Brand skateboarding asal Australia ini terinspirasi dari iklan-iklan bertema olahraga dari era ‘90an dan 2000an untuk capsule collection ini. Jika Noah berkolaborasi untuk merilis siluet Adidas vintage, Butter Goods berkolaborasi dengan Puma untuk musim panas ini. Partnership ini akan merilis beberapa artikel yang terinspirasi dari nostalgia dimulai dari 24 Juni kemarin, dan kolaborasi ini diluncurkan dengan drop sneaker Puma Basket VTG. 
 

 
Untuk mempersembahkan citarasa nostalgia, Basket VTG ini dirilis dengan colorway berwarna cream dan atasan berbahan corduroy. Siluet signature branding Puma tentunya akan menggunakan logo Formstrip yang dijahit di pinggir dengan warna putih. Colorways ini juga ditujukan untuk mendorong para konsumen agar mengkustomisasi sepatu Basket tersebut. Tetapi, menurut kami, design klasik ini sudah bagus saat dikeluarkan dari boxnya.
 

 

Ditemukan di Perth, Australia pada tahun 2008, Butter Goods dimulai sebagai selebrasi kecintaan dan passion mereka terhadap musik, dan tentunya kultur skateboarding, yang dirasakan oleh para founders Butter saat mereka bertumbuh dewasa. Brand ini juga memiliki signature style dengan paduan warna yang mencolok dan ilustrasi ala kartun. Unsur-unsur nostalgia yang diusung brand ini langsung disukai oleh para penggemar dan streetwear aficionados  di seluruh dunia. Sekarang, brand Butter Goods sudah mantap berdiri di sebuah tempat nyaman di antara peleburan kultur skateboarding dan musik, dan tentunya terinspirasi juga oleh berbagai kultur perlawanan yang lahir dari pergerakan-pergerakan di setiap penjuru dunia.
 

Dengan kedua brand yang teguh dengan prinsip-prinsip heritagenya, sangat alamiah jika partnership kolaborasi ini diluncurkan dengan produk sepatu Basket VTG corduroy yang klasik. Menariknya, label co-branding kolaborasi ini menampilkan tulisan Butter yang menggunakan typeface Puma dan terletak diatas logo Puma pada lace sepatunya. Sepatu ini juga dirilis dengan T-shirt grafis berwarna putih yang merespon kolaborasi ini. Design kaos ini juga menarik dengan ilustrasi kartun binatang Puma yang duduk diatas logo Butter Goods.

 

 

Sebuah keputusan yang tepat dengan menggunakan upper berbahan corduroy, dan tidak menggunakan upper berbahan kulit halus yang secara tradisional biasa digunakan di siluet Puma Basket VTG. Dengan design box yang tidak kalah mencolok. Kolaborasi ini juga dirilis dengan promo video pendek dan sebuah animasi dari ilustrasi karakter Puma di Instagram milik Butter Goods. Sepertinya di bulan-bulan kedepan Puma dan Butter Goods akan merilis lebih banyak lagi produk-produk menarik yang tentunya sudah mereka persiapkan. Kami pun di JEURNALS yakin kalau sepatu keren ini akan sold out dengan cepat. 

 

Words by Aldy Kusumah
Layout by Prita

Mungkin kita mengenal Daniel Mardhany dari lirik-lirik dan suaranya yang sudah 13 tahun mengisi panggung dan album Deadsquad. Sekarang Daniel akan membuka lembaran baru dalam hidupnya bersama proyek-proyek musikal barunya; dari rencana bikin album hip hop bersama Upi Tuan 13, Bloodriven yang bernuansa brutal death metal, bermain dengan eksperimentasi soundscape bersama Marcel Sajama Cut di Roman Catholic Skulls, proyek noise/shoegaze nya, Bisinggama yang akan dirilis Disaster Records sampai Bonga Bonga, proyek thrash metalnya bersama Alvin (Noxa) dan Boni (eks-Deadsquad). Mari simak bincang-bincang JEURNALS dengan Daniel…

 

 
Halo Niel! Apa kabar? Denger-denger lo lagi mau merilis sesuatu nih..
 

 

Kabarnya lagi “surreal” nih rasanya hahaha. Iya bakal banyak rilisan tahun ini, banyak rilisan gue yang tertunda soalnya..


Bisa ceritain tentang beberapa side project musik lo?

 

Ada Bloodriven, proyek brutal death metal sama Ryo (Pure Wrath) dan Yogi (Viscral), tinggal take vokal doang gue, semuanya sudah beres. Roman Catholic Skulls proyek sama Marcel Sajama Cut juga akhirnya mau dirilis Grimloc, itu sih dah beres dari 2018-2019. Gue rekamnya udah dari tahun 2018 itu hahaha. Eh, yang RCS yang track gue ga masuk split ternyata hahaha. Banyak banget track nya jadi belum tahu mau buat (rilisan) yang mana hahaha. Bisinggama ada 3 rilisan tahun ini, full album sama Disaster Records, EP materi 2019 yang belum sempat di publish sama unleash recs, sama kolaborasi sama Senyawa, gue dekonstruksi Alkisah sealbum. Oh iya gue juga udah nyiapin band technical death metal yang serius juga rencananya mau garap EP. Sama ada proyek thrash metal nama nya Bonga Bonga sama Alvin (Noxa), Welby (Carnivored), dan Boni ex Dead Squad. Kayanya sih bakal ngeluarin full album juga tahun ini.

 
Lo kan udah bermusik di berbagai lintas genre nih. Ada keinginan untuk memainkan genre musik yang belum pernah lo mainkan?

Nah ini ada rencana kolabs sama Upi Tuan 13. Tinggal masalah waktu aja sih. Lagi sama-sama sibuk hahaha. Kalo yang mirip prog rock kaya yang tadi gue bilang, gue akan bikin band death metal dengan pendekatan kaya Tool.

Kangen manggung dan nonton konser ga di era pandemi ini?

 

 

Kangen banget lah hahaha.. Kaya setengah hidup rasanya ga manggung-manggung hahaha. Pengaruh pandemi (buat kehidupan) sangat signifikan tapi jadi belajar banyak pola untuk bertahan hidup hahaha..

 

Gimana pola bertahan hidup lo untuk tetap resilient, adaptif dan survive di era pandemi ini? 
Gue lagi cari cara bisa masukin karya gue ke game. Karena industri itu lagi berkembang banget. Intinya sih tetep bikin karya sambil cari link media yang tepat selama konser masih belum bisa. Gue juga mau kelarin buku yang ga kelar-kelar hahaha siapa tau bisa hoki kaya J.K. Rowling hahaha. Ngayal kan kebebasan yang hakiki haha..

 

Gue liat di story lo lagi maen Dark Souls. Apa aja game-game favorit lo?
Mortal Kombat, Age of Empire, Command and Conquer, Diablo, Duke Nukem, game-game Windows 98 semua hahahaha. Sama game dinosaurus apa tuh yang jagoannya namanya Mustafa hahaha. Kalau game yang bagus scoringnya Age of Colossus.

 

Cadillacs and Dinosaurs (1993) yang game beat ‘em up jaman ding-dong buatan Capcom?
Benerrrrr! Eh sama Championship Manager juga, gue bola banget dulu anaknya hahahaha…

 

Ceritain juga dong unit-unit bisnis lo kaya Dhroned dan Junk Space for the Mass..
 

 

Dhroned akan tetap jalan walaupun vendor banyak trouble karena PPKM hahaha. Jadi menghambat produksi si PPKM. Junkspace sih emang media jualan barang-barang pribadi gue tapi kadang ada juga barang titipan.

 

 

Top 5 album shoegaze favorit lo? 
 

 


 

 
1. My Bloody Valentine – Loveless – Kalau ga ada album itu gue ga akan beli banyak Jaguar dan Jazzmaster sama stompbox hahaha..
2. Cocteau Twins – Blue Bell Knoll. Gue demen nuansa gelap tapi terang. Banyak inspirasi pattern vokal dari situ. Vokal bisa jadi instrumen.
3. The Milo – Let Me Begin. Gerbang pertama gw tau shoegaze hahaha…
4. Mellon Yellow – Milk Calcium. Band temen-temen sekampus, gue sempet jadi crew hura-hura dan itu band ga cuma sekedar musik doang tapi punya etos yang lebih punk dari punk hahaha…
5. Slowdive – Souvlaki Space Station. Ga ada lagu yang gagal di album ini sih. Aransemennya buat gue ringan untuk di dengar, liriknya juga dalam.

 

Sebagai gitaris, apa aja pedal efek favorit lo? Yang lo pake di rig rekaman apa aja?
Efek primer gue turbo Rat, Bigmuff rusia yang hitam itu, Boss DD3, Line 6 Verbzilla, Digitech Reverb kepake banget reverse reverb nya. Gitar yang lagi gue pake sekarang signature gue, just a poser haha! Body Jaguar setengah, fret nya Jazzmaster. Itu kepake di album yang bakal rilis sama Disaster Records. Kalo di single madicine yang bisa didengar di spotify gue pake Jaguarilo (hybrid Jaguar dan Strat)

 

Denger-denger katanya lo mau masuk Burgerkill ya?
Hahahaha itu berita lagi rame banget ya. Biarin aja lah makin rame tapi gue emang ngefans sama Burgerkill dari era kompilasi Breathless. Scumbag juga salah satu influence terbesar gue.

 

Top 5 best concert yang lo pernah tonton?
-Suffocation yang dulu di ancol karena masih dengan formasi terbaiknya dan soundnya juga bagus banget.
-Placebo di senayan. Soundnya perfect, setlist nya gue juga suka.
-Weezer di Jakarta. Gue tumbuh di era itu dan sebenernya pengen punya band kaya gitu tapi belum mampu hahahaha
-Dismember di Jakarta Rock Parade. Kesempatan langka banget yang susah di ulang lagi. Itu Dismember hampir ga jadi maen entah karena alasan apa, yang nonton juga ga banyak. Gue suka banget swedish death metal dan sah lah kalau udah nonton mereka maen. Gue harap sih bisa nonton At the Gates suatu hari nanti hahaha..
-Bad religion. Wah ini salah satu band yg mengenalkan gue dengan filosofi anarki yang benar hahaha. Walaupun sampai sekarang gue baca buku anarchy evolution nya Greg ga kelar karena memang perlu pemahaman ekstra. Gue kenal musik punk dan alternative duluan pas SD, SMP gue baru suka metal lewat Slipknot dan Sepultura.

 

Last question: hal paling surreal dalam hidup lo akhir-akhir ini apa saja? Bagaimana lo melewati masa-masa sulit itu dan bisa kembali menemukan passion untuk bermusik lagi?
 

 

Di pecat sepihak dari band yang itu. Gue udah menemukan kendaraan baru yang pas untuk lirik-lirik gue . Gue punya stok lirik lebih dari 20 hahahaha. Tunggu saja tanggal mainnya. Ini bentuk kontinuitas dari lirik-lirik khas gue dari DS dan gue ga akan mengecewakan support pasukan mati yang selalu mensupport gue dan masih nunggu karya gue khususnya di lirik ya. Musik dan estetikanya gue kebayangnya Tool versi death metal. Setidaknya gue berusaha ngasih sedikit “warna baru” untuk skena death metal. Gue akan tetap maen death metal dengan level keseriusan dan porsi komitmen / loyalitas yang sama.

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos from Daniel archives
Layout by Pritar

Satu lagi spot kuliner menarik persembahan TSVC Establishment, yang sebelumnya pernah menghadirkan Fabrik Eatery & Bar, General.Co, Please Please Please, Widely Project dan Sejiwa Coffee. TSVC ini juga sudah dari tahun 2011 membuat konsep, men-develop dan menjalankan bisnis-bisnis lifestyle dari fashion sampai bisnis kuliner. Persembahan terbaru mereka, Nonna Italians (Nonna Osteria) dibuka di lokasi Please Please Please, setelah PPPlease menutup pintunya pada 1 Februari 2021 (2016-2021). Kali ini mereka hadir dengan konsep resto yang menghadirkan citarasa Italia yang digarap dengan sangat serius. Nonna membuka pintunya dan mulai beroperasi sejak 31 Maret 2021.

 

 

Dalam bisnis restoran, tentunya chef menjadi ujung tombaknya. Dari merancang menu, membuat presentasi sampai membuat resep-resep yang enak. Tentunya pekerjaan mereka sangat krusial dan di Nonna Italians, ujung tombaknya adalah head chef veteran  Achdi Safari yang sudah memasak dan berkarir di dapur dari tahun 1988, sedangkan Dani Ramdani memulai pengalaman dan karirnya sebagai chef dari tahun 1998. Merekalah kedua orang dibalik development menu dan makanan-makanan menggiurkan di Nonna Osteria. Dibantu juga oleh seorang chef dari Italia, maka lengkaplah sudah team dapur yang akan menghasilkan masakan Italia yang otentik.

 


 

Dengan bahan-bahan yang fresh, mereka bisa membuat saus tomato pomodoro, neapolitan pizza dengan tomat marzano, spaghetti carbonara klasik, Fetucinne alfredo, gnocchi, sampai dessert khas Italia savoiardi ladyfingers yang menggunakan kopi dan cream dari telur dan mascarpone. Citarasa otentik langsung kamu temui saat mencoba bumbu bolognaise mereka yang klasik dan fresh. Jangan lupa juga menetralkan lidah kamu setelah menyantap hidangan dengan aneka minuman mereka yang tidak main-main; seperti hot latte, donna in rosa, coffee mocktail atau kesegaran klasik dari kopi dingin cold brew. Dengan suasana interior yang nyaman dan playlist musik yang dikurasi, tempat ini memang menarik. Setelah lockdown ini selesai, segera kunjungi mereka dan nikmati otentiknya menu mereka, yang akan membuat kamu serasa berlibur di Italia. Jangan lupa tetap jaga protokol kesehatan. Ciao bella!

 

Nonna Italians (Nonna Osteria) Jl. Progo No. 37


https://www.instagram.com/nonna.italians/?hl=en

 

Words by team JEURNALS
Photos from Nonna Italians instagram
Toko Vans di Grand Indonesia Jakarta dipercantik oleh seniman/ilustrator Ykha Amelz. Dalam proyek kolaborasi antara Ykha Amelz dan Vans Indonesia, Ykha membuat mural dengan karakter dan palet warna khasnya. Menurut informasi di feeds Instagramnya, tema dan konsep mural ini adalah: “Menguraikan lingkungan berwarna yang dinamis melalui warna-warna dan semangat elektrik untuk terus bergerak maju di tengah hari yang panas, sibuk, dan semrawut di Jakarta. Meluncur melalui setiap rintangan dengan sepatu VANS”. Ondel-ondel di mural ini merepresentasikan muka-muka yang familiar dan tentunya karakter dan perasaan kota Jakarta. Sedangkan karakter Babbot adalah french bulldog yang sangat ikonik dan sudah menjadi ciri khas karya-karya Ykha Amelz.
 

 

 

Ykha Amelz juga banyak dikenal sebagai Co-founder brand fashion Dibba, kreator dari comic strip Babbot dan tentunya sudah dikenal sebagai ilustrator yang karyanya sering malang-melintang di majalah-majalah fashion, bahkan banyak bekerjasama dengan brand-brand fashion maupun non-fashion. Untuk Reopening Nya, toko Vans hadir dengan konsep terbaru dan berkolaborasi dengan Ykha yang mengambil tema warna warni dinamis untuk melewati rintangan bersama VANS. Konsep imagery Ykha yang khas dan Vans Store yang ingin tampil lebih fresh ini tentunya sangat cocok.
 

 
Untuk proyek mural ini, Ykha juga dibantu oleh rekan-rekannya yang berasal dari Bandung yaitu @edith.lab dan @bedlamorama. Colorways, karakter dan typeface “Off The Wall” yang komikal ini sangat eye catching, layaknya sebuah visual eye-candy. Bahkan dari jauh pun sudah bisa dikenali kalau ini adalah karya Ykha Amelz. Semoga projek kolaborasi antara Ykha dan Vans tidak berhenti di mural saja, karena tentunya sebuah Vans slip-on dengan karakter Babbot akan sangat menarik dan diminati oleh niche-market para penggemar karya ilustrasi Ykha dan pengguna sepatu Vans.
 

 

Words by Aldy Kusumah
Photos from Ykha archives & Vans Indonesia
Layout by Prita

Brand Noah milik Brandon Babenzien ini sudah beberapa kali kita bahas, dari estetika New York klasik nya, misi-misi sustainable-nya dan kolaborasi-kolaborasi epiknya. Setelah sebelumnya berkolaborasi dengan brand mobil heritage, Porsche, dan juga mempersembahkan grafis-grafis Peter Saville di kolaborasi New Order-nya, kali ini mereka berkolaborasi dengan brand sepatu heritage, Adidas. Tentunya kolaborasi yang satu ini membuat penasaran team JEURNALS, karena tentunya akan menarik melihat respon design Brandon terhadap brand image Adidas yang sudah kuat dengan logo 3 stripesnya dan juga trefoil klasiknya.

 



Untuk rilisan kolaborasi musim panas ini, tentunya Noah tidak perlu diragukan lagi. Karena Noah sudah bisa mendemonstrasikan beberapa kali dengan drop koleksi summernya yang selalu menarik dan colorful. Kali ini, kolaborasi mereka dengan Adidas pun menggunakan treatment yang sama; pakaian-pakaian basic yang nyaman, motif-motif berwarna untuk dipakai di pantai, dan tentunya sepatu-sepatu dengan siluet vintage Adidas. Konsep retro sportswear dan sneaker vintage yang diusung Adidas ternyata cocok dengan visi classic menswear Noah. Duo ini kembali menggali arsip-arsip Adidas untuk merilis beberapa siluet throwback, dengan estetika Noah yang selalu tertarik pada laut dan design-design nautical. 

 

 
 

Membuat dan merilis footwear yang bagus selalu menjadi kunci utama di semua kolaborasi Adidas dengan siapapun. Pada SS21 ini, mereka memilih siluet Adidas Probound dan Adidas Rod Laver Super, yang tentunya di remake dengan sentuhan Noah. Warna-warna dan colorways asimetris dan ngeblok tentunya sangat cocok dengan vibe nautical / kelautan. Bahkan logo trefoil (yang menyerupai bunga) Adidas di-remix menjadi sebuah ilustrasi kerang yang di aplikasikan di heel sepatu Rod Laver dan juga crewneck nya, seperti sebuah homage kepada laut. 

 

 

 

Rod Laver, yang sekilas mirip Adidas Stan Smith ini juga memang didesain untuk bermain tennis. Dengan atasan plastik hasil recycle, midsole kuning, outsole gelap dan heel berwarna hijau, siluet ini tentunya sudah menjadi sepatu ikonik Adidas yang tidak diragukan oleh para penggemar Adidas. Sedangkan siluet Probound adalah sneaker basket Adidas yang sudah terlupakan termakan waktu, tetapi diciptakan ulang dengan panel-panel yang di-blok warna asimetris antara sepatu kanan dan kirinya. Dengan logo Noah berwarna emas didekat logo three stripes Adidas, tentunya ini adalah sepatu limited edition yang menarik, lengkap dengan sepasang set kaus kakinya.

 

 

Sedangkan untuk range pakaiannya, Noah dan Adidas mempersembahkan workwear dengan citarasa nautical untuk membumbui inti dari capsule collection ini. Selain bermain di warna putih netral dengan logo co-branding, kolaborasi ini juga sangat menarik dengan colorways yang bermain di area navy blue dan menggunakan pola floral. Coat berbahan katun yang di match dengan celana three stripes ala  Adidas mesh track pants, dan juga hoodie berbahan terry yang cocok dipakai untuk berlayar, hangout di pinggir kolam renang atau menikmati musim panas di pinggir pantai.


Words by Aldy Kusumah
Layout by Prita