biasa, yaitu membangunkan arwah leluhurnya bernama Alberto Domenique. Lalu muncullah hal-hal yang tidak biasa terhadap Sumi (Rina Hassim) istrinya Kosim kandungannya berpindah ke punggung. Bahkan setelah lahir pun anak dari Kosim dan Sumi berkelakuan sangat aneh. Warna film khas tahun 80an, cerita yang tidak berlebihan disertai scoring yang cukup menyeramkan menjadikan film Bayi Ajaib tetap menyeramkan meskipun ditonton di tahun 2021 ini.

2. Jelangkung (2001)
Film Jelangkung ini menjadi tanda kebangkitan film horor Indonesia setelah mati suri di era tahun 90an. Film yang disutradarai oleh Rizal Mantovani dan  Jose Poernomo ini bercerita tentang  Feri (Winky Wiryawan), Gita (Melanie Ariyanto), Gembol (Roni Dozer), dan Soni (Harry Pantja) yang hobi mengunjungi berbagai lokasi yang dikenal angker hanya untuk mencari keberadaan makhluk halus. Karena arogansi Soni, disalah satu tempat yang mereka datangi yaitu Angker Batu, mereka melakukan sebuah ritual dan mengucapkan mantra jelangkung sambil memasang boneka jelangkung di sebuah kuburan. Ketika ditancapkan tidak terjadi apa-apa, tapi ketika pulang teror dari dunia mistis mengikuti. Untuk memutus terror itu, empat sekawan ini meminta bantuan orang pintar dan mereka disuruh untuk kembali ke Angker Batu untuk mencabut jelangkung. Dulu sempat beredar kabar bahwa di salah satu scene di film Jelangkung ini ada penampakan makhluk halus. Di film Jelangkung ini juga, mengangkat urban legend seperti rumah kentang dan juga kemunculan pertama dari Suster Ngesot.


3. Bangsal 13 (2004)
Bangsal 13 bercerita tentang dua orang sahabat Natasha (Endhita Wibisono) dan Mina (Luna Maya) tidak sengaja menabrak seorang gadis bernama Hera. Mereka berdua pun membawa Hera ke sebuah Rumah Sakit. Rumah Sakit yang didatangi mereka pun penuh. Karena keadaan darurat akhirnya suster pun membuka Bangsal 13 yang telah 20 tahun ditutup. Pada malam hari, Natasha mendengar  ketukan  dari sebuah pintu kecil yang menempel di lantai.Ketika melihat pintu itu lebih dekat,dia dikejutkan oleh Suster Frida (Lia Candrasari), yang mengingatkannya untuk tidak membuka pintu tersebut. Tapi, hal itu tidak digubris dan pintu kecil tersebut pun dibuka oleh Natasha. Berawal dari hal itu kejadian-kejadian tak terduga pun kembali menghampiri Natasha dan Mina. Ternyata, 20 tahun lalu sempat ada suster yang mengalami gangguan jiwa dirantai sampai meninggal di Bangsal 13.  Masih inget dulu pas nonton film ini di bioskop ada celetukan suara cewek yang bilang “ini film kok malem terus sih, jarang siangnya”. Baru sadar ketika denger itu emang film garapan Ody C Harahap ini set-nya malem terus.


4. Keramat (2009)
Film yang berapa kali ditonton pun tetap menyeramkan. Film garapan Monty Tiwa ini bercerita tentang para kru film yang dengan para pemainnya ,Miea (Miea Kusuma) sebagai sutradara, Sadha (Sadha Triyudha) sebagai asisten sutradara, Dimas (Dimas Projosujadi) sebagai manajer, serta kedua pemain utama, Diaz (Diaz Ardiawan) dan Migi (Migi Parahita). Ada juga Poppy (Poppy Sovia), Cungkring (Monty Tiwa), dan Brama (Brama Sutasara) yang akan syuting di daerah Bantul. Para kru film ini mengalami kejadian-kejadian aneh yang dimulai ketika ada seorang pria mengetuk jendela mobil dan menyuruh untuk pulang. Puncaknya ketika Migi dirasuki arwah ketika menginap di sebuah rumah. Di kira sudah sembuh, tiba-tiba Migi menghilang tanpa jejak. Untuk mencari Migi, para kru meminta bantuan orang pintar dan mereka pun diharuskan untuk ke daerah Pantai Selatan. Di sana satu-satu kru pun menghilang dan berpindah ke “dunia lain”. Keramat menjadi film horor Indonesia yang beda dengan film lainnya karena memakai pengambilan gambar menggunakan teknik Point of View, yakni mata kamera jadi mata penonton. Tidak ada darah dan kemunculan tiba-tiba makhluk menyeramkan tetap membuat KEramat menjadi film yang bikin bulu kuduk berdiri.

5. Asih (2018)
Merupakan salah satu film dari Danur universe yang diangkat dari buku hasil karya tulisan Risa Saraswati. Film yang disutradarai oleh Awi Suryadi ini mengambil latar 37 tahun sebelum peristiwa Danur. Menceritakan tentang Ita (Citra Kirana) beserta Andi (Darius Sinatria) yang tinggal di pinggiran kota Bandung bersama Ibunya Andi (Marini). Pada saat itu Ita sedang hamil tua, lalu menemukan sisir di kasur dari ibunya Andi tanpa diketahui kalau pada saat itu Asih (Shareefa Danish) sedang mengawasi Ita karena tertarik dengan anak yang tengah dikandungnya. Teror dari Asih dimulai setelah anak dari Ita dan Andi lahir. Dimulai dari hilangnya anak tersebut tiba-tiba sampai scene ketika Ibunya Andi sedang shalat lalu ketika berdoa tiba-tiba ada Asih disampingnya dan berkata “Amin”. Asih sendiri sudah ada yang kedua-nya tapi setelah ditonton, tetap masih lebih seram yang pertamanya.

 

 Words & curated by team JEURNALS
Pada masa pandemi ini kita disuguhi oleh beberapa trailer film yang sangat menarik. Sempat tidak tahu kabar kapan bioskop akan dibuka kembali. Akhirnya, pada awal bulan Oktober 2021 dikabarkan bahwa bioskop dapat beroperasi kembali, tentu dengan penerapan prokes yang ketat. Untuk merayakan hal tersebut, kami akan bagikan rekomendasi 5 film yang harus kalian tonton di bioskop.

1. The French Dispatch
Film yang trailer-nya rilis pada tahun 2020 silam ini dihiasi oleh jajaran aktor dan aktris yang sudah tidak diragukan lagi. Seperti Adrien Brody, Saoirse Ronan, Willem Dafoe, dan Owen Wilson akan menghiasi film Garapan Wes Anderson ini. Ngeliat trailer-nya memperlihatkan tone warna dan pergerakan kamera-nya menjadi ciri khas dari Wes Anderson banget.


2. Dune
Film yang berlatarkan sebuah planet di luar angkasa ini diadaptasi dari novel fiksi ilmiah karya Frank Herbert. Dune menceritakan tentang seorang anak bangsawan yang dipercaya untuk melindungi aset yang berharga dan elemen paling vital di sebuah galaksi. Di poster-nya sih katanya tayang tanggal 22 Oktober.

3. Spider-Man: No Way Home
Di post credit scene film Spider-Man:Far From Home, diperlihatkan sebelum dikalahkan oleh Spider-Man, Mysterio sempat memberi tahu siapa sosok dibalik Spiderman dan video tersebut ditayangkan di kampung halaman Peter Parker. Nah, No Way Home ini bercerita tentang Peter Parker meminta bantuan Doctor Strange ingin menghilangkan ingatan semua penduduk dunia kalau dia adalah Spider-Man. Nampaknya hal itu ternyata menimbulkan banyak masalah. Melihat visual yang begitu bagus sayang kalau film yang satu ini terlewatkan dan tentunya harus ditonton di bioskop.


4. House Of Gucci
Film ini dibintangi oleh sederet nama besar di dunia perfilm-an seperti Al Pacino, Adam Driver, Salma Hayek, Lady Gaga, dan yang paling menarik adalah penampilan dari Jared Leto. Perannya sebagai Paolo Gucci, Jared Leto terlihat sangat berbeda. House of Gucci bercerita tentang drama keluarga yang dihiasi oleh pengkhianatan, dendam dan berujung pada pembunuhan. Dan begitu berartinya sebuah nama.


5. The Matrix Resurrection
Yang ini sih sangat patut ditunggu. Ngeliat trailernya meskipun tampilan Keanu Reeves seperti itu sudah identic dengan John Wick tapi tetep penasaran. Di perlihatkan Neo yang sedang berkonsultasi dengan seorang psikolog yang meragukan dunia nyata dan The Matrix. Terus bertemu dengan Trinity (Carrie-Anne Moss) di sebuah coffee shop dan Trinity seperti tidak mengenali Neo. DItambah ada sosok baru yang memerankan Morpheus menjadi semakin penasaran dengan film ini.

 

 

Words & curated by team JEURNALS
Ulasan film ini kita awali dengan flashback ke tahun 1996 silam, dimana ada film bercerita mengenai 101 ekor anjing dalmatian melawan dua orang pria yang disuruh oleh seorang designer terkenal bernama Cruella de Vil untuk mengambil anjing tersebut dan kulitnya akan dijadikan sebuah mantel. Di tahun 2021 ini, kita diperlihatkan asal-usul Cruella De Vil melalui film Cruella yang dirilis oleh Disney. Film yang dibintangi Emma Stone ini bercerita mengenai bagaimana tumbuh kembangnya seorang wanita dengan rambut berwarna hitam putih dari bagaimana dia lahir sebagai Estella dan berakhir dengan nama Cruella de Vil.


 

Film yang disutradarai oleh Craig Gillepsi ini dibuka dengan masa kecil Estella yang hidup berdua dengan ibunya. Masa kecil Estella terlihat berbeda dengan anak-anak sebayanya sehingga dia susah untuk beradaptasi di sekolahnya. Dikarenakan Estelle selalu berulah, ibunya pun memutuskan untuk pindah ke London. Sebelum ke London mereka singgah ke pesta di sebuah rumah besar. Di rumah tersebut Estella melihat ibunya meninggal terjatuh dari tebing didorong oleh 3 anjing dalmatian.

 

Di Tengah kesendiriannya, Estella bertemu Jasper (Joel Fry) dan Horace (Paul Walter Hauser). Lalu mereka pun tumbuh bersama dengan menjadi pencuri. Suatu saat Jasper memberi hadiah ulang tahun kepada Estella berupa tawaran kerja di salah satu butik. Di butik itulah asal mula perkenalan Estella dengan Baroness (Emma Thompson) seorang fashion designer terkenal yang sangat dipuja oleh Estella. Akhirnya Estella pun dijadikan salah satu asisten Baroness.

 

Seiring berjalannya waktu Estella pun menyadari ada yang aneh dengan Baroness yang berujung kepada kebencian Estella terhadap Baroness. Dari situ Estella membuat satu tokoh anonymous fashion designer dengan nama Cruella. Cruella ini merupakan sisi lain dari Estella yang lebih berani, terkadang lebih liar dibandingkan Estella. Cruella berkali kali membuat sensasi untuk mengalahkan Baroness. Salah satunya di saat Baroness mengadakan Gala, Cruella membuat fashion show yang rusuh di depan Gedung tempat diadakannya Gala. Cerita pertarungan antara dua antagonis Cruella dan Baroness pun diakhiri dengan sebuah plot twist.

 

Selama 2 jam lebih kita disuguhkan gambaran suasana yang gelap, mungkin menjadi film Disney pertama yang bernuansa gelap.  Kelakuan  Jasper dan Horace di film ini memberikan warna komedi yang tidak berlebihan. Emma Stone sukses memerankan dua kepribadian yang berbeda antara Estella dan Cruella. Emma Thompson pun menarik perhatian dengan peranya sebagai Baroness, sosok yang dingin dan jahat. Karena film ini bertemakan fesyen, kostum yang digunakan terlihat menakjubkan. Dan yang menjadi nilai plus lagi lagu-lagu dari The Rolling Stone, The Clash, Nancy Sinatra, David Bowie sampai Black Sabbath menjadi scoring untuk film Cruella.

Words & curated by team JEURNALS
This Is Pop, sebuah docuseries music keluaran Netflix  yang menceritakan tentang elemen-elemen penting di industri musik pop. Bukan mengulas “pop” secara mendalam tapi docuseries dengan 8 episode ini menceritakan momen-momen bersejarah yang mempengaruhi perkembangan industri musik pop di dunia.

 

 

This Is Pop dimulai dengan membahas Boyz II Men menjadi salah satu grup vokal pria yang sempat  mendominasi pada masanya, di episode pertama ini diceritakan bagaimana Boyz II Men dapat menjadi sebuah fenomena yang besar dan juga bagaimana pamor mereka bisa turun. Episode 2 bercerita tentang bagaimana autotune diciptakan dan dampaknya terhadap industri music. Salah satu yang kena dampak adalah  T-Pain, rapper yang memakai autotune untuk pertama kali. Sehingga, dirinya mendapat cemoohan dari rapper lainya.

 


 

Berikutnya di episode ke 3 ada Stockholm Syndrome. Ini menjadi episode yang menimbulkan kata “ooohhh” sering keluar dengan sendirinya dari mulut. Stockholm Syndrome menceritakan bagaimana Stockholm menjadi ibu kota music pop yang tidak banyak diketahui. Banyak sekali deretan lagu pop penciptanya adalah orang dari Swedia. Seperti lagu N’Sync “its Gonna Be Me”, Britney Spears “Give Me Baby One More Time,” Katy Perry “ET,” Taylor Swift “Shake It Off,” dan masih banyak lagi lagu-lagu hits yang ditulis, diciptakan bahkan direkam di Swedia. Lalu di episode ke-4 ada Dolly Parton, Willie Nelson dan Lil Nas menjadi artis-artis yang mempunyai peran  besar terhadap perkembangan music country Amerika berubah menjadi salah satu music popular di dunia.

 

 

Hail Britpop! Episode 5 This Is Pop bercerita tentang bagaimana music britpop dari Inggris ini mencuat di tengah dominasi grunge. Blur menjadi band yang menembus dominasi grunge yang sedang digandrungi pada era itu. Disusul oleh Oasis yang muncul dengan gaya urakan dari Manchester. Di episode ini diceritakan juga bagaimana persaingan antara Blur dan Oasis. Ngomongin musik, nampaknya kurang kalo nggak ngebahas festival musik. Nah, di episode 6 “Festival Rising” menceritakan bagaimana awal mulanya festival musik bisa terjadi, salah satunya sejarah dari festival Glastonbury yang awalnya hanya ide dari seorang petani Inggris yang ingin memanfaatkan lahan besar miliknya. Juga ada cerita dibalik kerusuhan yang terjadi di Woodstock 1996.

 

 

Episode ke-7 bercerita mengenai peran lagu untuk protes. Dari masa Woody Guthrie tahun 1940-an sampai  Kendrick Lamar lagu dijadikan salah satu alat protes atas ketidakadilan sosial dan simbol perlawanan menjadi salah satu bahasan episode dengan tajuk What Can A Song Do?. Lalu,  di episode terakhir, kita dibawa ke masa tahun 50-60-an dimana ada sebuah Gedung di New York yang bernama Brill Building yang menjadi tempat rekaman para penyanyi pada masa itu. Seringnya Brill Building menjadi tempat rekaman untuk lagu-lagu hits, menjadikan Gedung itu disebut sebagai “a songs factory”.
This Is Pop menjadi sarana audio visual untuk menjelajahi Musik Pop secara ringan tanpa harus terlalu lama fokus terhadap salah satu band atau artis pop itu sendiri.

 

 

Words & curated by team JEURNALS
Matt McCormick adalah seniman multi-disiplin, dimana karya-karyanya mengasimilasi berbagai pengaruh dari kultur yang berbeda yang berasal dari Amerika. Dia merubah berbagai influens tersebut menjadi sebuah visi artistik yang unik dan dinamis seperti topografi itu sendiri. Di dalam karya-karya McCormick, elemen-elemen yang tampaknya tidak cocok bisa berbaur bersama dengan mudah — mencerminkan sejarah yang saling bertentangan di Kalifornia, negara bagian asal Matt McCormick.

 

 


Seperti dalam lukisan dan gambarnya, nostalgia dan dongeng masa lalu berbenturan dengan realitas kemiskinan dan perselisihan yang dihadapinya setiap hari di kota Los Angeles, tempat dimana studionya berada. Sebagai seniman Matt merangkul aspek-aspek ini sebagai pengaruh untuk karyanya: kota-kota pertanian, budaya koboi modern dan glamor Hollywood tahun 1920-an yang memikat imajinasi kita. 
Karya-karyanya menampilkan kontras yang mencolok antara warisan fisik Wild West, yang dipenuhi dengan benda-benda menyedihkan yang dapat dibuang, dan warisan budaya yang hidup yang tetap hidup sampai hari ini. Karya seni McCormick mewujudkan semangat sejati dan budaya Amerikana, tetapi juga kondisi manusia, penuh dengan jiwa-jiwa pemberontak, para pengambil risiko dan penjahat-penjahat di luar norma sosial. Matt tinggal dan bekerja di Los Angeles. Karyanya telah dipamerkan dalam pertunjukan tunggal dan juga pertunjukan kelompok di New York, Hong Kong, Miami, London, Los Angeles, Tokyo, Aspen sampai San Francisco.

 

 

Untuk pameran perdananya, Galeri Gauthier (Los Angeles) menyelenggarakan eksibisi lukisan karya Matt McCormick yang berjudul “The Sun Shines For Those Who Look Beyond The Clouds”. Pertunjukan ini menampilkan lukisan miniatur dan seukuran aslinya yang menggambarkan citra nostalgia Amerika yang familiar dari sang seniman. McCormick juga meninjau kembali karya-karya lanskap sebelumnya untuk memperkenalkan tema-tema baru seputar umat manusia dan alam. Sebagian besar lukisan dalam pameran tersebut menggambarkan visual tornado yang merusak alam. Representasi hubungan kausal antara manusia dengan bencana alam yang saling mempengaruhi.

 

 

Matt McCormick juga pernah merilis buku Hardcover berjudul ’Into The Distance’, yang menampilkan gambar-gambar koboi khas Matt McCormick. Buku tebal setebal 300 halaman ini menampilkan gambar koboi dengan gestur khas McCormick yang dibuat selama lima tahun, dengan background gambar-gambar pedalaman Amerika Barat yang ditemukan dari internet. Dimulai pada tahun 2015, ‘Into The Distance’ lahir dari keinginan untuk menciptakan sebuah karya menggunakan teknologi modern dan pada saat yang sama mempertahankan elemen abadi dari nenek moyang seni Amerika Barat. McCormick menggunakan printer yang rusak untuk membuat latar belakang komposisinya yang menghasilkan gambar seperti merujuk pada selebaran xerox ala flyers punk. Semua kesalahan yang dibuat oleh tangan manusia dia biarkan tampil begitu saja tanpa bantuan teknologi agar jauh dari citra komersial. Seringkali, dia melakukan perjalanan ke Selatan dan Midwest untuk mengambil fotonya sendiri. Kontras gambar arang yang mencolok digabungkan dengan lanskap yang dicetak dengan kasar menciptakan kombinasi abadi yang terus dikembangkan McCormick dalam lima tahun membangun kumpulan karya ini.

 

 

Artis ini terpesona oleh koboi karena berbagai alasan. Menurutnya,  ketika masih kecil koboi adalah contoh utama seperti apakah ‘seorang pria’ ideal itu, dikeraskan oleh unsur-unsur luar, tetapi tetap resilient dan mampu mempertahankan juga mendukung diri mereka sendiri dari tanah dan tangan kosong mereka. Mungkin ini adalah simbolisme maskulinitas yang mengakar dalam budaya Amerika yang diwujudkan oleh karakter koboi tersebut.

 

 

Matt McCormick juga pernah membuat dupa custom ‘Lost Highway’ untuk MAAPS. Setelah bekerja sama dengan Brain Dead tahun lalu untuk pemegang dupa amal, MAAPS kembali dengan kemitraan baru yang menampilkan desain packaging dan aroma khusus oleh seniman Matt McCormick. Berjudul Lost Highway, setiap kotak dupa dilengkapi dengan lima belas batang bambu yang dicelupkan dengan tangan. Mereka dibuat dengan unsur-unsur pinus ponderosa, sage putih, balsam pinus, violet, iris dan jahe. Untuk apparel, Selain pernah berkolaborasi dengan Neighborhood, Matt McCormick juga pernah merilis koleksi pakaian “Texas Flood” yang terinspirasi oleh musisi Blues Rock legendaris Stevie Ray Vaughn.

 

Words by Aldy Kusumah
Layout by Prita
Photos from https://mattrmccormick.com/

Suatu saat saya membaca sebuah tulisan dari salah satu portal berita online yang terkemuka sedang membahas lagu yang banyak diputar di sebuah platform digital music. Ada kalimat kalau pop punk ternyata Kembali digandrungi para pendengar. Salah satu pemicu nya adalah MÃ¥neskin, band rock asal Italia. Potongan kalimat itu membuat ada dua genre music yang berbeda disebabkan oleh penulisnya untuk satu band. Jadi MÃ¥neskin ini band rock atau pop punk?

Dan ketika mendengarkan album  barunya Deafheaven “Infinite Granite” yang terdengar sangat berbeda dengan album-album sebelumnya. Terus ketika ada yang bertanya Deafheaven tuh genre music nya apa? Sebagai penikmat kita pasti sedikit bingung, atau mungkin kalo nggak males dan butuh bahan untuk obrolan dijelaskan secara terperinci kalo di album ini genre music mereka gini, kalo di album berikutnya jadi gitu dan seterusnya.

Dari dua kejadian itu saya pun menjadi penasaran dan menanyakan pertanyaan “Masih Perlukah Pelabelan Genre Musik Kepada Suatu Band Atau Musisi?” kepada lima orang kawan saya. Dan inilah jawaban mereka.

 

Idhar Resmadi ( Penulis, Jurnalis ) 
 

 

Pertanyaan simple tapi berat. Kalau saya melihatnya dari banyak faktor sesuai kebutuhan musisi mencantumkan genre tersebut untuk keperluan apa dulu. Untuk kebutuhan marketing atau identitas atau branding dan konsumsi musik para pendengarnya. Cuman untuk membicarakan perkembangan musik atau trend memang eranya tuh udah “hybrid”. Kayak ada musik Afrika yang ada unsur musik rock-nya udah mulai bisa diterima di media-media besar, jadi dalam artian itu sudah sangat lebur dengan campuran sana sini jadi makin beragam. Kalau dari sudut pandang si musisi mereka jelas perlu kebebasan untuk mengekspresikan karyanya. Kalau kita telaah sejarah penyebutan genre music itu selalu datang dari media, dari jurnalis atau bahkan dari industri itu sendiri. Karena di era sekarang statement itu penting meskipun tidak bisa sesederhana mencantumkan rock, jazz, pop dan sebagainya. Sekarang udah punya keleluasaan untuk bisa bilang  psychedelic southern metal misalnya. Hal seperti itu tetap butuh karena cara berpikir manusia itu lewat informasi, otak tuh banyak memproses informasi. Jadi kalau kita melihat sebuah band tapi kita tidak punya informasi tentang music band tersebut rock, pop, atau apapun itu. Salah satu penyampaian informasi tersebut adalah lewat statement genre music yang memang di klaim oleh musisi itu. Tapi pada satu sisi kalo kita bicara tentang genre music itu sudah tidak relevan, ya bisa jadi juga. Karena spotify pun sudah tidak menyebutkan atau melabeli sebuah genre music. Kalau diperhatikan mereka lebih menjual nuansa Seperti, music galau, music senja, music olahraga atau untuk menemani belajar. Spotify melihat genre music Sekarang ini udah tidak relevan dan yang lebih relevan itu suasana. Kalau kita mau mendengarkan musik ya pasti kita lebih beli rilisan fisik yang bener niat untuk didengarkan. Kecenderungan platform ini memang menjual suasana. Tapi pada satu sisi kalo menurut saya tetep band tuh butuh klaim. Karena bingung juga yah kalo ada satu band yang membebaskan genre musiknya apa. Malah jadi akan membingungkan audience jadi klaim itu penting. Mau musiknya jadi berbeda tapi sebuah klaim itu bisa datang. Karena itu tadi manusia tuh berpikir melalui informasi. Jadi kalau kita nemu satu benda terus benda itu asing terus kita mengetahui informasi tentang benda itu, pasti orang akan bingung dan orang akan menjauh dari benda itu. Mungkin dengan adanya pelabelan genre akan membuat relate antara musisi dengan fansnya.

 

Adib Hidayat ( Penulis dan Pemerhati Musik) 
 

 

Istilah mereka mau label tertentu dengan genre musik yang mereka usung saat ini, itu sebenernya dikembalikan ke musisinya itu sendiri. Ada yang fanatik dengan jalur musik tertentu misal hardcore, metal, punk dan pop gitu. Tapi pada prinsipnya nanti kedepan mereka tidak tahu influence apa yang akan memasuki musik mereka. Tapi tidak berubah ekstrim seperti Pantera dari hard rock berubah menjadi metal misalnya. Cuman sebenarnya dikembalikan kepada band dan musisinya itu sendiri. Dia mau se-elastis apa mengakui roots musiknya, kalo misalkan dia rock nanti ada influence-influence lain. Misalkan jadi prog, art atau ada asupan musik lain. Kalo pop pengen lebih berkembang lebih jazzy misalkan, atau mungkin soul r&b bisa lebih menjelajah kemana lagi. Jadi sebenernya dikembalikan ke musisinya. Kalo menurut saya penting nggak penting lagi, karena kedepan kita tidak tau genre musik apa yang mereka pilih sesuai dengan update yang terjadi sesuai zamannya. Walaupun tetap saja ada yang tetep mengusung satu genre itu terus.

 

Baruz (Godless Symptoms, Konfliktion, Balcony)
 

 

Kalau menurut saya sebagai pemain band, sekarang sebetulnya genre tuh jadi bias. Namun kenyataannya bila orang telah dihadapkan dengan media, band akan menjelaskan genre musik apa yang dia usung. Penyebutan genre itu asih perlu sih yah, karena untuk menjelaskan roots-nya band atau musisi itu sendiri. Hal itu akan menjelaskan basic roots nya musisi tersebut darimana. Meskipun nggak mau dilabelkan, itu jadi urusan belakangan. Tapi roots-nya dan pelabelan pasti akan tetap kebawa.

 
Ekrig (Avhath, 630 Records)

 

 

Menurut gw nggak perlu untuk ngelabelin satu warna musik terhadap band atau musisi tertentu. Karena, reference makin banyak dan makin cepat datangnya lewat ke telinga lo hampir perdetik lebih cepat informasi yang didapat dan informasi yang dicari. Ketika orang sudah meng-crossover genre yang sebelumnya belum di-crossover sudah tidak lagi bisa dilabeli dengan genre A atau B. Karena it’s just a matter of how you experiment with your reference sih kalo menurut gw. Nggak penting sih jadi nikmatin aja.

 
Michael (Bleach) 
 

 

sebenernya buat aku pribadi pelabelan genre itu sendiri untuk sekarang ini udah ga begitu perlu sih, soalnya dari musik-musik yang aku dengerin sendiri juga dalam sebuah band atau musisi itu mereka mencampur berbagai macam genre dari referensi mereka sendiri. Itu yg membuat sekarang pelabelan genre itu bisa aku anggap kurang relatable dengan kapasitas musik-musik yang sekarang ada, yang dimana pengemasannya itu sangat sangat keren hingga dapat membuat warna baru yang belum pernah kita dengar sebelumnya.

 

 
Words by Firman Oktaviawan 

1UP adalah sebuah grup graffiti vigilante dari Berlin. Dengan bersenjatakan cat kaleng spray, mereka sudah mendominasi scene graffiti yang terlihat di beberapa video online mereka yang viral. Dengan masifnya graffiti-graffiti yang mereka buat, sudah seharusnya mereka mendapatkan medali emas jika ada Olimpiade graffiti. Mereka juga pernah berkolaborasi pada tahun 2017 dengan Museum Urban Nation untuk sebuah serangan aerosol pada dinding museum mereka. 1UP mengerjakan ini di siang hari dengan menggunakan topeng kabuki. Mereka juga bahkan pernah melakukan tag didalam air menggunakan karang di pulau Nusa Penida dekat Bali. Aksi ini adalah sebuah statement untuk menjaga lingkungan alami.


Sejak tahun 2003, kolektif anonimus ini sudah meninggalkan karyanya pada gerbong-gerbong kereta U-Bahn, mobil polisi, dinding-dinding perumahan dan atap-atap pertokoan. Ada sebuah beberapa video epik mereka yang memperlihatkan anggota 1UP menyemprot cat pada mobil polisi yang lewat. Di video lainnya terlihat mereka tagging seluruh gerbong kereta dalam hitungan menit lalu kabur lewat rel kereta. Ya, video-video viral ini yang sudah ditonton jutaan viewers di Youtube tentunya membuat nama 1UP semakin notorious. Sebuah pengakuan dan testamen terhadap jiwa pemberontakan dan solidaritas mereka. Bahkan fotografer legendaris Martha Cooper dan Ninja K menghabiskan satu minggu bersama crew 1UP pada tahun 2018 untuk sebuah proyek bernama “ONE WEEK WITH 1UP”, yang kemudian dijadikan sebuah buku bernama sama yang memperlihatkan potret-potret intim terhadap grup graffiti artist ini.


Mungkin karya mereka yang paling terkenal adalah video 2018 mereka yang berjudul “Graffiti Olympics”. Pada video tersebut mereka menggunakan drone untuk mendokumentasikan kru-kru 1UP saat mereka tagging dan “memperindah” kota Athena (Yunani), bombing dan tagging di siang hari bolong. Aksi-aksi seperti inilah yang membuat reputasi mereka sebagai salah satu group graffiti paling berbahaya di dunia. Mereka juga telah mendefinisikan standar baru dalam membuat karya mural dan melakukan aksi-aksi illegal berbahaya. 



Layaknya anggota Project Mayhem di film Fight Club, mereka menjalani 2 kehidupan: merangkak di terowongan-terowongan kotor pada malam hari, lalu kembali bekerja pada pagi harinya layaknya orang normal seolah mereka tidak kurang tidur.



1UP yang kepanjangannya adalah “One United Power” adalah sekumpulan graffiti artist yang berbasis di Berlin. Mereka lebih dikenal melalui singkatan 1UP nya yang tentu saja diambil dari Super Mario Bros. Tidak ada yang mengetahui berapa orang anggota 1UP atau umur dan edukasi mereka. Tentu saja tidak ada yang mengetahui siapa juga otak dibalik 1UP ini karena mereka selalu anonymous dalam setiap aksinya. 



Karya-karya mereka dapat dilihat di atas ribuan permukaan kota Berlin dan kota-kota lainnya. 1UP telah mengubah pengalaman seseorang untuk mengeksplor suatu kota dengan dinamisme yang berbeda secara artistik. Karena itulah 1UP merupakan sebuah pengalaman urban: karena seluruh kota adalah museumnya, dan mencari karya mereka adalah seperti menemukan harta karun atau hidden gems. Aksi-aksi mereka yang sebenarnya tidak sepolitikal Banksy ini justru malah berdampak politis secara tidak sengaja. Dengan banyaknya bombing mereka di seluruh kota Berlin, maka pertanyaan “Siapakah yang menguasai Berlin?” layak untuk ditanyakan. 



Words & curated by team JEURNALS

Dari film tentang Nicolas Cage yang murka kehilangan babi piaraan-nya, body-horror ala David Cronenberg, legenda medieval tentang King Arthur dari A24 sampai team super-villain yang melawan kaiju, berikut adalah beberapa rekomendasi film-film pilihan JEURNALS untuk menemani weekend-mu…


The Suicide Squad (Dir. James Gunn)
 



Lupakanlah Suicide Squad (2016) yang disutradarai oleh David Ayer. James Gunn, sutradara Guardians of the Galaxy membelot sebentar ke DC untuk mendirect “The Suicide Squad”. Ya, penekanan pada kata “The”. Bukanlah prekuel, bukan juga sekuel, film ini dibuat seolah James Gunn tidak pernah menganggap Suicide Squad versi David Ayer eksis. Dengan diberinya kebebasan penuh atas input dan output kreatif, James Gunn akhirnya bisa membuat film “superhero” ala James Gunn: Sadis, tidak terlalu serius, visual yang bombastis, dan banyak mengangkat tema-tema serius dibaliknya, tapi tetap FUN. Plot yang menyerupai film perang ala Platoon ini diisi oleh karakter-karakter obscure DC comics seperti Ratcatcher 2, Polka Dot Man, T.D.K., Bloodsport, Peacemaker sampai Starro The Conqueror. Dengan humor dan tingkat kesadisan yang cukup tinggi, ini adalah sebuah film superhero, eh, supervillain yang berbeda. Tapi dibalik semua tema anti hero yang aneh itu, tanpa disangka beberapa scene terbaik di film ini justru malah bisa menyentuh emosi penonton. Lupakanlah The Avengers, The Suicide Squad is one of the best anti hero films ever made.



Bad Trip (Dir. Kitao Sakurai)
 



Untuk sebuah film penuh dengan gimmick hidden camera, Bad Trip karya Kitao Sakurai (dan produser Jackass, Jeff Tremaine) cukup menyenangkan dan fresh. Walaupun diselipi sedikit bumbu drama, 90% yang kamu lihat disini adalah orang-orang yang kena prank dan tertangkap kamera tersembunyi. Walaupun kadang komedi-komedi prank seperti ini membuat orang-orang tidak bersalah terlihat tolol, disini malah sebaliknya: banyak orang yang malah mencoba membantu atau menolong komedian Eric Andre, pemeran utama di film ini, agar tidak terlihat tolol. Dari 5 menit pertama saja saya sudah dibuat terpingkal oleh kelakar Eric Andre di sebuah scene tempat cuci mobil. Uniknya para “korban” prank disini terlihat sangat toleran (walau ada beberapa yang terlihat asshole). Sambil menunggu Jackass Forever, tidak ada salahnya untuk pemanasan dulu dengan yang satu ini.


Pig (Dir. Michael Sarnoski)
 


 

Nicolas Cage kembali lagi, kali ini dengan Pig yang critically acclaimed dimana-mana. Tidak lagi berakting over-the-top seperti biasanya, kali ini Nicolas Cage seolah bertransformasi menjadi versi terbaik dari dirinya. Plot-nya cukup sederhana: Nicolas Cage telah mempersembahkan performa terbaiknya disini dengan berperan sebagai seorang chef yang menjadi penyendiri dan tinggal di hutan bersama piaraan babi kesayangannya. Setelah babinya dicuri, dia kembali ke kota untuk mencari babinya yang hilang. Tapi ini bukan film revenge ala John Wick, lebih seperti cerita fabel dibandingkan sebuah film genre. Sutradara Michael Sarnoski tidak mengambil langkah plot balas dendam standar disini, seolah menghancurkan ekspektasi para penonton. Ini adalah sebuah perjalanan yang menyentuh, metaforik dan penuh dengan filosofi-filosofi eksistensial. Penonton akan dibawa dari restoran mahal ke tempat perkelahian bawah tanah. Kekuatan makanan untuk menyembuhkan dan melepas emosi-emosi yang lama tertahan seolah mengalir menjadi tema sentral film ini. Pig adalah sebuah cerita mengenai bagaimana kita akan kehilangan semua hal yang kita sayangi sampai kita sendiri akan menghilang pada akhirnya.


Nobody (Dir.Ilya Naishuller)
 


 

Bob Odenkirk, pemeran utama serial Better Call Saul kali ini bertransformasi menjadi seorang ayah yang tinggal di daerah suburbia, dan tiba-tiba berurusan dengan mafia Rusia. Disutradarai oleh Ilya Naishuller (sutradara film action first-person, Hardcore Henry) dan diproduseri oleh David Leitch (John Wick, Deadpool 2), sudah tentu ini adalah film action kinetik ala John Wick. Dalam beberapa adegan pun sepertinya film ini ada di universe yang sama dengan John Wick, karena penulis skripnya pun David Kolstad (screenwriter John Wick). Overall, sebuah film action yang entertaining dengan koreografi dan set-pieces menarik. Dengan ramuan yang sudah berhasil di franchise John Wick, tentunya Nobody pun akan bisa menjadi franchise yang menarik di kemudian hari. Melihat Bob Odenkirk  bertarung dan menjadi survivalist yang resilient tentunya sangat menarik, dan bahkan lebih unik dibandingkan melihat jagoan-jagoan tipikal seperti Liam Neeson atau Stallone…


A Quiet Place: Part II (Dir. John Krasinski)
 


 

Sekuel film horror invasi-alien karya John Krasinski ini memiliki intensitas yang sama dengan prekuelnya yang dirilis pada tahun 2018. Dibuka dengan flashback hari pertama alien-alien tersebut datang ke kota Millbrook, lalu tanpa jeda meneruskan story arc yang berakhir di ending film pertamanya. Setelah kematian suaminya, Evelyn Abbott (Emily Blunt) berjuang untuk mencari tempat aman untuk anak-anaknya: Regan (Millicent Simmonds), Marcus (Noah Jupe), dan bayi nya yang baru lahir. Dengan tambahan cast Cillian Murphy sebagai Emmett yang labil, film ini semakin menarik. Krasinski menyutradarai dengan penuh percaya diri. Permainan suara yang keren di film ini (dikarenakan para karakter tidak bisa bebas berbicara) benar-benar menjadi komoditas utama, karena berbagai pesan harus disampaikan secara visual melalui bahasa sinema. Dibalik semua jumpscares dan performa para aktornya, yang membuat A Quiet Place Part II spesial adalah pacing film ini yang terasa begitu pas, ditangan seorang filmmaker yang handal.

The Green Knight (Dir. David Lowery)
 


 

Interpretasi David Lowery terhadap cerita klasik legenda King Arthur ini benar-benar di dekonstruksi olehnya. Lagi-lagi di tangan rumah produksi/distribusi A24 (yang sukses dengan film-film seperti Hereditary, Midsommar, The VVitch) tentunya teknik marketingnya pun akan sedikit unik. Di beberapa bioskop pun hanya ditulis “Dev Patel memegang kapak” pada papan iklannya. Ketika suatu makhluk misterius yang berbentuk seperti pohon muncul, Gawain (Dev Patel) pun mengejar sosok tersebut yang disebut sebagai “Green Knight”, walaupun dia tahu bahwa ini adalah misi yang akan membahayakan nyawanya. Sebuah cerita fantasi dengan visual indah yang membiarkan penonton memiliki interpretasi masing-masing mengenai tema sentralnya. Mungkin para penggemar film medieval-fantasy ala Excalibur (1981), Legend (1985) atau The Princess Bride (1987) akan menikmati film ini.

Titane (Dir. Julia Ducournau)


 

Setelah membuat film tentang seorang kanibal dengan “Raw”, Julia Ducournau kembali mendorong titik-titik ekstrim dan kecintaannya pada sinema. Pada bagian awal film Titane sulit untuk membedakan apakah kita sedang melihat film paling gila tentang “keluarga” atau film paling romantis mengenai seorang pembunuh seri yang “bercinta” dengan mobilnya. Pada bagian-bagian selanjutnya film ini, sudah jelas bahwa film ini adalah kombinasi dari  keduanya; sebuah film yang sangat “fucked up” dan sekaligus romantis pada saat yang sama. Ya, film ini tidak bisa menjadi salah satu aspek tanpa aspek lainnya. Apapun itu hasilnya, tidak bisa dipungkiri kalau Titane adalah sebuah karya dari visioner nyentrik yang memegang kendali penuh atas imajinasinya. Anggap saja Titane seperti anak dari film body-horror karya David Cronenberg yang berjudul “Crash” dengan karya gila Shinya Tsukamoto “Tetsuo: The Iron Man”. Film ini juga memenangkan penghargaan Palme d’Or (mengalahkan The French Dispatch-nya Wes Anderson), penghargaan tertinggi di festival film Cannes.

Words & curated by team JEURNALS

 

Jeremy Dean, atau yang lebih dikenal dengan moniker Deansnuts seperti username Instagramnya adalah seorang designer, yang dikenal dengan T-shirt bootleg Grateful Dead x Black Flag nya. Mayer mulai mengenal Jeremy Dean saat dia sering touring bersama band Dead & Company, yang terdiri dari mantan para personel Grateful Dead (band rock legendaris yang dipimpin oleh Jerry Garcia). Setelah rilis ‘The Search for Everything’, tampaknya John Mayer sibuk mengerjakan materi-materi untuk album berikutnya. Dan ternyata pembicaraan Mayer dan Dean pada akhirnya mengarah ke ide kreatif untuk album John Mayer berikutnya, lengkap dari tema nostalgia musik rock ’80an sampai estetika visual, merchandise, teknik marketing dan tetek bengek lainnya. Beberapa T-shirt teaser yang di desain John Mayer dan Jeremy Dean pun langsung sold out dalam sekejap. Tentunya John Mayer sang dewa Visvim tidak akan sembarangan mencari designer untuk mengerjakan cover album terbarunya. Mari berbincang dengan Jeremy Dean mengenai karir awalnya mendesain cover-cover album hardcore di Jade Tree records dan lagu-lagu soft rock favoritnya…

 

I’ve read that you’ve done a lot of work for Jade Tree records (one of the pioneer emo/punk/hardcore labels)? That is one of my favorite record labels growing up! Tell us a bit about some of your work on Jade Tree…

I was lucky enough to meet Tim and Darren of Jade Tree in the late 90s. We are from the same hardcore scene of the mid to late 80s. So we hit it off right away. As soon as I met them I told them I wanted to work with bands and do album covers. They threw me in the mix immediately with the first Kid Dynamite LP and we were off and running from there. I was able to work on albums for The Explosion, Turning Machine, Pedro the Lion, Paint it Black, as well as Merch for Euphone, Joan of Arc, Promise Ring & Jets to Brazil. I had so much fun doing that work. It really let me stretch my legs design wise and helped me explore new ways to approach projects.

 

I’ve seen that you’ve done some work too with legendary bands like The Rolling Stones and Grateful Dead / Dead & Company.. How did you meet those guys?

I have been very lucky to have worked / worked with both bands. The Rolling Stones project came from someone on their team requesting me after seeing my work. Their merchandising team got in touch and set me loose on a series of posters and shirts. The Rolling Stones are one of my all time favorites so I was beside myself that I got to work for the band. The Dead / Dead & Company connection came from me making Dead bootlegs for years. Sounds weird I know but it has led to one of the best working relationships I’ve ever had. Truly a dream come true. It’s never lost on me how great it is I get to do stuff for one of the most iconic bands in the world.

 

I’ve read in your interviews that your love of ‘90s video games also inspires your works. What are your favorite ‘90s games? 
(I have no idea where you read that) HA! The only game I ever played in the 90s was Donkey Kong Country and I was obsessed. I was never a video game person, but that for some reason captured my attention.

 

So can you tell us a bit about your design and creative process?
Lots of thinking and mentally sketching. Looking through old books and gathering info. Doodles on paper, planning and then finally executing. At that point it hopefully comes out they way I see it in my head. I’m finally at the point, 25+ years in that what I have in my head can translate to paper most of the time. Sometimes I’m surprised because it comes out a little different, maybe better than I anticipated. That’s always fun.

 

So how did you meet John Mayer? And how do you start that ’Sob Rock’ project? It’s like you both really brainstormed about those cool aesthetics on ’Sob Rock’…
It’s all thanks to my spin on a bootleg Dead shirt. John saw it and wanted one. I brought him a few shirts at a Dead & Company show and we just kept in touch. I ended up working on his last LP “The Search for Everything” and I guess I did an ok job because here we are with “Sob Rock”. John has a very clear vision of what he wants, which really helps as a designer. It makes my job way easier and the end product very very clear. This whole project had a clear vision from the get go. We were both on the same wavelength from the beginning.

 

I really liked the small details on ‘Sob Work’ visual designs and promo stuff. Like the “price cut” stickers on the cover or those old-school billboards designs.. Where do you get inspirations for ’Sob Rock’ designs? 
The period correct details without being kitschy or hokey can be tough. We wanted it all to feel very authentic. Old advertising played a huge role in  this project. The details, the typography, the photography were a fine line to walk where it felt real and not cartoony. The devil is in the details as they say.

 

 

Last questions: tell us your 8 of your favorite soft rock / AOR / city pop songs that you listen to while making the ‘Sob Rock’ designs…
Hall & Oates – She’s gone
Christopher Cross – Sailing
REO Speedwagon – Can’t Fight this Feeling
Foreigner – I Want to Know What Love Is
Mr. Mister – Broken Wings
America – A Horse with No Name
Seals and Crofts – Summer Breeze
Little River Band – Reminiscing

 

 

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos from Deansnuts Instagram

Skena musik Bandung baik-baik saja. Sebuah pernyataan yang sangat perlu ditegaskan setelah mencuatnya pertanyaan “Ada Apa Dengan Bandung?” disalah satu kanal youtube. Kita tidak akan membahas secara mendalam mengenai hal tersebut. Tapi, kita akan memberikan rekomendasi 5 band baru asal Bandung yang patut masuk playlist kalian.

 

Suarloca
 

 

Band yang beranggotakan beranggotakan Fahman Fauzi (drum), Husein Muhammad (gitar), Lana Syahbani (gitar), dan Pahlevi Arie (vokal, synth) ini baru merilis debut album mereka yang bertajuk Penumbra. Bagi yang suka musik rock seperti Kadavar, Graveyard atau The Sigit album Detourn. Suarloca wajib masuk ke dalam barisan heavy rotation playlist kalian.

 
Eastern Boys
 
 
Mengusung genre surf rock, Eastern Boys telah merilis single yang berjudul “Hijrah” pada tahun 2019 dan di tahun 2020 band yang di tunggangi oleh Thian Ngalogo (vocal & gitar), Gilang Hade (Bass), Wildan Zulkarnain (gitar & vocal), dan Ridho Insani (drum) telah merilis single kedua mereka yang bertajuk “Sisi Gelap Kuda Besi.” Dua lagu yang cocok untuk membayangkan diam dipinggir pantai ditemani air hasil fermentasi gandum.
 

 
Di single terbaru ini mereka ingin terlihat seperti band-band pop pada umumnya, dengan ketukan drum yang lebih santai dan sound gitar yang minim overdrive. “Dikarenakan single terbaru kami memakai lirik, akhirnya saya dipaksa untuk bernyanyi dengan suara pas-pasan”, ujar Thian sang vokalis. Preman-preman yang biasanya mengendarai sepeda motor (RX King) dijadikan inspirasi dalam penggarapan artwork di single ini. Single “Sisi Gelap Kuda Besi” ini di produseri dan di mixing mastering oleh Noise Excel. Mulai mengudara di layanan musik digital favorit pada tanggal 6 November 2020.

 

 
Prejudize
 

 
Unit metallic hardcore yang digawangi oleh Arga (vokalis), Rian (gitaris), Reza (bass), Keniro (gitar), dan Hilman (drum) telah mencuri perhatian setelah merilis debut demo ep di platform music digital. Nuansa hardcore sangat kental terdengar di demo ep Prejudize. Diproduseri oleh Kevin Rafs dari Bleach dan Vai Siagian dari The Couch Club menghasilkan 1 intro bernuansa electronic RnB bertajuk The Whisper Of Our Generation, yang di selimuti oleh gaya spoken word dengan narasi yang mengambarkan dari generasi ini, sementara 3 trek lain, Misery, Inner Hatred, dan Redemption. Menawarkan riff-riff yang tidak biasa dengan penuh kemarahan mereka siap menjejali telinga dengan gaya hardcore punk yang cukup kentara. 
 

 

Bekerja sama dengan teman-teman di Bandung, Prejudize akan merilis full-pack lagu Promo 2021 mereka dalam bentuk kaset dengan paket bundling bersama merchandise dan lainnya. Debut self titled mereka bisa di dengarkan pada Band camp dan platform lainya.

 

Rounder

 

 
Band chaotic metal yang terbentuk pada tahun 2017 ini telah merilis satu album bertajuk Disclosure pada tahun 2020 lalu dan juga cukup rajin merilis music video. Musik yang agresif dibalut dengan lirik yang depresif menjadi nuansa yang ditawarkan oleh Rounder. Nuansa dalam lagu ini berbeda dibandingkan dengan lagu-lagu mereka sebelumnya dimana dalam single ini mereka lebih banyak memainkan chord-chord yang agresif dan lebih gelap dan lirik yang lebih emosional. Loveless Suffering menggambarkan antara penderitaan, keputusasaan dan cinta dimana digambarkan dari sudut pandang yang berbeda, hal ini tercermin dalam video klip yang juga mereka rilis dimana di dalamnya mengandung unsur-unsur yang gelap menggambarkan situasi penderitaan dan keputusasaan terhadap cinta juga kemarahan.

 

 

Video ini pun didirect langsung oleh gitaris dan vokalis mereka Razaq Caesar dan Fikri Hadyan dibantu oleh Bimantara Septianto selaku DOP dan Editor. Pengerjaan lagu ini tercetus setelah terjadi pandemi Covid-19 yang mengharuskan mereka untuk berdiam diri di rumah sehingga tercetuslah ide untuk membuat single ini. Selain itu seluruh produksi single ini dikerjakan oleh mereka sendiri di Southside Paradise. Dalam single ini Rounder juga menjalin kerjasama dengan Kalimasada Records sebagai record label digital.

 

 
Maio
 

 
Merubah motor matic serasa motor balap dengan mendengarkan perpaduan antara hardcore, punk, crust, d-beat hingga rock n roll di jalan dengan volume mentok ke kanan adalah sebuah gambaran ketika mendengarkan band yang baru merilis album Negative Thoughts ini. Setelah merilis dua single yang ber-titel “The Justice Trap” dan “Circle Jerks” tahun lalu,
para bedebah sialan yang membaptis diri dalam nama Maio, akhirnya mengejewantahkan debut
albumnya. Ada jarak yang lumayan jauh dari rilisnya single sampai album ini. Terbentuk di 2019
dengan kolaborator Aziz (vokal), Valard.ss (gitar kanan), Abuy (gitar kiri), Kikim (bass), dan
Wisong (drum). Mengoplos hardcore punk, crust, d-beat sampai benang merah rock n’ roll paripurna secara
musikalitas, album ini banyak bercerita tentang apa yang terjadi di sekitar kita dalam departemen
lirikal.

 

 

Bertajuk “Negative Thoughts”, judul ini berasal dari salah satu lirik yang ada di tracklist
album. Dirilis via HSTD Records asal Bandung dengan dua pengemasan berbeda; versi bundle pack
berisi kaset, stiker, pin button 1 inci, cup popcorn, kacamata 3D dan poster A2, kemudian versi
reguler yang hanya berisikan kaset pita tunggal. Dalam setiap kaset pita disematkan sebuah cetakan
yang berisi catatan pinggir perihal album ini yang ditulis oleh kesebelasan, mulai dari kolega,
jurnalis, dan penggiat musik yang kami kultuskan.

 

 
Words by Firman Oktaviawan
Photos from Band Archive
Layout by Prita