1.Sebagai band muda yang tumbuh di masa pandemi, apa perasaan kalian merilis album ditengah-tengah berjalannya waktu yang tak pasti, dan apa pandangan kalian terhadap dampak pandemi terhadap kreativitas kalian sendiri ?

Sebenernya pada awal peririlisan EP kita juga ga expect dengan support teman-teman yang seantusias ini sih, dengan antusiasme teman-teman seperti ini tentunya ngasih kita power dan dopamine buat terus produktif meskipun di tengah-tengah pandem sialan yang melandai ini. pandemi sendiri sih sebetulnya membuat kami makin fokus untuk memproduksi musik dan menurut kami pandemi tidak terlalu berdampak buruk pada kreativitas kami. malah seperti runutan awal atau lembar baru aja sih buat kami.

 

2.Dari mana asal kalian dan dimana kalian bertemu sampai terbentuk Bleach ?

Kami mayoritas berasal dari Bandung dan hanya bassist kami Mike yang berasal dari luar kota. Tempat kami awal bertemu itu awalnya di Mimiti setelah janjian ngumpul di chat grup whatsapp tentunya, dimana beberapa dari kami pernah kerja dan di mimiti udah jadi tempat tongkrongan anak-anak aja sih, dari situ kita memulai nafas Bleach.

 

 

3.Apa yang berusaha kalian sampaikan dari segi lirik dan musik ?

Dari 3 lagu didalam EP Self Titled kami kemarin sih masih seputar keresahan kami sendiri, tentang hitam putih kehidupan dan juga sedikit tentang romantisasi remaja  pastinya. namun kedepannya kami berharap bisa membuat lirik dan musik yang dapat mewakilkan perasaan orang lain sehingga pendengar kami bisa merasa dekat dengan musik dan juga lirik yang kami tulis.

 
 

4.Kami melihat sebagai band hardcore Bleach cukup “fashionable”, seberapa pentingkah fesyen untuk kalian dan pandangan kalian tentang tren fesyen terkini ?

Menurut kami sendiri fashion tuh sangat penting buat menunjang penampilan live dan dalam keseharian juga sebisa mungkin tampil menarik dan catchy ajasih hehehe, tetapi perlu digaris bawahi ini bukan konsep yang kita buat untuk band, jauh sebelum BLEACH terbentuk kita udah seperti ini sih. sedikit ngaco hehe

 

 

5.Brand lokal favorit kalian ?

Mystic Power, Based Club,  Deva State, Pot Meets Pop, Pleasure & Superbloom

 

 

6.Band baru rekomendasi bleach yang butuh didengar ?

Band yang lagi suka kita dengerin sekarang-sekarang ini paling HADD, Pleazure and Pain, Avhath, Ametis, Defy dan banyak lagi hahah, kalian harus banget sih dengerin nama-nama di atas.

 

 

7.Seberapa sering Bleach selalu diasosiasikan dengan Jamrud? dan adakah cerita lucu diantara kalian dan Jamrud ?

Cukup sering sebenarnya. karena gitaris kami Krisna yang juga anak om Krisyanto Jamrud jadi yaa celetukan jamrud sering terdengar dan juga udah jadi inside joke kami juga sih haha

8.Apa influence kalian (musik/film/art) dalam menulis lagu ?

Influence kita dalam menulis lagu sih kebanyakan dari dokumenter-dokumenter seperti Salad Days, Punk: Attitude hingga N.Y.H.C

 
 
 
 
Interviewed by Andika Surya

Sutradara surreal yang eksentrik ini tentunya sudah tidak perlu introduksi panjang lagi. David Lynch dikenal lewat serial TV Twin Peaks (1990), yang berhasil menggabungkan elemen supernatural, murder-mystery dan opera sabun. David Lynch berhasil membuat sesuatu yang berbeda dari serial TV lainnya pada saat itu dan langsung mendapatkan cult following. Berikut ini adalah 5 film favorit David Lynch versi kami:  

Blue Velvet(1986)
Apa yang lebih menyeramkan dari seorang Dennis Hopper yang menggunakan tabung gas? Blue Velvet adalah suatu masa dimana Dennis Hopper banyak memerankan karakter aneh, dan Isabella Rosellini masih menjadi dambaan setiap pria. Kyle MacLachlan dan Laura Dern menjadi protagonis utama disini. Blue Velvet adalah sebuah masterpiece. Neo-noir thriller yang dibalut oleh surealisme dan karakter-karakter aneh khas David Lynch. Sebuah film misteri yang menjadi blueprint bagi film-film sejenis lainnya di kemudian hari. Tentunya, ini semua dibalut oleh scoring berkelas dari Angelo Badalamenti.

 

 

 

 The Elephant Man (1980)
Setelah mendapat cult status melalui film horror debutnya, Eraserhead (1977), David Lynch merilis karya berikutnya: Sebuah drama berjudul The Elephant Man (1980). Film ini dipuji kritikus dimana-mana dan mendapatkan 8 nominasi Academy Awards (termasuk Best picture dan Best director). Film historical drama yang dibintangi John Hurt dan Anthony Hopkins ini menggambarkan kehidupan John Merrick, seorang pria dengan wajah deformed yang dijuluki “Elephant Man”. Film hitam putih ini tergolong cukup “normal” jika dibandingkan dengan karya-karya Lynch lainnya yang lebih surreal dan menggunakan narasi non-linear.

 

 

Lost Highway (1997)
Lost Highway adalah sebuah neo-noir dengan struktur narasi yang cukup membingungkan. Bill Pullman sebagai seorang pemain saxophone yang paranoid akan mengajakmu dalam sebuah perjalanan tanpa tujuan. Kami pun selalu menyukai film-film dimana interpretasi dikembalikan ke penontonnya masing-masing. Jangan lupakan juga soundtracknya yang diproduseri oleh Trent Reznor lewat label Nothing-nya. Kompilasi soundtrack yang cukup legendaris dan random di masanya.Bayangkan saja, Nine Inch Nails, The Smashing Pumpkins, Rammstein, Marilyn Manson, Antonio Carlos Jobim, Angelo Badalamenti, Lou Reed dan David Bowie dalam satu kompilasi. What you get is not the destination, but the ride.

 

 

 

 Wild at Heart (1990)
Apa yang akan kamu dapatkan dari kombinasi David Lynch dan Nicolas Cage? A weird effin’ movie that’s what. Wild at Heart adalah sebuah romantic-comedy versi Lynch: Nicolas Cage yang menggunakan jaket kulit ular, sebuah band speed-metal bernama Powermad, Elvis Presley dan juga penampilan antik Willem Dafoe sebagai seorang gangster bernama Bobby Peru. Lynch juga mengakui alur road movie yang digunakan di film ini terinspirasi juga dari Wizard of Oz. Film ini mendapat penghargaan tertinggi Palme d’Or di festival film Cannes Perancis pada tahun 1990, dan keputusan itu dianggap kontroversial mengingat ini adalah sebuah film yang dianggap terlalu campy dan tidak artistik seperti standar Cannes pada umumnya.

 

 

Dune (1984)
Lupakanlah Dune versi Alejandro Jodorowsky yang tidak pernahterealisasikan. Memang, Dune versi David Lynch yang di adaptasi dari novel sci-fi Frank Herbert ini banyak dibilang sebagai karya terburuk David Lynch (yang juga gagal secara komersil), tetapi kami berpendapat lain. Memang David Lynch bukanlah pilihan yang tepat untuk sebuah film perang sci-fi yang tadinya dibuat untuk bersaing dengan Star Wars ini, tetapi unsur kitsch dan adaptasi nyeleneh Lynch justru membuat film ini menjadi sebuah action-adventure yang cukupepic, dan sedikit campy. Scoring dari Brian Eno dan Toto  juga merupakan kombinasi yang cukup dipertanyakan pada saat itu. Lagi-lagi Kyle MacLachlan (Twin Peaks) menjadi bintang utama disini, dan tentunya kamu tidak akan menemukan Sting yang mahir menggunakan pisau di adaptasi Dune (2021) mendatang karya Denis Villeneuve.

 

 

Words by Aldy Kusumah

Mungkin sebuah gift shop yang menjual vinyl dan menjadi tempat eksibisi seni adalah hal terakhir yang kamu pikirkan jika mengunjungi Jl. Cihapit di Bandung. Cihapit lebih terkenal dengan toko-toko kelontong klasiknya, juga sebagai tujuan kuliner tradisional dan surga makanan lokal. Tentu saja Grammars sangat cocok dengan vibe vintage Cihapit. Berlokasi di bangunan yang beberapa dekade sebelumnya adalah restoran “Aloha”, team Grammars berhasil menyulap interior resto menjadi sebuah gift shop yang menarik. Display tanaman-tanaman, pernak-pernik kitsch dan  background musik pilihan Norrm Radio (yang merupakan bagian dari Grammars)langsung menyambut pengunjung kedalam suasana santai dan slow-living-nya. 

 

Grammars dikelola oleh team solid yang sebagian adalah bagian dari Norrm Radio dan juga Spasial, sebuah community space yang sudah tidak beroperasi lagi sejak 2019. Layaknya sebuah gift shop dengan segala pernak-pernik dan keunikannya, disini kamu bisa mendapatkan prod uk-produk yang cukup variatif dari: household items, majalah, vinyl, peralatan memasak, alat-alat berkebun, stationary, artwork-artwork dan juga apparel. Majalah Manual Jakarta, Newsletter On Lazy Susan, Artwork poster Seni Kanji, T-Shirt P.P. Pear sampai merchandise Norrm bisa kamu dapatkan disini. Untuk yang memulai hobby berkebun, banyak tamanan Monstera dan Philodendron yang bisa kamu dapatkan juga di Grammars.

 

Grammars juga sering menjadi community space dimana beberapa event Norrm Radio, Grimloc Records sampai eksibisi Seni Kanji digelar disini. Dengan barang-barang terkurasinya yang memiliki range luas, bukan tidak mungkinseorang pengunjung yang hanya ingin window shopping atau membeli stationary bisa pulang dengan membawa tanaman Monstera, beberapa piringan hitam dan pakaian baru. Grammars adalah kombinasi dari barang terkurasi, lokasi yang  strategis, display yang menarik dan interior yang artsy. Kunjungi tokounik ini dan tetap jaga protokol kesehatanmu. 

Grammars Jl. Cihapit No.6, Cihapit, Kec. Bandung Wetan,
Kota Bandung, Jawa Barat 40114, Indonesia
Instagram: @Gggrammars
Words Aldy Kusumah
Photos from Grammars Instagram

Rick Owens adalah seorang fashion designer eksentrik yang berasal dari Porterville, California. Setelah sebelumnya berkerjasama dengan Birkenstock dan Veja untuk sustainable sneakersnya, kini Owens melirik Dr. Martens untuk proyek kolaborasi berikutnya. Ketika brand sepatu Inggris ikonik Dr. Martens berkerjasama dengan Rick Owens untuk kolaborasi terbarunya, sudah tentu ini adalah sepatu bertema post-apocalypse yang ditujukan untuk penggemar goth. Esensi dasarnya, kolaborasi Rick Owens x Dr. Martens ini adalah eksplorasi estetika gelap Owens yang melebur dengan ciri khas ikonik siluet brand sepatu legendaris ini. Sepatu boots Dr. Martens ini terlihat berbeda dengan menggunakan sistem lacing Owens yang berkesan dramatis dan juga menjadi signature stylenya. Menurut Owens, design talinya mempunyai arti sebagai “Eternal search for rational order”. Ya, apapun artinya itu, tidak dapat dipungkiri sepasang sepatu ini terlihat cool.


 

Bahan drapery kulit yang smooth melapisi atasan sepatu, yang menduduki double sole dan di finishing dengan jahitan kuning ikonik Dr. Martens. Kolaborasi ini ditandai dengan co-branding yang terdapat di sockliner dan heel loop-nya. Platform shoe 1460 Bex ini berbaur dengan estetika dark-glam Owens sehingga menghasilkan sepasang sepatu yang terlihat elegan, polished dan juga brutalist. Kolaborasi Dr. Martens x Rick Owens ini akan dibagi ke 2 drop, satu rilis di bulan Maret dan drop kedua pada bulan Mei. Owen yang dikenal dengan image brutalist fashion dan garmen-garmen arsitektural eksentriknya sudah memberi kontribusi yang fresh pada sepatu boots klasik Dr. Martens yang identik dengan kultur 1990an. This pair of shoe is a goth lover’s dream.

 

 
 

 

Tidak kalah menarik, kolaborasi Dr. Martens dan Suicoke pun sangat mencuri perhatiankami. Jika melihat proses produksi dan komitmen terhadap inovasi, kedua brand  ini sama-sama melakukan yang terbaik di bidangnya. Sehingga sangat natural untuk kedua brand footwear ini melakukan kolaborasi. Style design Suicoke yang selalu berevolusi bertemu dengan ekpresi rebel dari Dr. Martens. Inspirasi dibalik kolaborasi ini muncul dari respek kedua brand ini terhadap konstruksi dan design yang nyaman dipakai. Walaupun kalau kita cermati, mungkin estetika Dr. Martens dan Suicoke kadang bertolak-belakang. Tetapi dari apa yang kitalihat dari hasil kolaborasi mereka, komitmen kedua brand ini untuk membuat sebuah produk yang secara visual sangat stand out dan secara build pasti di  craft dengan pengalaman tinggi Dr. Martens dan detail ala brand Jepang seperti Suicoke.

 

 

 

Siluet-siluet baru ini tercipta untuk musim panas, dengan basic model Suicoke DEPA dan BOAK, kemudia di-rework dengan aspek-aspek signature dari Dr. Martens. Menggunakan outsole dari model Dr. Martens Lorsan, jahitan kuning yang khas dan tentunya heel tabs yang menjadi trademark Dr. Martens. 2 prodak kolaborasi ini dinamakan DM DEPA dan DM BOAK, dengan fitur eksterior hitam berbahan kulit dan label co-branding yang di-deboss di strap. DM DEPA menggunakan pull-tabs ala Suicoke untuk mengencangkan sandalnya dan DM BOAK menggunakan clip buckles. Musim panas adalah saat yang tepat untuk menggunakan sepasang sendal yang kuat dan nyaman. Now you can wear Dr. Martens on a hot summer day.

 


 

Words by Aldy Kusumah

Kolaborasi Easthood X Pickers Service tercipta dari ketidaksengajaan. Pada tahun 2017 kolaborasi ini diinisiasi oleh Alm. Dany Rachmad Subagyo (EASTHOOD) kepada Chandra Murti Perdana (Pickers Service). Pada awalnya kolaborasi ini mengeluarkan produk yang tidak umum namun tetap pada jalannya. Dengan semangat dan passion yang sama, tercetuslah ide awal untuk membuat sebuah mainan otomotif miniatur yang biasa disebut “Diecast”. Seiring berjalannya waktu, konsep terus berkembang dan akhirnya tercetuslah tagline untuk kolaborasi ini yaitu “Built To Last”. Judul tersebut menjadi tagline dalam kolaborasi ini yang terinspirasi dari salah satu album dari grup musik Hardcore asal New York “Sick of it All”. Waktu terus berputar hingga makna dari tagline tersebut dapat di intrepertasikan seperti “semangat dan passion yang tidak pernah hilang” setelah Mas Dany (sapaan akrab kami pada beliau) pergi untuk selamanya.

 

 

 

Chemistry antara Easthood dan Pickers Service juga terasa sangat pas. Easthood adalah brand streetwear yang juga memiliki segmen target market penggemar sepeda motor vintage dan otomotif. Terasa beberapa referensi dari brand jepang dan workwear ala American vintage yang melebur pada range produk-produk mereka. Sementara itu Pickers Service adalah bagian dari Pickers Store, sebuah consignment store yang pada awalnya menjual pernak-pernik otomotif sampai apparel otomotif. Pickers Service juga sering membuat event BBQ Ride yang mempererat komunitas otomotif, sehingga tidak aneh kalau kedua nama ini berkolaborasi dan berkarya. Projek kolaborasi yang memakan waktu 1 tahun lebih ini tetap berlanjut. Teringat Mas Dany memiliki motor ke-2, yaitu HONDA CB175 TWIN yang sedang digarap, tanpa pikir panjang kami semua mewujudkan motor ini berdiri dan menjadi kanvas utama kami semua. Dikerjakan dan dimodifikasi oleh Didot dari Retrogades Slaughterhouse, HONDA CB175 TWIN ini direka ulang menjadi caferacer ala Japstyle dengan homage logo Honda yang dirubah menjadi typeface “Hood”. Lookbook dan video dari koleksi ini juga menampilkan sosok Ade Habibie, yang juga penggemar sepeda motor vintage.

 

 

Lahirlah output produk dari hasil kolaborasi ini berupa Long Sleeve T-Shirt, Ball Cap, Work Jacket, Sarung tangan dan Wearpack, yang didesign oleh Gerry Juliansyah (Creative director Easthood). Produk Work jacket, Longsleeve, Ball Cap dan Wearpack menggunakan design logo kolaborasi yang menyerupai panther yang menggigit busi motor. Design ini mungkin terinspirasi dari style tattoo flash klasik yang memang sering digunakan sebagai imagery klub-klub otomotif
dan merk-merk vintage. Bordir di belakang Work Jacket dan Wearpacknya sangat rapih dan stand out. Detailing Work Jacket pun sangat menarik dengan adanya inner layer full-print. Untuk kamu yang gemar riding jauh, kami juga merekomendasikan Glove riding mereka yang terbuat dari bahan sintetis dan campuran sponge yang nyaman untuk dipakai touring. Semua produk hasil kolaborasi ini akan dirilis pada tanggal 13 Maret 2021 di kanal dan titik distribusi resmi Easthood dan Pickers Sevice.

 

 

Perhelatan launching Easthood X Pickers Service ini pun digelar pada hari sabtu 13 Maret di The Parlor. Semua koleksi hasil kolaborasi ini pun didisplay dengan menarik, tidak lupa juga motor HONDA CB175 TWIN yang menjadi atraksi utama. Diiringi musik dari selector seperti Eone Cronik (Bars of Death, Eyefeelsix) dan Andika Surya (Based Club), suasana launching ini menjadi semakin meriah dan penuh dengan good vibes dengan merapatnya figur-figur dari berbagai komunitas otomotif dan brand streetwear. Ternyata energi positif, personality dan impact dari Dany Rachmad Subagyo (founder Easthood) kepada berbagai komunitas masih terasa. Sehingga layaknya penggalan lirik dari lagu Built to Last-nya Sick of it All, legacy, mimpi dan semangat Mas Dany akan selalu bertahan, selalu diingat, tetap relevan dan tidak akan pudar. Easthood are here to stay.

 

 

 

 
Words by Aldy Kusumah

Industri musik belakangan ini mungkin bisa dibilang terkena imbas yang sangat besar dikarenakan efek pandemi yang berkelanjutan, terhitung mulai pada awal tahun 2020 wabah pandemi mengharuskan penggiat ataupun penikmat musik rehat untuk sejenak, kejenuhan pasti melanda sisi pendengar maupun pembuat musik dikarenakan di tidak adakannya gelaran musik di seluruh dunia untuk sementara waktu. Memasuki awal tahun 2021 ini bisa dilihat beberapa musisi serentak menelurkan karya – karya yang bisa menjadi refreshment bagi para pendengar maupun musisinya sendiri karena dari beberapa nama musisi ini beberapa sudah tidak asing di dunia musik international, siapa sajakah musisi yang masuk kedalam pembahasan yang bertajuk Promising Bands & Artist in 2021 versi Arena Xprnc kali ini.

 

Henrik Palm

Eks-gitaris Ghost dan In Solitude ini rupanya ingin mengeksplor musikalitasnya lebih jauh dengan merilis 2 album solo, Many Days (2017) dan Poverty Metal (2020). Dirilis oleh label Svart Records, Poverty Metal adalah ekspansi multi-genre seorang Henrik Palm, yang didalamnya terdapat unsur post-punk, doom, sludge, noise, shoegaze dan tentunya metal. Album sophomore dari multi-instrumentalis asal Swedia ini adalah kombinasi unik dari riff-riff gitar Sabbath dan Voivod yang dibalut referensi prog-rock klasik. Untuk para penggemar Killing Joke, Crass, Psychic TV, Celtic Frost, Queens of the Stone Age sampai My Bloody Valentine, album-album berikutnya dari Henrik Palm tentu wajib disimak.

 

 

 

Madlib

Produser hip-hop dari West Coast, DJ, dan multi-instrumentalis bernama asli Otis Jackson Jr. ini mungkin lebih dikenal dengan nama Madlib. Kita bisa menemukan karya Madlib dari mana saja: Beat-beat karismatiknya untuk MF DOOM, kolaborasinya dengan pionir sampling J Dilla atau bahkan produksinya untuk album Freddie Gibbs. Bahkan para penggemar jazz juga bisa menemukan Madlib di album remixnya Shades of Blue (2003) yang mendekonstruksi arsip-arsip terbaik Blue Note Records. Band jazz one-man army-nya Yesterdays New Quintet dan alter ego-nya sebagai MC dan produser Quasimoto juga menarik untuk disimak, apalagi keduanya dirilis oleh Stones Throw Records. Madlib dan koleksi vinyl obscure-nya bisa berbicara dan meng-elevate hip-hop ke level baru. Dalam album terbarunya Sound Ancestors, ratusan beats-beats Madlib di aransmen, di kurasi dan di edit menjadi album 16 track oleh Kieran Hebden (Four Tet), seorang produser musik elektronik. Sebelumnya Four Tet sudah berkolaborasi dengan almarhum MF DOOM dan Madlib untuk Madvillainy remix by Four Tet. Cek saja single Road of the Lonely Ones yang mensample lagu The Ethics “Lost in a Lonely World”. Sepertinya Madlib adalah produser hiphop terbaik yang masih hidup untuk era sekarang.

 

                                                                                                                         

 

Teenage Wrist

Satu hal yang tidak bisa dilakukan band ini adalah membuat lagu jelek. Sejak EP Dazed (2015) dan full album Chrome Neon Jesus (2018), mereka sudah mencuri perhatian kami. Perpaduan yang sempurna dari dinamika keras-pelan musik grunge, sound gitar fuzzy ala band alt-rock ‘90an, dan vokal mengawang Kamtin Mohager yang shoegazing. Sayangnya, Kamtin keluar untuk lebih berfokus pada proyek solonya The Chain Gang of 1974 dan Heavenward. Tetapi keluarnya Kamtin tidak menghentikan band ini, album terbarunya Earth is a Black Hole (Epitaph) yang baru dirilis 12 Februari 2021 kemarin tetap menyajikan hook-hook catchy, sound gitar fuzz yang creamy dan riff-riff chorus khas Marshall Gallagher, yang dalam album ini menjadi vokalis utama. Jangan lupakan juga permainan drum Anthony Salazar yang meng-elevate album ini ke level baru. Simak saja kualitas produksi single “Silverspoon” atau “New Emotion”, it’s impossible not to at least tap your feet.

 

 

Emma Ruth Rundle

Para penggemar Chelsea Wolfe dan Julie Christmas (Battle of Mice) tentu saja sudah akrab dengan album-album Emma Ruth Rundle. Selain berkarya dengan band post-metal Red Sparowes dan Marriages, singer-songwriter asal Kentucky ini juga produktif berkarya melalui output solonya. Walaupun sudah aktif merilis materi solo sejak tahun 2011, album On Dark Horses rilisan 2018 kemarin cukup menarik perhatian kami. Multi-instrumetalis ini memadukan post-rock, ambient folk dan berbagai referensi prog-rock. Bassline ditengah lagu Control mengingatkan kepada lagu Lateralus milik Tool, in a good way. Slide pada gitar di track penutup You Don’t Have To Cry juga menenangkan sekaligus menyeramkan di saat yang sama. Pada tahun 2020 kemarin Emma merilis album kolaboratif bersama band sludge/doom metal Thou. Album yang berjudul May Our Chambers Be Full ini adalah wilayah eksplorasi bagi Emma. Bayangkan saja lagu-lagu Thou dan suara screeching Bryan Funck yang dipercantik oleh vokal haunting Emma Ruth Rundle. Tentunya 7 lagu di album ini terasa singkat, and now you want more. Kami pun akan selalu penasaran dengan rilisan-rilisan berikutnya dari Emma Ruth Rundle.

 

 

 

Author & Punisher

Tristan Shone adalah seorang multi-instrumentalis yang membuat dan memainkan alatnya sendiri di panggung. Dengan berbekal pendidikan mikrobiologi dan mekanik, Tristan memanfaatkan sirkuit listrik open source untuk mulai membuat instrumen-instrumen musiknya secara D.I.Y. lalu memainkannya di album menggunakan nama Author & Punisher. One-man band bergenre industrial metal ini juga mengimplementasikan unsur-unsur doom dan drone metal. Secara produktif, Tristan Shone sudah merilis 8 album, 2 album terakhirnya dibawah naungan label milik Phil Anselmo (Housecore Records) dan terakhir merilis Beastland di Relapse Records. Noisey saja sampai membuat dokumenter yang membahas Author & Punisher dalam channel Youtubenya. Simak saja track-track seperti “Nihil Strenght” atau “In Remorse”. Tristan Shore menggunakan mesin-mesin metal untuk memainkan musik, sehingga bisa disebut industrial secara harfiah! Tak dapat dipungkiri, Author & Punisher adalah salah satu musisi jenius paling inovatif dalam dekade ini.

 

Claud

Claud Mintz adalah musisi baru favorit Phoebe Bridgers, dan tentunya kita tidak akan melewatkan Claude yang albumnya adalah rilisan pertama record label Phoebe, Saddest Factory. Untuk album pertama Claud yang berjudul Super Monster, Saddest Factory berkolaborasi dengan Dead Oceans Records (yang juga merilis album Punisher milik Phoebe). Pada awal tahun 2020, musisi 21 tahun ini memilih 13 lagu dari stok-stok lagunya (yang kabarnya mencapai 50 lagu) untuk dijadikan album Super Monster. Direkam di studio legendaris Electric Lady Studios dengan kolaborator dan teman-teman dekatnya: Clairo, Melanie Faye, Joshua Mehling sampai Jake Potrait dari Unknown Mortal Orchestra. Dengan debut album yang sangat bagus dan hampir tidak ada lagu jeleknya, Claud adalah Daniel Johnston untuk generasi sekarang. Segera simak Super Monster yang baru saja dirilis 12 Februari 2021 kemarin ini.

 


 

Freddie Gibbs

Siapa raja hip-hop setelah MF DOOM meninggal? Nas sudah tidak merilis album yang sekeren Illmatic, Q-Tip sudah tidak produktif dan Eminem sudah lewat masanya, Jadi siapa? Opini publik masih terbagi jika disodorkan nama-nama seperti Kendrick Lamar atau Tyler The Creator. Tetapi semua akan mengangguk setuju jika disodorkan nama Freddie Gibbs. Entah darimana, Gibbs tiba-tiba saja merilis 3 album yang esensial: Alfredo dengan The Alchemist, lalu Pinata (2014) dan Bandana (2019) dengan Madlib. Alfredo mendapat nominasi Best Rap album untuk Grammy Awards 2021 dan Bandana banyak menuai pujian dari skena hip-hop bawah tanah sampai mainstream rap. Sebagai MC, Gibbs terlihat nge-rap tanpa effort dan bisa menyesuaikan deliverynya dengan beats-beats nyentrik yang dibuat Madlib atau aransemen produksi The Alchemist yang rumit. Rhyming dan tema lirik-lirik Freddie yang gelap sangat cocok dengan teknik rappingnya yang seperti batas tipis antara hidup dan mati, secara harafiah, karena Freddie banyak menahan nafas sekaligus rhyming selicin mentega. Freddie Gibbs adalah kombinasi terbaik dari rapper-rapper legendaris seperti MF DOOM, Q-Tip dan Nas. Siapa raja hip-hop selalu menjadi topik yang penuh perdebatan, tapi untuk saat sekarang, Gibbs sepertinya layak untuk duduk di singgasana itu.

 


 

 
 
 
Words by Aldy Kusumah

FUCT sudah eksis pada tahun 1990, sebelum ada istilah “streetwear”. Nama FUCT adalah singkatan dari kata “Friends U Can’t Trust” dan juga permainan kata dari penyebutan yang mirip (homofon) dengan kata “FUCK”. Erik Brunetti membuat FUCT awalnya dengan Natas Kaupas, seorang skateboarde profesional, sehingga relasi brand ini dengan kultur skateboarding membuahkan penggemar-penggemar loyal dan menaruh FUCT diatas pedestal, menjadikannya sebuah brand dengan status cult. FUCT dikenal sebagai pionir streetwear bersamaan dengan brand-brand oldschool seperti Stüssy dan Hysteric Glamour, dan juga menjadi pendahulu sebelum Supreme, BAPE dan Obey. FUCT dikenal melalui image subversif anti-pemerintahan-nya. Design-design awalnya yang memparodikan logo terkenal dan film-film cult juga menjadi ciri khas, salah satunya adalah 2 artikel ikonik mereka: T-Shirt parodi poster film Jaws karya Steven Spielberg dan sebuah foto dari film Goodfellas milik Martin Scorsese. Kedua T-Shirt era ‘90an yang sudah tidak diproduksi tersebut terakhir dilelang di eBay dengan harga fantastis (kemudian di reissue dengan design yang sedikit berbeda). FUCT sudah mendevelop sebuah karakter yang mempersonifikasikan teen angst, rebellion dan anti-otoritas, tentunya dengan sentuhan style yang menarik. Sampai tulisan ini dibuat, brand ini tetap bersentuhan dengan kontroversi dan menjadi ikon kultur perlawanan Amerika.

 

 

Dikendalikan oleh visi-visi provokatif Erik Brunetti, FUCT telah menjadi salah satu label influensial, jauh sebelum brand-brand streetwear kontemporer menjadi sebuah trend. Brand ini juga telah berkolaborasi dengan perusahaan, seniman dan designer-designer ternama untuk visual sampai advertising-nya. Karena konsep matang Erik Brunetti, FUCT selalu menghasilkan output-output yang relevan, kreatif dan kontroversial. Keith Richards dari Rolling Stones, Dave Grohl, Ice Cube (N.W.A.) sampai Tom Araya dari Slayer terlihat sering
menggunakan pakaian dari brand ikonik ini. Leonardo DiCaprio terlihat menggunakan FUCT di film The Beach (2000), Trent Reznor juga banyak terlihat menggunakan apparel FUCT pada sesi-sesi rekamannya. Zack de la Rocha menggunakan T-Shirt FUCT di video klip Bullet in the Head (1992) milik Rage Against The Machine. Mereka juga sering bermain dengan logo-logo brand terkenal seperti Ford, sehingga banyak menimbulkan kontroversi seperti apa yang diceritakan Erik Brunetti di buku anniversary 20 tahun FUCT terbitan Rizzoli New York (yang juga menerbitkan buku Supreme, Carhartt, Beams, Hiroshi Fujiwara).

 

 

Pengaruh FUCT terhadap brand-brand lain juga sangat kuat. Ikonografi FUCT yang menggunakan elemen-elemen dari film sci-fi Planet of the Apes menjadi pengaruh langsung bagi logo brand Jepang A Bathing Ape / BAPE milik Nigo. Shepard Fairey mengaku brand OBEY miliknya mendapat banyak pengaruh dari bahasa dan design subversif yang digunakan FUCT. Kedua brand tersebut juga memiliki pengaruh kental dari budaya graffiti, dimana Shepard Fairey dan Erik Brunetti (DEN ONE) adalah seniman graffiti yang aktif dari tahun 1980an sebelum membuat brand. Kemenangan Erik Brunetti dalam kasus hak ciptanya pun berimbas baik kepada brand-brand lain dengan nama vulgar untuk bisa meng-hak patenkan namanya, seperti Fucking Awesome milik Jason Dill. Erik Brunetti juga membuat
label FUCT S.S.D.D. (Same Shit Different Day) yang merilis produk-produk FUCT secara eksklusif untuk market Jepang. Produk FUCT S.S.D.D. pun lebih high-end secara kualitas dan design dari produk FUCT basicnya.

 

 

Akhirnya usaha Brunetti untuk meregistrasi nama brandnya selama satu dekade ini membuahkan hasil. Pada tahun 2011, Brunetti mendaftarkan hak cipta nama brand FUCT karena banyaknya produk palsu dan bootleg FUCT yang beredar di internet. Pendaftaran trademark FUCT ditolak oleh  U.S. Patent and Trademark Office atas dasar nama “FUCT” yang berimplikasi skandal. Brunetti mencoba naik banding pada tahun 2017 dan proses pengadilan di Washington berpihak kepada Brunetti, tetapi kemudian kembali dipersulit administrasi Trump sampai prosesnya pun melibatkan U.S. Supreme Court (setara dengan Mahkamah agung di Indonesia). Pada tahun 2019, U.S. Supreme Court menghimbau kantor paten Amerika untuk tidak menolak registrasi trademark brand FUCT hanya dengan alasan “tidak bermoral” atau “berimplikasi skandal”. Erik Brunetti memenangkan kasus ini dengan menggunakan amandemen pertama konstitusi Amerika, salah satunya adalah “free speech”, yaitu bebasnya individu atau kelompok untuk berekspresi dan mengemukakan pendapat.

 

 
 
 
Words by Aldy Kusumah

Daft Punk merilis sebuah video berjudul “Epilogue” di channel Youtubenya pada tanggal 22 Februari 2021. Video tersebut menunjukkan robot silver (Thomas Bangalter) meledak dan robot emas (Guy-Manuel de Homem-Christo) berjalan meninggalkan ledakan. Scene tersebut diikuti oleh sebuah pesan bertuliskan “1993-2021”, yang dibuat oleh Warren Fu (yang juga membuat video-video Daft Punk lainnya seperti Get Lucky). Ya, Daft Punk telah bubar. Apakah ini pertanda bahwa Thomas sudah terlalu letih untuk meneruskan proyek Daft Punk dan Guy-Manuel masih ingin melanjutkannya ? We never know. Video singkat ini ternyata diambil dari sebuah adegan film Electroma (2006) mereka, ditambahkan sebuah snippet dari lagu “Touch” yang diambil dari album Random Access Memories (2013). Tak ada press release dan konser perpisahan, tapi setidaknya Daft Punk ingin memberikan sebuah ending dari perjalanan musik mereka kepada para penggemarnya.

 

 


 

 

Publicist mereka, Kathryn Frazier pun menkonfirmasi bubarnya Daft Punk tapi tidak memberikan alasannya. Berita bubarnya legenda duo electronic ini menaikkan penjualan diskografi Daft Punk baik itu fisik maupun digital. Pembelian album digitalnya saja naik 2,650 persen. Setelah 28 tahun bermusik, akhirnya Daft Punk menggantung helmnya. Helm-helm ini mulai dipakai duo Guy-Manuel dan Thomas Bangalter dari tahun 1999 dan menjadi ciri khas album Discovery (2001). Mereka selalu menggunakan helm ini untuk menjaga anonimitas dan memisahkan karya dengan kehidupan personal. Pakaian robot dan helm ini selalu mereka pakai untuk rekaman, manggung, photoshoot, meeting dan aktivitas-aktivitas lainnya yang melibatkan nama Daft Punk. Mereka ingin publik fokus terhadap musiknya dan hal ini yang membuat mereka berbeda dari musisi-musisi papan atas lainnya.

 

 

 

Daft Punk adalah sebuah duo musik elektronik yang berasal dari Perancis. Mereka memulai karirnya di skena rave underground dan gerakan French House pada akhir 1990. Dengan sukses mereka menggabungkan elemen-elemen terbaik dari techno, disco, 80’s AOR, indie rock, pop dan funk. Mereka mulai menggunakan moniker Daft Punk dan mulai menggunakan topeng-topeng untuk album debutnya Homework, yang dirilis Virgin Records di tahun 1997. Homework menelurkan single Around the World yang video klip legendarisnya disutradarai oleh sutradara eksentrik Michel Gondry (Eternal Sunshine of the Spotless Mind). Setelah menggunakan helm, pakaian dan sarung tangan robot khasnya, Daft Punk jarang sekali melakukan interview atau muncul di televisi. Persona robot yang mereka gunakan tampil lebih kental dengan instrumen talk box yang sering mereka gunakan dalam album-albumnya. Eksperimen mereka dengan drum machine dan synthesizers menghasilkan album-album sepeti Homework (1997), Discovery (2001), Human After All (2005) sampai album live mereka Alive (2007) yang memenangkan Grammy Awards untuk Best Electronic/Dance Album di Grammy Awards 2009. Mereka juga mengerjakan sebuah scoring untuk soundtrack sekuel film Tron, yaitu Tron: Legacy, yang menurut kami adalah salah satu karya terbaik Daft Punk.
 

 

 

Salah satu karya paling ikonik mereka adalah film anime berjudul Interstella 5555: The 5tory of the 5ecret 5tar 5ystem (2003) yang disutradarai oleh Kazuhisa Takenouchi dan diproduksi Toei Animation. Ditulis oleh Thomas Bangalter dan Guy-Manuel, Interstella adalah sebuah jembatan atara musik, sci-fi dan anime. Selain menjadi visual companion untuk album Discovery, film tanpa dialog (dan sound effect minimalis) ini juga menjadi video musik bagi single-single seperti One More Time, Something About Us, Harder Better Faster Stronger dan Digital Love. Pada tahun 2013, Daft Punk meninggalkan Virgin Records untuk bergabung dengan Columbia Records untuk album keempatnya, Random Access Memories (2013). Dengan single-single seperti Get Lucky (featuring Pharrell Williams), Instant Crush (featuring Julian Casablanca), Doin’ It Right (featuring Panda Bear) dan Giorgio by Moroder, album ini meraih penghargaan Album of the Year pada ajang Grammy Awards 2014. Penampilan mereka di Grammy dengan Stevie Wonder, Pharrell Williams dan drummer Jazz Omar Hakim banyak dipuji, sampai Paul McCartney saja berdiri untuk bertepuk tangan. Sampai sekarang Daft Punk dianggap sebagai salah satu grup musik influensial paling berpengaruh dalam sejarah musik dance. So long legends.

 

 

 


 

Words by Aldy Kusumah

Title Fight adalah band post-hardcore dari Kingston, Pennsylvania yang mulai aktif di skena sejak 2003. Selain terdengar seperti band hardcore-punk pada album debutnya Shed (2011) yang diproduseri oleh Walter Schreifels (Quicksand, Gorilla Biscuits, Youth of Today), Title Fight mulai memasukkan unsur melodic post-hardcore dan elemen-elemen shoegaze pada album sophomorenya yang fantastis, Floral Green (2011). Album kedua ini juga diproduseri dengan baik oleh Will Yip (Nothing, Turnover, Balance & Composure). Setelah merilis Hyperview (2015) yang lebih melodius dari Floral Green, sepertinya band ini menghilang ditelan bumi begitu saja tanpa ada klarifikasi. We missed Title Fight because they’re unique. Coba saja track “Rose of Sharon” dengan gitar flangernya yang twangy, atau “Head in the Ceiling Fan” dengan nuansa dreamy ala Smashing Pumpkins era Siamese Dream. Lagu terbaik mereka bagi kami tetaplah track pembuka Floral Green yang berjudul “Numb, But i Still Feel it” dan single album Hyperview bejudul “Chlorine”, yang dipenuhi dengan gitar chorus basahnya.

 

 

Walaupun sangat underrated, dengan gampangnya Title Fight bisa menjadi band  favorit penggemar musik rock pada umumnya, karena Ned Russin (bass, vocals), Jamie Rhoden (guitar, vocals), Shane Moran (guitar) dan Ben Russin (drums) berhasil menggabungkan elemen-elemen terbaik dari beberapa genre. Post-hardcore, hardcore punk, melodic hardcore, emo, shoegaze sampai post-rock bisa mereka ramu menjadi musik ciri khas Title Fight. Album Hyperview dan Floral Green bahkan dibilang sebagai “shoegazi”, perpaduan antara Fugazi dan My Bloody Valentine. Ned Russin selalu lebih tertarik kepada sesuatu yang lebih melodius dan pelan. Album Hyperview dipenuhi dengan sound gitar fuzz yang dreamy, clean chorus dan feedback ala euforia musik alt-rock ’90an. Bayangkan saja Jawbreaker dan Shudder to Think yang bertemu Slowdive. Tetapi jangan salah, Title Fight tetap agresif. Penonton akan stagedive tanpa henti karena influence musik keras dan cepat dari Gorilla Biscuits, Kid Dynamite atau Lifetime tetap terpatri di rhythm section mereka, yang didominasi oleh kakak beradik Ned dan Ben Russin.

 


 

Para anggota Title Fight sebelumnya aktif bermain dalam band-band hardcore kota Wilkes-Barre, Pennsylvania. Bad Seed beranggotakan Shane (vokal), Ned (bass) dan Jamie (gitar). Bad Seed sudah aktif merilis demo sejak 2008 dan merilis EP pada tahun 2009, lalu bermain di festival hardcore seperti Sound and Fury dan This is Hardcore Fest sebelum bubar pada tahun 2010. Shane, Ned dan Ben juga membuat band straight edge bernama Disengage yang merilis EP Lookback yang berisikan 7 lagu dan sebuah album penuh berjudul Expressions pada tahun 2011. Tidak cukup disitu, output kreatif Ned juga ditumpahkan di band straight edge obscure bernama Stick Together, Big Contest dan juga band NYHC bernama Liberty. Rupanya sound shoegazing Title Fight dibawa Ned dari proyek shoegaze indie-rocknya yang bernama Noise Pet. Ned Russin sekarang disibukkan juga dengan proyek solonya Gliterrer (yang juga dibantu Ben Russin) yang berbasis di New York, tempat Ned meneruskan pendidikannya sekarang.

 


 

Title Fight adalah band live yang enerjik, dan vibe itu membuat para penonton TF jungkir balik tanpa henti seolah berada di pertemuan gimnastik. Sejak Hyperview dirilis pada 3 Februari 2015, mereka hanya melakukan beberapa showcase saja di kota asal mereka. Diikuti oleh beberapa gigs seperti festival South By So What? dan beberepa showcase SXSW. Di bulan Maret mereka melakukan tur Amerika dengan Power Trip dan Merchandise, lalu sebuah tur Amerika-Kanada bersama La Dispute dan The Hotelier dari akhir Maret sampai April. Sebuah tur Inggris dan Eropa bersama Cold World, Drug Church dan Milk Teeth pada bulan Mei dan sebuah tur Australia bersama Paper Arms di bulan Juni-Juli. Di bulan Agustus, mereka sempat bermain di Wrecking Ball Fest, FYF Fest dan beberapa gigs random bersama Basement. Pada tahun 2016 mereka sepertinya lelah dan beristirahat, setelah cukup intens touring pada tahun 2015. Mereka sempat menjadi opening show terakhirnya BANE pada 17 dan 18 Juni. Tahun 2016 diakhiri dengan sebuah show dimana mereka berbagi panggung dengan Citizen di Toledo, Ohio. Pada tahun 2017 mereka sempat bermain dalam beberapa gigs kecil bersama Cloakroom, The Hotelier dan Petal.

 


 

Dalam Sebuah wawancara saat Title Fight bermain di Toronto, Kanada, Ned berkata “We we’re always writing new music. We have no definite plans.”.

 

 

2 tahun sejak Hyperview dirilis, mereka sempat mengisi panggung Outbreak Fest di Inggris. Pada akhir set mereka, sebelum lagu terakhir dimainkan Ned berbicara kepada penonton “If this is it, it’s been a wild and beautiful ride. Thank you so much. We’re Title Fight, see you on the other side.”.

 

 

Apakah ini sebuah pertanda kalau Title Fight akan bubar ? 2017 adalah tahun yang buruk bari para penggemar Title Fight yang ingin menyaksikan live-perform mereka atau menunggu rilisan berikutnya. Tidak ada pernyataan resmi dari band maupun para personilnya, Title Fight menghilang begitu saja. Akun-akun social media Title Fight di Instagram, Twitter dan Facebook tidak aktif. Hanya terlihat beberapa update mengenai penjualan merchandise dan event benefit fundraising saja. Pada bulan Agustus Ned merilis sebuah EP untuk proyek solonya yang bernama Glitterer, berisi lagu-lagu indie-pop yang penuh dengan keyboard dan efek reverb, jauh dari teritori musik Title Fight. Sebuah kejutan di tahun 2018 dimana Title Fight memainkan satu show bersama Turnstile di New York untuk sebuah acara benefit. Show ini adalah akhir dari penampilan live Title Fight sampai sekarang artikel ini ditulis.

 

 

Apa yang dilakukan Ned, Ben, Jamie dan Shane jika Title Fight sedang “vakum”? Ned merilis full album “Not Glitterer” dan melakukan beberapa showcase dengan Fiddlehead. Sementara itu Shane sibuk membuat beberapa design untuk materi promo dan merchandise beberapa band. Shane juga mengerjakan design untuk beberapa brand fashion menggunakan nama Poison Thorn dan Happy House. Ben disibukkan oleh tugasnya sebagai road manager beberapa band yang berbeda, termasuk Citizen. Jamie bermain dalam sebuah band shoegaze punk bernama Haze.

 


 

Dalam sebuah interview untuk podcast Creature Culture, Ned berbicara secara spesifik tentang Title Fight. Menurutnya, band ini bukanlah sebuah komitmen seumur hidup yang harus dia jalani. Dengan adanya kewajiban untuk membayar kontrakan, asuransi dan kesibukkan akedemisnya. Ned berbicara kalau dia tidak bisa melakukan tour panjang lagi secara full-time. Pada akhir wawancara Ned berbicara kalau semuanya lebih gampang dilakukan ketika muda, tetapi Ned juga tidak menutup kemungkinan kalau Title Fight akan aktif lagi pada suatu waktu. “It’s not something that I think has to exist forever. Which, I dunno, is a complicated thing to come to terms with. But I think it’s important to be honest about, especially with yourself.”. Menurut sebuah sumber di Reddit yang berbicara dengan Nick dari Drug Church, Title Fight akan melakukan sesuatu lagi, hanya saja mereka hiatus karena Ned dan Jamie meneruskan pendidikannya di sebuah Universitas di New York. Menurut Nick, Title Fight dipastikan belum bubar. Setiap post di Instagram maupun Twitter Title Fight dipenuhi oleh komentar-komentar para fans yang berharap agar mereka kembali ke panggung dan merilis sesuatu yang baru. Semoga mereka kembali dan berkarya secepatnya. Untuk sementara, nikmati playlist lagu-lagu Title Fight favorit kami di tautan berikut.

 

Title Fight – Hyperview (2015)


 
 
 
Words by Aldy Kusumah