1. Bayi Ajaib (1982)
3. Bangsal 13 (2004)
4. Keramat (2009)













Suatu saat saya membaca sebuah tulisan dari salah satu portal berita online yang terkemuka sedang membahas lagu yang banyak diputar di sebuah platform digital music. Ada kalimat kalau pop punk ternyata Kembali digandrungi para pendengar. Salah satu pemicu nya adalah MÃ¥neskin, band rock asal Italia. Potongan kalimat itu membuat ada dua genre music yang berbeda disebabkan oleh penulisnya untuk satu band. Jadi MÃ¥neskin ini band rock atau pop punk?
Dan ketika mendengarkan album barunya Deafheaven “Infinite Granite†yang terdengar sangat berbeda dengan album-album sebelumnya. Terus ketika ada yang bertanya Deafheaven tuh genre music nya apa? Sebagai penikmat kita pasti sedikit bingung, atau mungkin kalo nggak males dan butuh bahan untuk obrolan dijelaskan secara terperinci kalo di album ini genre music mereka gini, kalo di album berikutnya jadi gitu dan seterusnya.
Dari dua kejadian itu saya pun menjadi penasaran dan menanyakan pertanyaan “Masih Perlukah Pelabelan Genre Musik Kepada Suatu Band Atau Musisi?†kepada lima orang kawan saya. Dan inilah jawaban mereka.

Pertanyaan simple tapi berat. Kalau saya melihatnya dari banyak faktor sesuai kebutuhan musisi mencantumkan genre tersebut untuk keperluan apa dulu. Untuk kebutuhan marketing atau identitas atau branding dan konsumsi musik para pendengarnya. Cuman untuk membicarakan perkembangan musik atau trend memang eranya tuh udah “hybridâ€. Kayak ada musik Afrika yang ada unsur musik rock-nya udah mulai bisa diterima di media-media besar, jadi dalam artian itu sudah sangat lebur dengan campuran sana sini jadi makin beragam. Kalau dari sudut pandang si musisi mereka jelas perlu kebebasan untuk mengekspresikan karyanya. Kalau kita telaah sejarah penyebutan genre music itu selalu datang dari media, dari jurnalis atau bahkan dari industri itu sendiri. Karena di era sekarang statement itu penting meskipun tidak bisa sesederhana mencantumkan rock, jazz, pop dan sebagainya. Sekarang udah punya keleluasaan untuk bisa bilang psychedelic southern metal misalnya. Hal seperti itu tetap butuh karena cara berpikir manusia itu lewat informasi, otak tuh banyak memproses informasi. Jadi kalau kita melihat sebuah band tapi kita tidak punya informasi tentang music band tersebut rock, pop, atau apapun itu. Salah satu penyampaian informasi tersebut adalah lewat statement genre music yang memang di klaim oleh musisi itu. Tapi pada satu sisi kalo kita bicara tentang genre music itu sudah tidak relevan, ya bisa jadi juga. Karena spotify pun sudah tidak menyebutkan atau melabeli sebuah genre music. Kalau diperhatikan mereka lebih menjual nuansa Seperti, music galau, music senja, music olahraga atau untuk menemani belajar. Spotify melihat genre music Sekarang ini udah tidak relevan dan yang lebih relevan itu suasana. Kalau kita mau mendengarkan musik ya pasti kita lebih beli rilisan fisik yang bener niat untuk didengarkan. Kecenderungan platform ini memang menjual suasana. Tapi pada satu sisi kalo menurut saya tetep band tuh butuh klaim. Karena bingung juga yah kalo ada satu band yang membebaskan genre musiknya apa. Malah jadi akan membingungkan audience jadi klaim itu penting. Mau musiknya jadi berbeda tapi sebuah klaim itu bisa datang. Karena itu tadi manusia tuh berpikir melalui informasi. Jadi kalau kita nemu satu benda terus benda itu asing terus kita mengetahui informasi tentang benda itu, pasti orang akan bingung dan orang akan menjauh dari benda itu. Mungkin dengan adanya pelabelan genre akan membuat relate antara musisi dengan fansnya.

Istilah mereka mau label tertentu dengan genre musik yang mereka usung saat ini, itu sebenernya dikembalikan ke musisinya itu sendiri. Ada yang fanatik dengan jalur musik tertentu misal hardcore, metal, punk dan pop gitu. Tapi pada prinsipnya nanti kedepan mereka tidak tahu influence apa yang akan memasuki musik mereka. Tapi tidak berubah ekstrim seperti Pantera dari hard rock berubah menjadi metal misalnya. Cuman sebenarnya dikembalikan kepada band dan musisinya itu sendiri. Dia mau se-elastis apa mengakui roots musiknya, kalo misalkan dia rock nanti ada influence-influence lain. Misalkan jadi prog, art atau ada asupan musik lain. Kalo pop pengen lebih berkembang lebih jazzy misalkan, atau mungkin soul r&b bisa lebih menjelajah kemana lagi. Jadi sebenernya dikembalikan ke musisinya. Kalo menurut saya penting nggak penting lagi, karena kedepan kita tidak tau genre musik apa yang mereka pilih sesuai dengan update yang terjadi sesuai zamannya. Walaupun tetap saja ada yang tetep mengusung satu genre itu terus.

Kalau menurut saya sebagai pemain band, sekarang sebetulnya genre tuh jadi bias. Namun kenyataannya bila orang telah dihadapkan dengan media, band akan menjelaskan genre musik apa yang dia usung. Penyebutan genre itu asih perlu sih yah, karena untuk menjelaskan roots-nya band atau musisi itu sendiri. Hal itu akan menjelaskan basic roots nya musisi tersebut darimana. Meskipun nggak mau dilabelkan, itu jadi urusan belakangan. Tapi roots-nya dan pelabelan pasti akan tetap kebawa.
Ekrig (Avhath, 630 Records)

Menurut gw nggak perlu untuk ngelabelin satu warna musik terhadap band atau musisi tertentu. Karena, reference makin banyak dan makin cepat datangnya lewat ke telinga lo hampir perdetik lebih cepat informasi yang didapat dan informasi yang dicari. Ketika orang sudah meng-crossover genre yang sebelumnya belum di-crossover sudah tidak lagi bisa dilabeli dengan genre A atau B. Karena it’s just a matter of how you experiment with your reference sih kalo menurut gw. Nggak penting sih jadi nikmatin aja.

sebenernya buat aku pribadi pelabelan genre itu sendiri untuk sekarang ini udah ga begitu perlu sih, soalnya dari musik-musik yang aku dengerin sendiri juga dalam sebuah band atau musisi itu mereka mencampur berbagai macam genre dari referensi mereka sendiri. Itu yg membuat sekarang pelabelan genre itu bisa aku anggap kurang relatable dengan kapasitas musik-musik yang sekarang ada, yang dimana pengemasannya itu sangat sangat keren hingga dapat membuat warna baru yang belum pernah kita dengar sebelumnya.




Lupakanlah Suicide Squad (2016) yang disutradarai oleh David Ayer. James Gunn, sutradara Guardians of the Galaxy membelot sebentar ke DC untuk mendirect “The Suicide Squadâ€. Ya, penekanan pada kata “Theâ€. Bukanlah prekuel, bukan juga sekuel, film ini dibuat seolah James Gunn tidak pernah menganggap Suicide Squad versi David Ayer eksis. Dengan diberinya kebebasan penuh atas input dan output kreatif, James Gunn akhirnya bisa membuat film “superhero†ala James Gunn: Sadis, tidak terlalu serius, visual yang bombastis, dan banyak mengangkat tema-tema serius dibaliknya, tapi tetap FUN. Plot yang menyerupai film perang ala Platoon ini diisi oleh karakter-karakter obscure DC comics seperti Ratcatcher 2, Polka Dot Man, T.D.K., Bloodsport, Peacemaker sampai Starro The Conqueror. Dengan humor dan tingkat kesadisan yang cukup tinggi, ini adalah sebuah film superhero, eh, supervillain yang berbeda. Tapi dibalik semua tema anti hero yang aneh itu, tanpa disangka beberapa scene terbaik di film ini justru malah bisa menyentuh emosi penonton. Lupakanlah The Avengers, The Suicide Squad is one of the best anti hero films ever made.


Â

Â

Â
The Green Knight (Dir. David Lowery)
Â

Â

Â
I was lucky enough to meet Tim and Darren of Jade Tree in the late 90s. We are from the same hardcore scene of the mid to late 80s. So we hit it off right away. As soon as I met them I told them I wanted to work with bands and do album covers. They threw me in the mix immediately with the first Kid Dynamite LP and we were off and running from there. I was able to work on albums for The Explosion, Turning Machine, Pedro the Lion, Paint it Black, as well as Merch for Euphone, Joan of Arc, Promise Ring & Jets to Brazil. I had so much fun doing that work. It really let me stretch my legs design wise and helped me explore new ways to approach projects.


I have been very lucky to have worked / worked with both bands. The Rolling Stones project came from someone on their team requesting me after seeing my work. Their merchandising team got in touch and set me loose on a series of posters and shirts. The Rolling Stones are one of my all time favorites so I was beside myself that I got to work for the band. The Dead / Dead & Company connection came from me making Dead bootlegs for years. Sounds weird I know but it has led to one of the best working relationships I’ve ever had. Truly a dream come true. It’s never lost on me how great it is I get to do stuff for one of the most iconic bands in the world.




Skena musik Bandung baik-baik saja. Sebuah pernyataan yang sangat perlu ditegaskan setelah mencuatnya pertanyaan “Ada Apa Dengan Bandung?†disalah satu kanal youtube. Kita tidak akan membahas secara mendalam mengenai hal tersebut. Tapi, kita akan memberikan rekomendasi 5 band baru asal Bandung yang patut masuk playlist kalian.

Band yang beranggotakan beranggotakan Fahman Fauzi (drum), Husein Muhammad (gitar), Lana Syahbani (gitar), dan Pahlevi Arie (vokal, synth) ini baru merilis debut album mereka yang bertajuk Penumbra. Bagi yang suka musik rock seperti Kadavar, Graveyard atau The Sigit album Detourn. Suarloca wajib masuk ke dalam barisan heavy rotation playlist kalian.







