FRIGHT FEST: Our 10 favorite Halloween Horror films

 

 

1. HALLOWEEN III: SEASON OF THE WITCH (1982) – DIR. TOMMY LEE WALLACE

 

Ini adalah satu-satunya film Halloween tanpa the almighty Michael Myers! Dari semua series Halloween, film ketiga ini adalah yang paling berbeda. Tanpa kehadiran serial killer Michael Myers, justru film ini adalah film terbaik dari 8 film Halloween lainnya (Halloween 1 tidak terhitung, itu MASTERPIECE).

 


 

2. THEY LIVE (1988) – JOHN CARPENTER

 

FIlm ini merupakan salah satu major influence Shepard Fairey’s untuk membuat brand OBEY Giant. Ketika alien membombardir populasi dengan pesan-pesan subliminal seperti: “OBEY”, “stay asleep”, “no imagination”, “submit to authority”, seorang pengangguran bernama John Nada (yang dimainkan dengan brilian oleh pegulat Roddy Piper) akan menyelamatkan dunia ini…

 


3. DEMONS (1985 ) – DIR. LAMBERTO BAVA

 

Sebagai seorang anak dari legenda yang memperkenalkan genre Giallo kedunia, Lamberto Bava punya tanggung jawab besar untuk membuat film ini menjadi masterpiece (ditambah lagi posisi produser pun di duduki oleh seorang Dario Argento). Dan voila, Bava berhasil menghasilkan setting yang awesome: Bava membuat film horror di dalam film horror itu sendiri. Komposisi jenius antara samurai, tough guy, dan motor trail. Juga sekumpulan anak punks dan cocaine. FUN!

 


 

4. THE WIZARD OF GORE (1970) – DIR. HERSCHELL GORDON LEWIS

 

Sebuah film eksploitasi Splatter / Gorno kelas-B yang di-shoot dengan budjet minimal tetapi memperlihatkan efek gore yang maksimal. Montag the Magician adalah seorang pesulap dengan trik-trik “ajaib” seperti membelah badan menggunakan gergaji mesin, membor badan seseorang sampai menyuruh seseorang menelan pedang. Totally delicious gory fun!

 

 


5. EVIL DEAD (1981) – DIR. SAM RAIMI

 

Siapa yang bisa menyangka sutradara papan atas Hollywood sekelas Sam Raimi, yang telah mencetak uang dengan mega-blockbuster hit seperti trilogi Spiderman dulunya adalah pembuat film horor kelas B? Why are you even reading this article if you haven’t see this masterpiece? Walaupun hanya diperankan oleh 5 orang saja, sulit rasanya untuk tidak mencintai film ini.

 


6. BRAINDEAD (1992) – DIR. PETER JACKSON

 

Halloween macam apa tanpa zombie? Jika sutradara Lord of the Rings membuat film zombie, inilah yang akan kalian dapatkan: Sebuah splatterhouse berjudul Braindead! Tonton yang satu ini, i’ll promise you lots of huge, enjoyable FUN!

 


7. SUSPIRIA (1977) – DIR. DARIO ARGENTO

 

No doubt, one of the best horror film i ever saw, period. Lupakanlah remake arthouse-nya yang pretensius. Soundtrack dan score dari Goblin tentu saja jauh lebih baik dari Thom Yorke. Salah satu karya monumental Argento, dengan scoring musik yang canggih, visual yang lush dan sampai detik ini tulisan dibuat, masih menjadi blueprint untuk film-film horror kontemporer, Suspiria tetap stand out sebagai salah satu film terseram sepanjang masa.

 


8. GHOSTBUSTERS 2 (1989) – DIR. IVAN REITMAN / BLADE 2 (2002) – DIR. GUILLERMO DEL TORO

 

Keduanya adalah sekuel yang underrated. Ghosbusters 2 memang tidak selucu yang pertama, tetapi dengan tone yang lebih gelap, this one really nails the balance between horror & comedy. Jika membicarakan Blade, hanya Blade 2 saja yang layak tonton. Wesley Snipes dilahirkan untuk memerankan Blade, tetapi dengan direction dari Guillermo, film ini adalah sebuah masterpiece yang terlewatkan oleh banyak orang. Pick one of these films, both are great, both are fun.

 


9. ROCKY HORROR PICTURE SHOW (1975) – DIR. JIM SHARMAN

 

Film musikal ini adalah salah satu film yang mendefinisikan fashion punk 1970an, dan menjadi salah satu film favorit anggota The Cramps dan The Misfits. Tim Curry dengan brilian memainkan  Dr. Frank-N-Furter, seorang “sweet transvestite from Transsexual, Transylvania”.

10. SILENCE OF THE LAMBS (1991) – DIR. JONATHAN DEMME

 

Tadinya saya akan merekomendasikan Cannibal Ferox  (1981) atau Cannibal Holocaust (1980), cause Halloween isn’t fun without cannibalism. But since those films are way too depressing, Silence of the Lambs adalah jawaban nya! Siapa sangka film mengenai kanibalisme dan serial killer yang hobi menguliti korban-korbannya bisa memenangkan 5 piala Oscar di tahun 1995.  Sebuah tontonan yang fun and scary as shit at the same time. One of my favorite films of all-time. Nikmatilah film ini dengan Fava Beans dan segelas Chianti. Preciouusss!!!

 

Words and curated by ALDY KUSUMAH

Apa persamaan eye-candy yang kalian lihat di James Bond Skyfall (2012) atau 1917 (2019)? Yep, those visuals are Roger Deakins’s trademark. Di tangan Roger Deakins, seorang Director of Photography (D.O.P.) dan sinematografer handal kelas Oscar; lanskap salju seperti di film Fargo (1996) atau gurun kosong di No Country For Old Men (2007) bisa terlihat indah. Dia mulai mencuri perhatian cinema afficionado pada saat film The Shawshank Redemption (1994) dipuji kritikus. Setelah itu Deakins banyak berkolaborasi dengan Coen Brothers (Big Lebowski, Fargo, No Country For Old Men) dan akhir-akhir ini berpartner dengan Sam Mendes dalam Skyfall (2012) dan 1917 (yang meraih Oscar best cinematography di Academy Awards 2019).

 

 

Sebagai D.O.P., Deakins terlihat dapat memainkan beberapa style. Beberapa genre film pun dia tangani dengan baik: Dari film western, drama perang ber-skala epic sampai cyberpunk, Deakins has done it all and bring you all the visual eye-candy to the screen. Memainkan kontras yang tajam, long-takes yang penuh persiapan seperti di 1917 (2019) sampai detail-detail lanskap minimalis  di O Brother, Where Art Thou? (2000).

 

 

Beberapa aktor bahkan tertarik untuk bermain dalam film-film tertentu karena ada Roger Deakins sebagai sinematografernya. Ryan Gosling tertarik bermain di Blade Runner 2049 setelah mengetahui sinematografernya adalah Deakins, dan Josh Brolin pun menyetujui bergabung di Sicario (2015) setelah mengetahui ada keterlibatan Roger Deakins. 

 


 


 

“I’ve always painted or drawn pictures or taken still photographs; now I shoot movies. It’s just about making images, really.” -Roger Deakins

Sampai sekarang, dia hanya mempercayai satu operator kamera: Dirinya sendiri.

 

By Aldy Kusumah

“That’s the best part of this whole thing. There is no definitive plan or end game. We’re just going to keep rocking…” -Teddy Santis

Walau banyak yang menyangka Aimé Leon Dore adalah brand Perancis, ternyata Brand yang sedang hangat ini berasal dari Queens, New York. Dibuat oleh Teddy Santis, seorang anak imigran Yunani yang dilahirkan dan dibesarkan di Queens, New York, Aimé Leon Dore (ALD) disebut-sebut berbagai media sebagai salah satu brand yang original dari Amerika untuk saat ini. Dengan ke khas-an ala New York streetwear dan juga sensibilitas luxury brand-brand Eropa,  eksplorasi ALD berhasil meng-elevate streetwear ke level baru yang lebih sophisticated tanpa meninggalkan ciri khas urban dan semangat independen-nya.



Dengan meng-combine berbagai elemen nostalgia dan kontemporer, ALD mampu mencapai level kemewahan dengan effort yang cukup minimalis. Hal ini jarang terlihat dari designer-designer independen kebanyakan saat ini. Mungkin hanya beberapa brand streetwear saja yang mampu melakukan ini: A.P.C (Paris), Aries Arise (London) dan Noah (NYC). Untuk menjaga hubungan personal yang dekat dengan pelanggan, filosofi inti ALD adalah authenticity, dan selalu ingin menceritakan heritage Queens NYC melalui garmen-garmen dan artikel-artikelnya.



Menurut Teddy Santis, dia bertumbuh besar dengan ter-influence berbagai pengaruh seperti: graffiti, basket, hip hop dan house music. Hal-hal itu saling berkomplimen dengan fashion dan saling memberi pengaruh. Identitas, kejujuran dan nostalgia rupanya berperan penting untuk brand ini, chic and effortless. Terbukti dari kolaborasinya dengan Woolrich, Suicoke, Timberland, New Balance, New Era, Drake’s dan Porsche, brand ini sangat layak diperhitungkan, apalagi brand ini baru berdiri tahun 2014!




By Aldy Kusumah